New POV
Sesaat setelah menanyakan perlindungan yg tay tawarkan apakah masih berlaku, tay menatap wajahku untuk beberapa saat, wajahnya lalu mulai mendekati wajahku. Aku bergegas memundurkan wajahku dan memalingkan pandangan ke pintu kamar. Aku mengajaknya untuk berjalan-jalan diluar supaya tidak merasa canggung.
*
Aku dan tay duduk dibangku didalam gedung kesenian yg berada di kota, kami berjalan melihat semua karya seni yg dipajang di gedung ini.
"Tay, maaf ya karena sudah mengajakmu ke tempat yg membosankan seperti ini" aku mengarahkan pandanganku pada tay
"Aku rasa tidak, justru cukup menarik bagiku" tay tersenyum padaku yg langsung membuatku ikut tersenyum senang
"Kau tertarik?" aku bertanya dengan antusias. Tay mengangguk lalu berdiri menghadap kearahku
"Sebenarnya bukan karya seninya yg menarik, tapi ciptaan tuhan lah yg menarik" tay tersenyum lalu melambaikan tangannya tanda menyuruhku mendekat padanya. Aku pun beranjak bangun dan menghampiri tay
Tay lalu menunjuk pada seorang pria yg sedang tertidur sambil duduk "kau lihat sebelah sana, itu yg dinamakan kebahagiaan senja" aku dan tay pun tertawa sambil melihat kearah pria itu
"Sekarang lihat sebelah sana, kalau itu namanya tragedy menopouse" tunjuk tay kepada tiga orang ibu-ibu yg sedang berdiri sambil ngerumpi. Aku pun kembali dibuat tertawa oleh tay saat melihat kearah yg ditunjukan
"Nah, kalau yg disebelah sana itu namanya menyinari dunia" tay menunjuk pada pria paruh baya yg tidak ada rambut di kepala bagian depannya, hanya bagian belakang saja. Perutku sakit sekali karena sedari tadi tay berhasil membuatku tertawa.
"Dan kalau yg ini namanya pemuda yg sedang jatuh cinta" telunjuk tay mengarah padaku yg masih tertawa. Saat mendengar tay mengatakan itu, aku merasakan wajahku memanas, aku menahan malu dengan segera menundukan kepalaku.
"Lihat, wajahmu memerah seperti tomat, lucu sekali" tay tertawa melihatku yg salah tingkah. Aku semakin merasakan malu dan jantungku benar-benar berdegup kencang sekarang.
Aku dan tay kembali berjalan diseputaran kota Bangkok, masuk ke satu toko dan keluar, masuk lagi dan seperti itu terus. Sesekali tay bertingkah gila yg membuatku terus menerus tertawa. Sampai pada waktu kami harus berpisah pergi ke tujuan kami masing-masing
3rd POV
Tay dan new keluar dari toko yg mereka masuki dengan posisi tangan kanan new menarik lengan kiri tay, mereka berlari sambil tertawa terbahak.
"Hahaha... huff-- haha-- huff" new tertawa dengan terpotong-potong karena nafasnya tersengal-sengal setelah berlari
"Sudah jangan tertawa terus, nanti kau bisa mati karena terlalu banyak tertawa. Kau biasanya selalu diam tapi lihat hari ini, tertawa tanpa henti" ucap tay pada new dengan tersenyum
"Karena kau sangat ahli dalam membuat orang lain gila" new menjawab sambil berjalan lebih jauh dari toko tadi
"Tapi hari ini menyenangkan sekali, kau tau apa yg bisa membuat lebih gila?" Tanya tay pada new dan dibalas dengan pandangan bingung
Tay berucap dengan tersenyum "pergi ke hotel" senyuman tay memudar ketika melihat kearah new yg sama sekali tidak memberikan reaksi
"Setiap aku pergi kencan dengan mantanku pasti berujung dengan hal itu. Kalau begitu aku pergi kerja dulu" tay menjelaskan pada new
"Oke, aku akan ke toko yg menjual alat melukis kalau begitu" new tersenyum dan melihat tay menganggukan lalu pergi kearah berlawanan dengan new.
"Kau harus kembali ke kampus besok" teriak new pada tay yg hanya dibalas anggukan lagi tanpa berbalik menoleh. Namun setelah beberapa langkah, tay berhenti sejenak, new pun masih memandangi tay dengan bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love within Tragedy [TayNew]
Fiksi PenggemarKisah seorang lelaki (Tay Tawan) yang tidak pernah memiliki keseriusan semasa hidupnya. Di pikirannya hanya ada balapan, taruhan, dan wanita. Lalu dia dipertemukan dengan seorang lelaki (New Thitiphoom) yang memiliki ketakutan bersosialisasi dengan...
![Love within Tragedy [TayNew]](https://img.wattpad.com/cover/212989281-64-k625161.jpg)