"Eh, Min Yoongi-ssi. Maaf saya lama bukain pintunya."
Yoongi mengangguk santai, sesekali ia curi-curi pandang ke belakang Hitomi. Rumah itu terlihat sepi dan hanya ada Hitomi disana.
"Anda mencari Tuan Kim? Tuan Kim barusan pergi ke tempat kerjanya."
"Ooh, anaknya dibawa?"
Hitomi menggeleng, "Raline tadi dititipkan ke penitipan anak, karena Tuan Kim ada urusan di beberapa restoran sampai malam, sementara saya juga mau pergi sebentar lagi."
Yoongi tersenyum tipis. Tanpa Hitomi menjelaskan, Yoongi juga sudah tahu kalau hanya Hitomi di rumah ini. Sejak tadi malam, pria itu mengawasi rumah ini dari balik jendela mobil yang ia parkirkan di seberang rumah Seokjin.
"Hitomi-ssi, saya ingin menanyakan beberapa hal pada anda, boleh?"
Hitomi terlihat ragu dan melihat ke sekeliling rumah, "Anda tidak akan lama kan? Saya takut Tuan Kim pulang mendadak."
"Tidak."
Hitomi kembali mempersilahkan Yoongi untuk masuk tanpa sepengetahuan Seokjin. Gadis itu meletakkan teh manis hangat didepan Yoongi.
"Terimakasih.", Yoongi menyeruput tehnya sejenak, "Langsung saja, anda masih ingat soal pesan saya pada tanggal 9 kemarin?"
Hitomi mengangguk pelan.
"Jadi apa ada yang mau Hitomi-ssi bicarakan?"
Hitomi tertunduk. Saat ini pikirannya sedang bercampur aduk. Masalahnya, bagaimana jika Seokjin tahu kalau Hitomi membicarakan soal dirinya pada Min Yoongi?
"Saya mengerti kalau anda takut mau membicarakan majikan anda sendiri, tapi anda harus mempertimbangkan untuk membantu kami dalam penyelidikan kasus ini untuk mencegah jatuhnya korban lagi. Tanggal 10 kemarin terjadi penembakan di tempat pelatihan taekwondo, dan pembunuh itu hampir saja mencelakai seorang reporter bernama Kim Sohyun. Anda pasti mengenal reporter ini kan?"
Gadis berkebangsaan Jepang itu mengangguk, "Iya. Kim Sohyun yang selalu bermain dengan Raline. Dia itu baik. Saya juga kaget saat melihat berita itu di televisi."
Yoongi menatap Hitomi dengan serius, "Jadi apa yang terjadi malam itu? Apa anda melihat Kim Seokjin keluar dari rumah ini pada tanggal 9 malam?"
Hitomi menggeleng, "Aku tidak melihatnya keluar."
"Apa anda sudah memperhatikannya baik-baik?" Yoongi berusaha memastikan.
"Iya. Saya mengerjakan laporan di ruang keluarga semalaman. Dari ruang keluarga saya bisa melihat siapa saja yang melewati pintu depan."
Yoongi mengacak rambutnya kesal. Dalam hatinya ia yakin jika ia bisa membuktikan keberadaan Seokjin malam itu, maka kecurigaan akan sepenuhnya berpindah pada Kim Seokjin. Tapi, mata Hitomi mengatakan bahwa ia tidak berbohong atau berusaha menutupi sesuatu.
Apa kasus ini akan berhenti sampai disini? Apa dia harus membiarkan si pembunuh menyelesaikan misinya untuk menghabisi 10 orang?
"Memang malam itu saya tidak melihat Tuan Kim keluar dari pintu depan bahkan keluar dari kamarnya. Namun ada hal yang bikin saya bingung."
Pria itu mengikuti arah pandangan Hitomi ke pintu depan, "Ada apa?"
"Malam itu saya mengerjakan laporan kinerja restoran dari jam 5 sore sampai jam 1 malam. Saya tahu dan melihat kalau selama itu Tuan Kim dan Raline ada di rumah. Tapi Tuan Kim tidur lebih cepat dari biasanya."
"Dari biasanya?"
Hitomi mengangguk, "Biasanya Tuan Kim masuk ke kamar setelah menidurkan Nona Raline dan membereskan dapur, kira-kira jam 9 atau 10 malam. Tapi waktu itu Tuan Kim sudah masuk ke kamar jam 7 malam dan tidak keluar dari kamar sejak itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
"10.01" (END)
FanfictionKim Sohyun, reporter yang memiliki ketertarikan dalam dunia kriminal, dipertemukan kembali dengan seorang detektif berwajah 'dingin' yang pernah berhubungan dengan masa lalunya untuk menghadapi suatu kasus pembunuhan berantai '10.01' yang terkenal d...
