Armada-Awas jatuh cinta
5. Senin
"Dar, serius deh ya, gue tuh kayaknya makin glowing banget akhir-akhir ini. Pantes aja Raga nggak bisa lepas dari gue," ujar Aca sambil memamerkan pose terbaiknya di depan kamera ponsel.
Cahaya pagi yang masuk dari jendela kelas seolah membenarkan ucapannya.
Jeha yang sedang membereskan buku di mejanya langsung menimpali, "Itu mah karena pelet lo kuat banget, Ca." Nada bicaranya penuh canda, tapi matanya berbinar menggoda.
Aca mendengus pura-pura kesal. "Ih, Je, jangan gitu ah. Fitnah itu nggak baik tahu!" bibirnya mengerucut lucu.
"Iya, iya, ampun, Nyai Pelet," balas Jeha sambil terkekeh geli.
Dengan anggun, Aca menyibakkan rambutnya ke belakang bahu. "Makanya kayak gue nih, tiap hari ada aja yang perhatian. Nggak kayak lo, Je, udah jomblo ngenes lagi."
Jeha mendongak, tak terima. "Siapa bilang gue ngenes? WhatsApp gue tuh nggak pernah sepi, Ca. Banyak kok yang nge-chat. Cuma gue lagi nggak mau pacaran aja," sahutnya santai, berusaha menyembunyikan sedikit pun rasa terusik.
"Banyak chat tapi ujung-ujungnya ghosting, Kasihan banget," cibir Aca, tak mau kalah.
"Mulut lo lama-lama gue sambelin ya, Ca," balas Jeha, mulai terusik.
Tepat saat itu, Dara melangkah masuk ke dalam kelas. Mendengar namanya disebut, ia langsung menyela percakapan keduanya. "Oh, jadi yang kemarin-kemarin deket sama Reyhan itu cuma kena ghosting, ya? Pantesan nggak jadi-jadi."
Wajah Jeha langsung menekuk. "Dara, kok kamu juga ikut-ikutan ngejek sih!" protesnya.
Aca tertawa terbahak-bahak, menikmati 'penderitaan' sahabatnya. "Hahaha, kena deh lo, Ja!"
Tiba-tiba, suara dari pengeras suara sekolah memecah keriuhan pagi itu.
"Selamat pagi, anak-anak. Dimohon seluruh murid Aritmatika untuk segera menuju ke lapangan karena upacara akan segera dimulai! Terima kasih!"
Mata Aca langsung berbinar-binar. "Oh my God, Raga jadi pemimpin upacara! Cepetan ah, gue mau lihat dia!" serunya heboh, sudah beranjak dari duduknya.
Jeha memutar bola matanya malas. "Alay banget sih lo, Ca."
"Biarin! Iri bilang bos," balas Aca sambil menyengir lebar. "Eh, Je, lihat tuh, pengibar bendera ganteng banget. Itu kan Devan, mirip Levin mantannya si Dara nggak sih?"
Dara yang baru saja meletakkan tasnya di meja langsung menoleh, alisnya bertaut. "Kenapa sih bawa-bawa mantan gue?" tanyanya dengan nada sedikit kesal.
Aca dan Jeha saling pandang, lalu tertawa bersama. "Aciee, mbaknya langsung sensi," goda Jeha.
"Iya, iya. Gemes banget sih lo, Dar," sambung Aca sambil mencolek lengan Dara.
"Terserah lo pada deh," jawab Dara ketus, memilih untuk tidak meladeni.
"Ayok, buruan ke lapangan! Nanti keburu upacaranya mulai," ajak Aca sambil menarik-narik lengan Dara.
KAMU SEDANG MEMBACA
PLAYBOY CLASSMATE
Fiksi RemajaDara, gadis berhati keras, terjebak dalam permainan cinta yang dirancang oleh Biru, si playboy kelas kakap. Semakin dalam Dara terlibat, semakin sulit baginya untuk membedakan antara cinta sejati dan sandiwara. Akankah Dara mampu keluar dari jebakan...
