Chapter 22

2.2K 216 9
                                        

3rd pov

Beberapa hari setelah itu, new dan gun berjalan bersama di koridor keluar dari kelas mereka. Gun memarahi new setelah new bercerita mengenai dirinya yg menginap di kontrakan tay.

"Apa kau bodoh? Semalaman di kamar tay yg kau lakukan hanya memasak dan merawatnya? Apa kau benar-benar berpikir kalau dirimu adalah mini market?" omel gun dengan nada sedikit kencang kepada new yg hanya diam, lalu new menatap gun

Gun memelankan suaranya "kalau seperti ini terus, mild benar-benar akan mengambil tay kembali"

New berjalan dan gun mengikuti disampingnya "tidak ada yg bisa aku lakukan kalau tay ingin kembali pada mild, itu hak nya untuk memilih"

"Apa kau sekarang berubah menjadi patung akibat terlalu banyak melukis patung-patung itu? Apa kau tidak merasa sedih sama sekali?"

"Aku tidak masalah kalau itu bisa membuat tay bahagia, karena aku suka melihat tay yg tertawa. Selama tay merasa bahagia, aku akan merelakannya"

Gun terdiam mendengar jawaban dari new, dirinya juga mulai berpikir hal yg sama. New yg melihat gun terdiam mengalihkan pandangannya pada gun.

"Tapi aku lebih suka melihat tay bersama denganmu, kau tidak tau bagaimana bahagianya tay saat berada disisimu. Dia dulu sangat tidak bertanggung jawab dan tidak pernah serius, terlihat keren tapi juga kadang menakutkan"

"Sejujurnya, dia itu sedikit sulit untuk didekati, tapi semenjak bersama denganmu, tay terlihat sedikit... imut. Kau lah yg merubahnya menjadi lebih baik new" gun tersenyum pada new

*

New pov

Kelas dimulai seperti biasa, pak dew sedang menerangkan materi kuliah. Namun semua materi yg dijelaskan pak dew sama sekali tidak masuk ke dalam kepalaku. Aku menyangga kepalaku dengan tangan kiriku, menatap notebook ku yg masih kosong itu, pikiranku melalang buana entah kemana.

Tidak lama aku mendengar suara pak dew yg meninggi memanggil seseorang "Tay Tawan, apa kau pikir dirimu itu transparan? Menyelonong masuk saat saya mengajar, kenapa kau datang terlambat?"

"Oh, tadi saya harus pergi untuk melepas perban ditanganku yg terluka kemarin" aku tersenyum mendengar jawaban tay, aku reflek menoleh ke belakang menghadap gun yg juga sedang tersenyum melihat tingkah tay. Tidak, jauh dalam benak kami alasan kami tersenyum adalah karena merasa lega, tay masih tetap datang ke kampus seperti biasa.

"Masuk akal juga, tetap alasanmu saya tolak. Tapi saya biarkan kali ini, sekarang duduk sana" mendengar jawaban pak dew tay pun segera mendudukan dirinya di bangku sebelah kananku yg mana memang itu sudah menjadi hak patennya. Tay balas tersenyum padaku yg sedari tadi menatapnya dengan tersenyum.

Aku kembali mendapatkan semangat belajarku hari ini, dan mencoba konsentrasi pada materi yg diberikan pada pak dew. Aku pun mendengar percakapan tay dengan off yg duduk dibelakangnya, suara mereka terdengar cukup keras.

3rd pov

Tay yg baru saja datang terlambat diperintahkan untuk segera duduk dikursinya oleh pak dew, namun tay lupa membawa notebook miliknya.

"Off, pak dew sudah menjelaskan sampai mana? Bisa pinjamkan bukumu padaku?" tay bertanya pada off yg duduk dibelakangnya

Off berbisik menjawab pertanyaan tay "bisa kau pelankan suaramu!! untuk apa kau repot-repot meminjam buku miliku kalau kau datang hanya untuk tidur" jawab off sangsi

"Tidak sopan sekali, apa kau pikir aku selalu tidur disetiap mata kuliah" nada suara tay ikut berbisik

"Apa kau tidak pernah diajarkan oleh guru kalau kau harus membantu teman mu yg lemah dalam belajar, bukan malah mempersulitnya" kali ini suara tay sedikit keras, yg mana langsung membuat pak dew berhenti memberikan penjelasan

Love within Tragedy [TayNew]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang