Lea sekarang sudah berada di dalam ruangan yang dimana di situ terdapat Dhirga, Nizam, dan Ibunya. Mereka tengah duduk di samping ranjang menunggu keadaan Dhirga untuk sedikit pulih sembari berbincang bincang dengan suatu hal.
Terlihat Lea sedang mengeluarkan kue satu persatu dari dalam dus kecil yang tadi dibelinya. Lalu Lea memberikannya untuk Dhirga dengan telaten.
"Makasih dek, sering-sering baik ya sama gue," celoteh Dhirga sambil melahap kuenya membuat Lea gemas melihat ekspresi yang diperlihatkannya.
"Sering-sering juga lo bagi wifi ke gue," ucap Lea tak mau kalah dengan kakaknya itu sambil sibuk membereskan plastik bekas kue tersebut.
Dhirga mendesis pelan mendengar ocehan adiknya yang selalu saja tak mau kalah dengannya. Ibu dan Nizam yang menyaksikannya pun bergeleng geleng kepala.
"Tan, mereka masih suka ya ribut tentang hal-hal kecil kayak gitu?" Sindir halus Nizam.
Indah mengangguk sembari terkekeh.
"Begitulah, layaknya Tom and Jerry."
"Iya! Gue kucingnya lo tikusnya bang," sambung Lea sambil terbahak kencang sendiri.
"Lo ngelucu?" Timpal Dhirga polos mengamati adiknya.
Lea sontak langsung memberhentikan tawanya dan terdiam.
"Niatnya begitu," jawabnya lirih.
Kini Dhirga yang bergantian tertawa lepas mendapati wajah polos adiknya.
"Recehh sumpah haha!! Adek guee."
Uhukk uhukk..
Dhirga memegangi tenggorokannya, ia tersedak karena tertawanya. Dengan inisiatif Lea pun beranjak dari tempat duduknya, berlari untuk ambil air. Sedangkan Ibu dan Nizam menepuk nepuk tubuh bagian belakang Dhirga agar tersedaknya pulih.
Pyarrr..
Suara pecahan gelas terdengar menggelegar dari arah Lea berada, menciptakan suasana ramai olehnya. Benar saja, dia telah memecahkan gelas berisi air minum yang tadinya akan untuk Dhirga.
Semua orang sontak kaget mengalihkan pandangan ke arah gadis itu.
Lea pun sempat teriak kaget karena gelas yang dipegangnya bisa jatuh ke lantai. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, untuk memegang sesuatupun ia tak fokus. Mitos yang sempat berkembang jika menjatuhkan sesuatu sampai benda itu pecah secara sengaja atau tidak sengaja merupakan pertanda tak baik. Apa kamu percaya akan hal itu?
"Leaaaa!! Yaampun sayang, kenapa bisa jatuh begitu nak?" Indah langsung menghampiri anaknya itu memastikan bahwa gadisnya baik-baik saja. Sedangkan Lea, ia sempat terdiam sejenak menghiraukan keberadaan Ibunya yang mendekat kepadanya. Sekujur tubuhnya terasa gemetar, dan dingin, kepalanya terasa sedikit pusing.
"Eng-gga.. papa kok mah Lea cuma ceroboh," ia melengkungkan senyum paksanya.
"Lea ambilin lagi minumnya ya untuk kak Dhirga, sebentar kak," gumamnya berkata kepada kakaknya.
Dhirga pun mengangguk, masih dalam ekspresi datarnya melihat Lea terlihat pucat setelah memecahkan gelas itu.
"Diminum kak," ia mendekati kakaknya dan memerintahkannya untuk meminum.
"Makasih dek."
Nizam menoleh ke arah Lea.
"Lea lo sakit? Pucat banget loh," ucap Nizam memberikan perhatiannya.
Lea menggeleng pelan. Memberi isyarat bahwa tidak apa-apa dengan dirinya. Tapi wanita selalu saja bisa menutupi perasaannya dengan mengatakan tidak apa-apa padahal ada sesuatu yang mungkin tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata. Lea merasa aneh dengan perasaannya saat ini, mitos berkata memecahkan gelas merupakan tanda tak baik.

KAMU SEDANG MEMBACA
Azalea [COMPLETED]
Novela JuvenilSeorang pria, satu tahun lebih tua dengan gadis 16 tahun yang akrab dipanggil Lea. Acuh, itulah karakter Bian. Dikisahkan bahwa Bian memiliki masalah psikologis akibat mimpinya di masalalu yang selalu datang menghantuinya. Alasan yang mungkin bisa m...