Chapter 37

2.3K 190 1
                                        

Keesokan harinya, tay yg mengingat akan potongan-potongan memori tentang ibunya memutuskan untuk mendatangi rumah sakit dan juga psikiater yg menanganinya dua tahun lalu. Tay baru bisa mengingat kalau ibunya dulu pernah menjadi pasien di rumah sakit ini, dirinya pun menanyakan detailnya pada dokter yg menanganinya yg ternyata dulu juga menangani ibu nya.

Dokter itu membawa tay untuk berbicara di halaman rumah sakit, mungkin ini memang sudah waktunya tay tahu fakta mengenai ibunya.

"Kejadiannya sekitar delapan belas tahun yg lalu, saat ibu mu mulai bertingkah aneh. Sebelumnya ayah mu ragu apakah harus membawanya kesini atau tidak, hingga akhirnya stau minggu kemudian, ayahmu membawanya kesini untuk melindungi kau dan Arthit"

"Melindungi aku dan Arthit?" dahi tay mengernyit tidak mengerti

"Ibu mu berencana untuk membunuh kalian berdua, dan alasannya melakukan itu adalah karena perasaan cintanya pada kalian yg terlalu berlebihan, hingga tidak dapat percaya kalau orang lain bisa mencintai kalian sama sepertinya"

Tay menatap pada dokter itu "kalau begitu, kenapa dia memutuskan untuk meninggalkan kami?"

"Alasan ibuku meninggal, karena dia mengakhiri hidupnya sendiri kan?"dokter dihadapan tay menatapnya terkejut.

"Kenapa dia melakukan hal itu? Dan kenapa dia ingin membunuh aku dan Arthit?" raut wajah tay terlihat sangat sedih, marah juga kecewa menjadi satu.

"Apa karena dia menyesal sudah melahirkan kami? Karena kami bukan anak kandung ayah (paman) jadi dia menyesal?"

"Bukan, justru sebaliknya. Alasan ibumu bisa melanjutkan hidup setelah ayah kandungmu meninggal adalah kalian"

"Memang benar ibumu memiliki gangguan psikis, tapi dia tidak pernah lupa untuk mencintai kalian"

"Jujur, ibu kalian terbilang terlalu dalam mencintai kalian sampai ke level menjadi penyakit psikis yg akhirnya ayahmu membawanya kesini untuk ditangani. Berdasarkan orang yg memberikan atau menerimanya, rasa cinta yg berlebihan dapat mengakibatkan tragedi"

Flashback on

Pagi itu si kembar sedang bermain dengan anjing ayah mereka di halaman rumah, namun tiba-tiba anjing itu tampak seperti menyerang salah satu dari mereka. Ibu mereka yg melihat kejadian itu segera datang menghampiri dan membunuh anjing tersebut dengan pisau. Seorang pelayan (Fah) yg membantu mengurus tay dan Arthit sontak saja menarik mereka untuk menjauh dari ibunya. Ibunya segera mendekat pada pelayan itu untuk menyerahkan kedua anaknya, dan pelayan itu segera berlari menjauh meninggalkan mereka bertiga.

Hingga malamnya ayah si kembar memarahi ibu mereka karena melakukan hal keji semacam itu di depan anak-anak mereka.

Ibu si kembar (Pim) yg sedang bercermin sambil menyisir rambutnya di meja rias miliknya itu, menatap tajam suaminya dari dari cermin itu "anjingmu menyerang anak-anak ku, sebagai seorang ibu itu adalah hal yg natural untuk melindungi mereka"

"Dia tidak bermaksud menyerang dan hanya ingin bermain bersama mereka, Fah memberitahuku tadi" nada bicara ayah tay naik

"Tidak perlu membuat takut si kembar dengan membunuhnya di depan mata mereka"

"Anak-anak ku tau kalau aku mencintai mereka" ucap ibunya tersenyum yg terlihat sedikit mengerikan

"Cintamu itu, menyakiti mereka. Mereka sudah hampir berumur lima tahun dan kau masih belum membiarkan mereka untuk bermain di luar rumah. Kau memutus semua hubungan mereka dengan dunia luar" 

"Pernahkah kau berpikir bagaimana mereka nanti kalau sudah besar dan harus menyesuaikan dengan lingkungan mereka? Bagaimana akhir dari si kembar kalau kau memperlakukan mereka seperti ini?"

Love within Tragedy [TayNew]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang