Gerimis mengiringi perasaan hati James hari ini. Tepat hari ini, di sebuah gereja yang terletak di kota Bandung James dan Anne akan mengadakan pemberkatan untuk pernikahan mereka. James belum melihat Anne kembali sejak kejadian Anne collapse seminggu yang lalu. Bagaimana keadaannya setelah itu dan suasana hatinya sejak James melakukan sesuatu yang memunculkan kembali traumanya di masa lalu. James meminta Hans untuk mengawasi perempuan itu tapi ternyata berakhir nihil. Anne tidak pernah keluar dari rumahnya sejak seminggu yang lalu. James mendengar kabar dari para orang tua bahwa mereka melakukan ritual konyol semacam pingitan yang mengharuskan calon pengantin wanita tidak keluar dari rumah atau bertemu dengan calon suaminya sebelum pemberkatan dilangsungkan. Benar-benar kolot !. Kenneth sempat mengabari James bahwa Rossie datang mengunjungi Anne setelah kejadian itu dan mendapati kabar bahwa Anne lebih banyak diam dan menghabiskan waktunya di dapur. Memasak untuk mengalihkan segala hal yang dirasakannya. Hal itu meninggalkan rasa sesal dalam diri James mengingat ia yang membuka luka lama Anne muncul kembali. Tapi setidaknya James masih cukup bersyukur mendapati bahwa Anne masih melakukan kegiatannya seperti biasa.
Lonceng gereja berbunyi sekali lagi. James sudah berdiri dengan tegapnya di altar berdampingan dengan seorang pendeta yang akan menyatukan janjinya dengan Anne hari ini. Sahabat dan kerabat dekat yang hadir di gereja tersebut hanya orang-orang terdekat mereka saat ini. Bahkan James baru mengundang ketiga sahabatnya saja mengingat ini permintaan dari Anne. Ia ingin menikah dengan sakral di gereja yang menjadi impiannya sejak kecil untuk menikah. James baru mengetahui dari Aunty Anyelir bahwa Anne tumbuh besar di kota Bandung sebelum melanjutkan studinya di Ausie kala itu.
Seorang perempuan berbalut gaun putih panjang, dengan wajah yang cemas berjalan memasuki gereja. Disebelahnya berdiri Uncle Anthony yang tampak gagah mengenakan setelan tuksedonya yang hampir senada dengan yang dikenakan James. Ulah para ibu dalam keluarga yang terlalu match dalam urusan fashion. James menangkap wajah cemas Anne, meski wajahnya tertutup James mampu melihat dengan jelas kecemasan di wajah Anne. Mungkinkah dia cemas jika pada akhirnya menikah dengan pria yang tanpa sengaja justru membuka luka lamanya kembali ? Atau cemas karena sadar akan ada luka baru yang ditorehkan ?.
"Dia anak perempuanku satu-satunya Jamie. Hari ini, Uncle akan menyerahkannya padamu dengan penuh keikhlasan. Berharap bahwa tugas untuk melindungi, menyayangi, dan menjaganya akan menjadi tanggung jawab yang akan kamu lakukan dengan baik. Darahnya mengalir deras dalam tubuh Uncle, jika dia merasa senang, sedih Uncle jelas akan sangat merasakannya. Jaga dia seperti Uncle mempertaruhkan segala hal yang Uncle miliki di dunia ini untuknya, berjanjilah untuk selalu membuatnya tersenyum dan bahagia" pria tua itu mengucapkan kalimat perpisahannya dengan Anne dengan sangat jelas. Bahkan sudut kedua matanya sudah mengeluarkan air mata seolah ini menjadi kehilangan terberatnya. James menerima tangan Anne yang kemudian diletakan oleh Uncle Anthony di telapak tangannya. Dingin. Telapak tangan Anne kedinginan. James membawa Anne berjalan bersama, menggenggam erat tangan mungil itu menuju altar. Tempat mereka akan mengucapkan janji bersama. Semua yang hadir merasa tertegun dan haru mulai melingkupi suasana sekitar gereja. Pendeta yang telah bersiap meminta mereka mengucapkan janji pernikahan di hadapan Tuhan saat ini dengan penuh keyakinan.
"Annelise Rosalie Winathan, aku berjanji di hadapanmu, dihadapan Tuhan untuk menjalani pernikahan ini dengan baik. Menjagamu dan mengasihimu sebagai janji yang akan aku tepati dihadapan Ayahmu dan Tuhan kita. Memberimu kehidupan baru yang akan kita lalui hingga tua nanti" James mengucapkan kalimatnya dengan lugas. Seolah menjawab segala hal yang sebelumnya diucapkan Uncle Anthony saat menyerahkan Anne padanya. Tangan Anne bergetar. Tiba pada saatnya ia mengucapkan janjinya di hadapan Tuhan. Wajahnya terangkat menatap manik abu-abu milik James dengan teduh. Perempuan itu nampak cantik dan sendu pada saat yang bersamaan.
"James Christian Kyle.. aku berdiri hari ini di hadapanmu, di hadapan Tuhan karena aku percaya bahwa kamulah pria yang dikirim Tuhan untuk melengkapi dan melanjutkan hidupku kelak. Bukan karena masa lalumu, bukan karena masa laluku, tapi aku berharap bahwa kita bisa sama-sama berusaha menorehkan hal baik di masa depan. Aku berjanji untuk selalu ada, bersamamu dalam keadaan senang dan bahkan keadaan terburukmu, menjagamu dan merawatmu dalam suka dan duka, mencintaimu sepenuh hati dan jiwaku, mematuhi kebaikanmu dengan segala upaya yang aku milikki" Anne mengucapkan akhir kalimatnya dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya. Suaranya nyaris bergetar di akhir kalimatnya tersebut. James menatap manik kecoklatan miliki Anne, melihat betapa dalam dan jujur janji yang diucapkan Anne di hadapannya. Ritual pengucapan janji itu berakhir dengan ucapan dari pendeta yang mengatakan bahwa mereka telah resmi dinyatakan sebagai suami dan istri. James diminta mencium Anne sebagai tanda bahwa perempuan itu telah resmi menjadi miliknya, seutuhnya. Ragu tapi pasti James mencium Anne dengan pelan di bagian bibirnya. Sudut mata Anne tampak cemas namun terkesan pasif. Menerima segala hal yang terjadi dengan ikhlas. Aroma mint dan strawberry tercium jelas oleh James saat ini. Wangi yang mulai terbiasa dihirupnya dan nampak tidak terlalu buruk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gift Love (COMPLETE)
Romantizmmencintai atau dicintai ? mana yang akan jadi pilihan paling tepat dalam hidup ? jika mencintai adalah sebuah keinginan, maka dicintai bukankah sebuah kesediaan ? Adalah Annelise Rosalie Winathan menghabiskan sebagian hidup untuk bertaruh antara pil...
