Lagi..
Setelah kegiatan panas yang dilakukan Anne dan James, mereka kini bersiap menuju panti asuhan seperti yang sejak awal dikatakan James.
Membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan segera nyatanya membutuhkan waktu lebih lama bagi Anne, selain karena memang cukup lelah, perempuan itu membutuhkan sedikit waktu di kamar mandinya untuk merefleksikan dirinya, berendam.
James yang faham betul bagaimana kondisi Anne saat ini memilih memberikan waktu kepada perempuan itu. Setelah membersihkan diri, James memilih menunggu Anne sambil menyiapkan kendaraannya sendiri. Hari ini ia berniat akan menyetir tanpa bantuan Hans.
Setengah jam berselang saat James beranjak dari dapur untuk mengambil segelas minuman dingin, Anne akhirnya turun dari kamarnya dan berpapasan dengannya di tangga.
Berusaha menyembunyikan rona merah di kedua pipinya, Anne tersenyum memandang James yang kini menunggunya agar bisa bersama-sama melangkah ke mobil mereka.
"Berapa lama perjalanan kita menuju ke panti" Anne bertanya setelah memasang seatbeltnya dengan santai.
"Hanya setengah jam. Lokasinya tidak terlalu jauh dari sini dan karena ini sabtu, aku fikir kita tidak akan mengalami kemacetan seperti biasanya" James menjawab sambil menjalankan mobilnya, meninggalkan mansion mereka menuju ke panti asuhan tersebut.
"Kamu mendirikan panti ini sudah lama ?" Anne bertanya lagi. Tampak sekali perempuan ini berusaha mencari tahu informasi lebih banyak. Baginya, cukup mencengangkan saja jika ternyata pria sedingin James bisa menyukai dan melakukan hal-hal berbau sosial seperti ini.
James tersenyum mendengar pertanyaan Anne.
"Bukan hanya aku. Ada tiga pria bodoh lain yang ikut mengambil peran. Aku hanya menyediakan tempat. Dulu, aku berniat menghadiahkan rumah yang kini dijadikan panti untuk adikku Vivian jika ia menikah. Setelah ia tidak ada, aku tidak bisa menawarkan hal yang sama kepada Vanesha karena mereka sangat berbeda. Dan lagi Vanesha tidak akan tahan menjadi perempuan yang tinggal diam mengurus suaminya di rumah"
"Vivian sepertinya perempuan yang sangat baik, dia beruntung memiliki seorang kakak yang begitu peduli padanya" Anne menjawab sambil menggenggam erat telapak tangan James.
Memberi pria itu penguatan atas apa yang sudah terjadi. Setiap kali James menyinggung soal Vivian, Anne dapat melihat dengan jelas bahwa pria itu berusaha bersikap setenang mungkin. Yaa berusaha, karena sebenarnya pria itu hanya terlihat untuk lebih tenang dan kuat. Anne tahu jelas bahwa pria dingin ini begitu mencintai keluarganya. Dan kehilangan adalah hal paling pedih yang tentu dirasakannya.
"Apa yang lain sudah sampai ?" Anne bertanya untuk mengalihkan perhatian James dari perbincangan singkat mereka soal Vivian.
"Untuk hal seperti ini, hanya Kenneth dan aku yang biasanya datang tepat waktu. Joddy dan Nick biasanya sedikit terlambat karena mengurus beberapa hal dengan para perempuannya. Mereka akan datang seperti pahlawan kesiangan untuk anak-anak saat jam bermain basket dan memamerkannya di depan anak-anak"
James menyunggingkan senyumnya di akhir kalimatnya barusan. Seperti sangat faham tentang apa yang menjadi kebiasaan sahabat-sahabatnya.
"Perempuannya ? Aku belum pernah bertemu mereka sejak kita menikah, Joddy dan Nick tidak pernah terlihat membawa perempuan saat bertemu dengan kita"
"Mereka tidak akan membawanya untuk pertemuan-pertemuan penting sayang, perempuan-perempuan itu hanya teman kencan singkat mereka. Pertemuan-pertemuan yang sering kita hadiri adalah pertemuan dengan nama keluarga atau perusahaan, itu membawa nama besar ayah mereka, dua orang bodoh itu tidak akan melakukan tindakan konyol dengan mempermalukan keluarga mereka" James menjelaskan lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gift Love (COMPLETE)
Romancemencintai atau dicintai ? mana yang akan jadi pilihan paling tepat dalam hidup ? jika mencintai adalah sebuah keinginan, maka dicintai bukankah sebuah kesediaan ? Adalah Annelise Rosalie Winathan menghabiskan sebagian hidup untuk bertaruh antara pil...
