Chapter 20

2.3K 215 4
                                        

3rd pov

Keesokan harinya, dari kejauhan off dan gun sedang memperhatikan tay yg sedari tadi hanya duduk berdiam diri di depan gedung fakultasnya, entah apa yg sedang dipikirkannya.

"Apa dia duduk seperti itu sedari tadi?" gun bertanya pada off

"Iya, dia sudah seperti itu sedari tadi. Aku jadi penasaran apa yg sedang terjadi"

"Mild dan tay sepertinya sering bertemu beberapa hari ini-- lupakan saja. Lagipula new juga tidak mempermasalahkan itu kenapa kita harus pusing memikirkannya"

"Kau tau, meskipun pada akhirnya mereka tidak bersama, tidak ada yg bisa kita lakukan" ucap off sambil menatap gun

"Hei lihat itu" telunjuk gun mengarah pada new yg datang menghampiri tay dan mereka saling menatap untuk beberapa saat.

"Aku tidak bisa melihat mereka seperti itu, aku akan masuk ke kelas" ucap gun pada off, namun off masih terdiam melihat kedua sahabatnya itu.

"Hei, kau mau ikut tidak?" gun bertanya pada off lalu off pun mengikuti gun pergi ke kelas.

Tay pov

Aku melihat new yg datang menyapaku sebentar lalu pamit untuk masuk ke kelas, tapi aku memintanya untuk menemaniku sebentar

"Kelas akan mulai, kau tidak mau masuk?" new sedang berdiri dihadapanku

Aku mendongakan kepala "aku tidak akan masuk ke kelas"

"Kalau begitu aku pergi ke kelas dulu ya" ucap new

Dengan cepat aku menahan new "bisakah kau menemaniku sebentar disini?" Lalu new pun duduk disampingku. Aku hanya terdiam menunduk, aku sedang merasakan perasaan yg campur aduk. Bingung, resah, seperti ada sesuatu yg harus aku ingat tapi aku tidak tau apa.

"Apa kau mau memberitau aku ada apa denganmu hari ini?" new bertanya padaku

"Hari ini adalah tepat dua tahun kematian arthit"

"Hari ini? Apa kau pernah mengunjungi makamnya?"

Aku menggeleng "karena aku tidak pernah merasa kalau ini nyata, tentang arthit yg sudah mati. Aku bahkan tidak mengingat apa yg terjadi setelah hari kematian arthit"

"Aku hanya ingat kalau aku pergi ke kantor polisi lalu aku tidak sadarkan diri disana. Saat aku sadar, pemakaman sudah selesai" aku masih menunduk mencoba mengingat kepingan memori di kepalaku ini.

"Tay, apa benar kau yg mendorong arthit dari atas gedung sekolah?" pertanyaan new membuatku semakin bingung. Aku berpikir keras dan mencoba mengingat.

"Mungkin saja"

"Tay, kalau kau ingin datang ke makam arthit, kenapa tidak kau tanyakan saja pada ayahmu"

"Dia tidak akan mengizinkan aku pergi ke makamnya"

"Kenapa begitu?"

"Karena dia membenci aku dan arthit"

"Mana mungkin orang tua membenci anaknya sendiri. Kenapa kau selalu bicara buruk tentang ayahmu tay? Kenapa kau tidak menyukainya? Kenapa kau--"

"Aku tidak tau, aku sungguh tidak tau" jawabanku memotong semua pertanyaan new

Tiba-tiba ingatan tentang ibuku muncul kembali secara random "Ibuku yg selalu bilang pada kami untuk menjauhinya"

Flashback on

Ibuku merangkul aku dan arthit dengan kedua tangannya, dia membisikan sesuatu pada kami "Kalian dengar ya, jangan pernah dekati ayah kalian"

Love within Tragedy [TayNew]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang