Sabtu pagi Anne terbangun di ranjangnya dengan lemah. Kelelahan menangis semalam dan menahan kesakitan yang ada pada kakinya, membuatnya seolah kehilangan energi bahkan setelah bangun tidur. Merenung sejenak di atas ranjang, Anne berusaha memfokuskan dirinya sambil menggeliatkan otot-otot tubuhnya yang terasa pegal. Ada selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Tak ingin berfikir positif tentang James, Anne berfikir Grace yang melakukan itu untuknya.
Anne merenung melihat kaki sebelah kanannya. Ia benar-benar terlihat buruk saat ini. Pergelangan tangan yang terluka, telapak kaki kanan yang kini di perban, dan jangan lupakan soal ruam-ruam merah yang juga masih nampak di kulitnya. Seberat inikah mempertahankan sebuah pernikahan ?.
Semalam, saat Kenneth datang untuk mengobati luka-lukanya, Anne nyaris tidak percaya bahwa sahabat dekat suaminya tersebut adalah mantan dokter. Berbeda jauh dengan karakter James, Kenneth terlihat lebih ramah dan cukup bijaksana dalam berbicara. Tak banyak yang disampaikannya, Kenneth memberikan sedikit kalimat yang membuat Anne tertegun malam tadi.
"Pria di depan sana, setengah mati menelfonku hanya untuk bisa menolongmu, jika James tak menganggapmu sebagai bagian penting dalam kehidupannya, ia pasti akan langsung meminta Hans membawamu ke klinik dan merelakanmu di tangani dokter lain. Dia hanya akan peduli pada hal-hal yang dianggapnya penting, termasuk soal kepemilikan, dia tidak pernah membiarkan orang yang dia sayangi disentuh orang lain, bahkan oleh seorang dokter. Dia memang dingin dan keras kepala, tapi dia sesungguhnya sangat peduli padamu Annelise"
Anne tak ingin serta-merta mempercayai apa yang dikatakan Kenneth. Karena apa yang dilihat Anne dan dirasakannya sungguh jauh berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Kenneth.
Belum sempat tersadar sepenuhnya, Anne dikejutkan oleh kedatangan Grace pelayannya. Ia tampak terkejut mendapati Anne sudah bangun dari tidurnya.
"Maaf nyonya, saya tidak tahu jika nyonya sudah bangun" perempuan yang bahkan terlihat lebih tua dari Anne tersebut menundukkan kepalanya saat bicara.
"Tidak apa-apa Grace, aku hanya berfikir ingin membuat sesuatu untuk sarapanku" Anne tersenyum menjawab perkataan Grace sembari menurunkan kedua kakinya ke lantai.
"Sebenarnya saya sudah memasak beberapa makanan, Tuan James meminta saya membantu pekerjaan nyonya hari ini" Grace akhirnya menjelaskan dengan wajah bingung. Ia sadar bahwa kedua majikannya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja saat ia menemuinya di dapur semalam.
James. Begitu Grace menyebutkan nama itu, Anne baru sadar tentang pria yang tidak tampak di kamar mereka sejak semalam.
"Dia sudah bangun ? Emm maksudku apa James sudah bangun ?" Anne bertanya pada akhirnya.
"Tuan sudah pergi ke gereja sekitar 15 menit yang lalu, dan akan langsung mengunjungi panti asuhan miliknya untuk mengecek keadaan disana bersama dengan Ron. Beliau bilang akan kembali jam 10 nanti untuk menjemput nyonya mengunjungi kediaman Pak Wirawan" Grace menjelaskan dengan detail kepada Anne.
"Panti asuhan ?"
"Tuan James memiliki sebuah panti asuhan di dekat sini nyonya. Ada banyak anak asuh yang tinggal disana. Biasanya saat akhir bulan seperti ini tuan akan pergi untuk mengecek keadaan disana dan berbagi makanan setelah mereka menyelesaikan ibadah di gereja" Grace menjelaskan kembali soal James yang tidak diketahui Anne.
Tak ingin berfikir lebih lanjut soal James, Anne memutuskan untuk membersihkan dirinya dan bersiap-siap mengenai rencananya mengunjungi rumah mertuanya untuk berkenalan dengan adik iparnya yang belum dikenalnya.
"Biar saya membantu nyonya" Grace menawarkan bantuan sambil berusaha membantu Anne berdiri dan memapahnya. Tapi Anne lantas menolaknya dengan halus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gift Love (COMPLETE)
Romancemencintai atau dicintai ? mana yang akan jadi pilihan paling tepat dalam hidup ? jika mencintai adalah sebuah keinginan, maka dicintai bukankah sebuah kesediaan ? Adalah Annelise Rosalie Winathan menghabiskan sebagian hidup untuk bertaruh antara pil...
