Chapter 14

2.6K 229 2
                                        

3rd POV

Esok harinya tay mengunjungi suatu rumah sakit, dia berjalan melewati lorong rumah sakit ini dan memasuki sebuah ruangan dimana dia melihat ada anak kecil perempuan yg sedang duduk. Didepan anak itu ada meja berbentuk persegi panjang. Anak itu hanya diam menatap kertas gambar yg ada dihadapannya.

Tay menatap anak itu beberapa saat hingga tidak sadar oleh kedatangan pak direktur, dokter pemilik rumah sakit ini dari arah belakang tay dan mengejutkannya "tay, kenapa kau kesini?" tanyanya tersenyum sambil menjabat tangan tay dan tangan kirinya menepuk bahunya.

"Aku hanya ingin melihat keadaanmu" jawab tay dengan senyuman juga

"Begitu, kau terlihat baik tay. Mari duduk" pak direktur atau yg tay biasa memanggilnya dengan pak fluke memintanya untuk duduk, namun tay masih berdiri dan menanyakan tentang anak itu

"Ada apa dengannya" Tanya tay pada pak fluke

"Dia sama sekali tidak mau menggambar maupun menulis, tapi setidaknya kami sudah bisa membuatnya memegang pensil sekarang, tapi kami belum ada progress apapun dengan anak ini, ini bisa menjadi penyembuhan jangka panjang"

"Menggambar adalah salah satu metode untuk menuangkan apa yg ada di dalam hati kita, kau juga dulu menggunakan metode ini. Kami masih menyimpan gambar milikmu itu" ucap dokter itu

Tay pun tersenyum "itu sama sekali tidak bisa disebut gambar, aku hanya bermain dengan cat warna" tay mendudukan dirinya di kursi sebelahnya berdiri

"Warna juga bisa melambangkan sebuah emosi. Jujur padaku tay, ada apa kau datang kesini?" dokter itu memandang tay

"Apa terjadi sesuatu padamu?" Tanya dokter itu lagi

"Pak fluke, kau bohong padaku kan? Aku sama sekali belum sembuh" ucap tay menjawab pertanyaan pak fluke

Pak fluke menarik nafas panjang "saat kau pertama kali datang kesini, kondisimu begitu buruk tay. Tapi dengan beberapa terapi psikis dan obat kau kembali normal"

"Kondisimu tidak memburuk sampai tahap evaluasi, dan mulai stabil jadi kami mengizinkanmu keluar" jelas pak fluke

"Luka psikis sangat berbeda dengan luka fisik, ini bukan tentang apa kau sudah sembuh atau belum tapi tentang bagaimana kau menghadapinya"

"Apa kau masih berpikir bahwa kau yg membunuh adikmu?" pak fluke bertanya pada tay, namun tay hanya diam menatap pak fluke, ingatan akan adiknya yg terjun bebas menyeruak di pikirannya.

*

*

New pov

Siang itu di kampus, pelajaran sedang berlangsung. Aku mencatat materi yg diberikan pak dew, dan tay seperti biasa tertidur diatas mejanya. Aku memandanginya sejenak.

Setelah kejadian itu hari berlalu seperti biasa lagi, tidak ada yg tau penyebab tay bertingkah seperti itu. Tay tidak menceritakan apapun dan kami tidak ada yg berani bertanya. Aku sangat takut kehilangan tay sampai ke tingkat aku tidak akan bisa menerima kenyataan itu.

Aku mencoba membangunkan tay dengan menggoyangkan tubuhnya beberapa kali, tiba-tiba tay bangun dan berteriak "tujuan akhirku ingin memenangkan kejuaraan grandpix 500 cc" mendengar itu, semua orang terdiam karena terkejut, begitu juga aku, setelah itu kami semua tertawa bersamaan. Pak dew yg sedang menulis di papan tulis pun menolehkan kepalanya menghadap tay

"Bagaimana kalau kau konsentrasi pada belajarmu dulu baru kau memikirkan kejuaraan itu. Hati-hati kau bisa tidak lulus pada mata kuliah ini lagi" pak dew memarahi tay, namun tay yg masih setengah bangun hanya tersenyum malu sebagai respon

Love within Tragedy [TayNew]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang