Chapter 27

1.9K 195 3
                                        

New pov

Siang ini aku dan para junior klub melukis untuk keluar dari ruang melukis, aku diminta ibu Jane membimbing mereka untuk melukis landscape. Tay bilang akan menunggu di ruang melukis saja karena diluar cukup panas siang ini.

Namun aku sama sekali tidak bisa konsentrasi dengan tugasku. Aku terus memikirkan perkataan saint dan luka yg ditunjukannya padaku. Aku terus berusaha meyakinkan diriku kalau tay bukanlah orang yg seperti itu dan mencoba berkonsentrasi dengan pekerjaanku.

3rd pov

Disisi lain, dalam ruang melukis, tay sedang tertidur dengan lelapnya diatas bangku. Tay tidak menyadari saint yg datang mendekat padanya perlahan. Wajah saint mendekat pada wajah tay, saint mencoba untuk mencium bibir tay. Namun sebelum bibir saint menyentuh bibir tay, tiba-tiba tay membuka matanya.

"Aku bukan Pla channarong" ucap tay menatap saint, Saint pun menghentikan niatnya dan menatap mata tay.

"Jadi kau tidak benar-benar tertidur" saint mengangkat kepalanya

"Bercanda juga ada batasnya" ucap tay pada saint lalu merubah posisinya menjadi duduk. Saint mengambil sebuah bangku dan duduk disebelah tay.

"Kau berbicara apa pada new?"

Saint menoleh pada tay "apa dia mengatakan sesuatu padamu?"

"Dia tidak perlu mengatakan apapun, karena dia bukan tipe orang yg bisa menyembunyikan pemikirannya"

"Heeeh, ternyata dia hanya orang biasa. Aku pikir semua yg pernah berkencan denganmu sama luar biasanya denganmu"

Tay menatap pada saint "aku takut justru kau lah yg terlalu tidak normal dengan orang lain"

"Aneh sekali, kenapa sudut pandang seseorang selalu sama dengan yg tertulis diberbagai cerita, kau juga salah satunya. Aku sungguh kecewa"

"Tidak ada orang yg bisa memperlakukan seseorang dengan normal setelah tau orang itu membunuh orang lain seperti bukan apa-apa"

"Jangan berpura-pura, bukankah kau sudah merasakan pengalaman membunuh seseorang beberapa tahun lalu?" saint mendekatkan wajahnya pada tay, menatap matanya

"Saat adikmu mati, kau melihat tubuh dan wajah yg sama persis denganmu. Bagaimana rasanya?" saint menyeringai dan wajahnya masih berada dekat wajah tay.

Saint tersenyum sambil menerawang ke depan "aku teringat bagaimana wajah Pla saat itu, dia memintaku untuk tidak membunuhnya dan bilang kalau dia tidak ingin mati"

"Dia memohon pada seseorang yg sudah hampir mati dihajarnya" ucap saint lagi tersenyum menatap tay

Tay balas menatap saint, perlahan tangan kirinya meraih dagu saint dan turun ke lehernya. Tangannya menyentuh leher saint pelan "leher yg ramping, hanya butuh satu tangan saja" lalu tay mencengkram kencang leher saint dan mendorongnya hingga terjatuh.

Tay semakin mengencangkan cengkramannya, saint mulai bergulat untuk melepaskan cengkraman tangan tay "apa segitu menyenangkan melihat orang sekarat? Kenapa kau tidak merasakan sendiri bagaimana rasanya antara hidup dan mati" tay sama sekali tidak melonggarkan cengkramannya, dan terus menatap mata saint.

Saint menggeliat dan menepuk-nepuk tangan tay sambil menariknya berusaha melepaskan tangan tay "bagaimana rasanya? Sangat tidak menyenangkan bukan? Kau mulai mengeluarkan keringat dingin, penglihatanmu mulai kabur, lama kelamaan kau tidak bisa mendengar suaraku"

Wajah saint mulai berubah merah padam dan agak seperti membiru, dirinya harus mengambil nafas atau dia akan benar-benar mati. Kaki saint berusaha menendang-nendang apapun didekatnya dan tangannya mendorong bahu tay meminta untuk dilepaskan.

Love within Tragedy [TayNew]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang