Aku nggak bisa tidur selama sisa tiga jam di pesawat. Fred juga nggak tidur. Aku memerhatikan dia yang masih sibuk bekerja di mejanya.
Suara pintu dalam pesawat diketuk. Boni masuk membisikkan sesuatu pada Fred. Aku nggak tahan untuk nggak menegurnya, "Boni, kamu nggak ngajak cewekmu?"
Dia hanya menarik kedua sudut bibirnya ke bawah, "aku tidak punya waktu luang untuk itu, Bella."
"Masa?"
"Ya, aku terlalu sibuk mengurus pacarmu yang suka uring-uringan." jawabnya lagi.
Fred berdecak kesal, "kalau yang kau maksud itu aku. Aku membayar dengan harga yang pantas, Boni. Jangan banyak protes seperti wanita."
Reflek aku menyambar kata-kata Fred, "loh maksud kamu, aku banyak protes?"
Dia nyengir, "bukan kamu sweet heart."
Setelah itu, Boni terlihat menerima telepon dari seseorang. "Dia sudah sampai."katanya lagi pada Fred.
"Kita segera bersiap, Bella. Paman Burhan sudah menjemput kita."
Aku mencoba mengingat kembali siapa itu paman Burhan.
Cuaca di Mumbai cukup dingin. Karena kami datang pada musim dingin. Semua orang di bandara banyak mengenakan jaket karena dingin. Fred melepaskan jaket hitamnya dan memakaikan jaket itu padaku, setelah aku beberapa kali mengeluh kedinginan.
Aku berjalan di koridor menuju lobi utama bandara. Jalanku begitu cepat hingga Fred protes, karena aku meninggalkannya.
"Bella!" Seseorang yang sangat kukenal memanggil setengah berteriak.
"Fatma!" aku memeluknya begitu dia datang menghampiri.
Gadis bermata cokelat dengan kulit eksotis itu nggak bisa berhenti tersenyum waktu melihatku dan rombongan lainnya datang.
"Bella. Kenalkan, ini paman Burhan. Dia adik ibuku." Bisiknya.
Aku tersenyum dan segera bersalaman dengannya. Fred dan yang lain juga saling bersalaman.
Fatma dan paman Burhan segera mengajak kami semua masuk ke dalam dua limosin yang sudah berhenti di lobi.
Tiba-tiba tante Sania menahan tanganku, "Bella. Itu siapa? Cakep amat!" Serunya yang bikin aku nggak enak hati punya tante kayak ulet begini. Genit banget!
"Itu namanya paman Burhan."jawabku setengah berbisik dekat telinganya.
Tante Sania terlihat lebih bersemangat mengekor aku dan Fred karena melihat Fred berbicara akrab dengan paman Burhan.
Aku mencoba ngobrol dengan Burhan. "Paman, tinggal di mana? Sudah berkeluarga?"
Dia tersenyum dengan gigi putih yang rapi. Jenggotnya masih berwarna hitam menutupi pipi dan dagunya. Senyumnya begitu ramah. Matanya selalu berbinar ketika tersenyum.
"Aku sudah sendiri, Bella. Istriku meninggal dalam kecelakaan pesawat tiga tahun lalu." jawabnya ramah.
Kasihan!
Aku pikir dia sudah berdamai dengan keadaan, sehingga menceritakan hal sesedih itu dengan begitu ringan.
"Aku turut berduka, Paman."kataku lagi sebagai tanda bersimpati.
Dia menoleh padaku dan Fred, "aku harap kalian berbahagia setelah menikah nantinya. Saling menjaga satu sama lain."
"Tentu saja, Paman."jawab Fred sambil menyentuh lengannya.
Kemudian dia memerhatikanku lagi, seperti mengingat seseorang. "Aku ingat bagaimana cantiknya Alya, waktu mengenakan busana India saat menikah."
Aku tersenyum malu, "ah ... Paman. Jangan berlebihan."kataku dengan pipi merona.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Addiction
General FictionWARNING 21+ Arabella seorang mahasiswi cantik yang agak tomboy. Dijebak dalam situasi sulit oleh pengusaha tampan, yang ingin menitipkan benih pada rahimnya. Tanpa pernah bertemu, tanpa pernah kenal, pria itu mengharuskannya hamil dan memaksanya men...
