3

2K 184 16
                                        

Helen kecil menangis di atas rumput dekat danau yang sepi pengunjung. Danaunya masih bersih, terawat, dan udara yang terhirup lebih sejuk di banding café atau tempat-tempat modern lainnya, masih banyak pohon, dan banyak lagi ke unggulannya.

Namun, di zaman yang sudah maju seperti ini, orang-orang lebih memilih refreshing di tempat seperti mall, dan lain-lain.

Saat itu Helen menangis, usianya baru mencapai delapan tahun. Alasan ia menangis sebenarnya simple, dia baru saja menduduki kelas tiga SD tahun ajaran pertama, berkenalan dengan anak laki-laki lalu berteman baik dengan anak laki-laki yang juga baik, dan sekarang orang tuanya berkata kalau ia harus pindah sekolah, kembali ke Negara di mana ia di lahirkan, Korea Selatan.

Sudah di tebak bukan? Kalau is harus meninggalkan teman barunya itu. Karena, urusan pekerjaan Papanya. Sebenarnya ia tak mau, namun apa daya. Ia hanya seorang anak kecil yang harus menuruti semua perintah orang tua, mengelak pun ia tak akan bisa.

"Elen?" panggil seseorang.

Helen menoleh ke sumber suara dan menemukan teman barunya berdiri tepat di belakangnya.

"Al? Kok kamu di sini? Ngapain?" tanya Helen kecil.

"Seharusnya aku yang nanya, kamu ngapain di sini? Kalau aku memang sering main di sini. Kamu habis nangis, ya?" Lelaki yang di panggil Al itu menjawab pertanyaan Helen dengan pertanyaan.

"Aku mau pergi, Al." jawab Helen kecil lesuh.

"Pergi? kemana? Tapi, kenapa kamu nangis? Kan cuma pergi nggak pindah." tanya Al, lagi.

"Aku juga pindah, karena aku pergi untuk waktu yang lama. Aku pergi ke Korea Selatan." Helen kecil menunduk.

"Elen jangan sedih lagi, kita ke sana, yuk." ajak Al menunjuk sebuah taman yang banyak tanaman bunga.

Helen kecil mengangguk, Al pun mengembangkan senyumnya, lalu ia berlari seraya menggenggam tangan Helen kecil.

Sesampainya di sana Al memetik setangkai bunga kecil berwarna ungu, lalu memakaikannya di sela-sela telinga Helen kecil. Membuat sang empu tersenyum lebar.

"Udah nggak sedih, kan? Senyum kamu lebih indah dari bunganya, makanya jangan nangis lagi. Walaupun kamu jauh nanti, kita tetep sahabat. Jadi, sekarang kita pulang, ya?" kata Al.

"Aku masih mau main sama kamu, Al. Aku takut nanti aku nggak bisa main sama kamu lagi." rengek Helen.

"Hari ini hari perpisahan kita, iya kan? Aku bawa gelang, tadinya mau aku kasih mama, tapi nanti aku bisa beli lagi buat mama. Kamu pakai ini, ya. Kalau bisa sampai besar nanti jangan di lepas, kalau udah nggak muat, jangan di buang ya?" ucap Al memberikan sebuah gelang dengan liontin dengan tulisan "Ilysm". * I love you so much*.

Helen mengambilnya gelang tersebut lalu memakainya. "Udah."

"Sekarang, kita pulang." ajak Al dan Helen mengangguk.

"Al, aku kangen kamu." lirih Helen yang sedang termenung lalu melirik gelang di genggamannya yang warnanya mulai pudar.

***

Elea, Mama Jeno, menatap heran putra sulungnya.

"Tumben jam segini udah mau berangkat? Masih jam enam kurang loh, Jen." tanya Elea melangkah ke arah Jeno.

"Kenapa emang, Ma? Aku mau jemput temen. Aku berangkat ya, Ma. Bilangin Papa juga." pamit Jeno mencium pipi Elea.

"Iya, hati-hati. Jangan buat ulah di sekolah, belajar yang bener, awas kalau macam-macam." jawab Elea sedikit teriak.

Jeno mengangguk lalu malajukan motornya dengan cepat.

Laju motor yang di kendarainya perlahan mulai terhenti, kala melewati sebuah tempat.

Sebuah perpisahan antara ia dan dia, untuk terakhir kalinya mereka bertemu, bermain untuk waktu yang cukup lama dan semuanya harus berubah menjadi sebuah kenangan yang begitu ia rindukan.

Sadar kalau ia harus menjemput Helen, Jeno pun kembali malajukan motornya.

Jeno memasuki halaman rumah Helen, memarkirkan motornya di tangga dekat pintu masuk, lalu mengetuknya.

"Loh? Temannya Helen ya?" tanya Nea, Mama Helen.

"Pagi, Tante. Iya tante temennya Helen, em— pacar lebih tepatnya, hehe." jawab Jeno cengengesan.

"Pacar? Wah, ayo masuk dulu." ajak Nea.

"Kakak ganteng, namanya siapa?" tanya Shirene, adik Helen yang masih berusia enam tahun.

"Halo aku Jeno, nama kamu siapa?" sapa Jeno.

"Aku Shirene." jawab Shirene tersenyum.

Jeno yang gemas langsung menangkup wajah Shirene lalu mencubit pipinya pelan.

"Kamu pacarnya Helen? Nama kamu siapa?" tanya Bestian, Papa Helen.

"Jeno Aldero, Om." jawab Jeno, Kikuk.

Wah, salah waktu gue, nih. Pikirnya.

"Nama Papa kamu siapa?" tanya Bestian, lagi.

"Brennan Aldero." jawab Jeno.

"Wah, kamu anaknya Enan? Papa kamu itu sahabat saya, Om titip Salam untuk Papa mu ya. Tuh, Helen udah selesai sarapan. Ya udah sana berangkat, hati-hati." kata Bestian.

Jeno dan Helen pamit kepada orang tua dan adik Helen lalu berangkat menuju sekolah.

Jeno malajukan motornya dengan kecepatan normal, di perjalanan tak ada yang membuka mulut. Hanya Susana Hening yang tercipta. Helen yang sibuk dengan pikirannya dan Jeno yang sibuk mengendarai motor.

"Gue harus ke danau, iya harus." batin Helen.

***

HELEN POV

Akhir-akhir ini gue sering mimpi dan mimpinya selalu Al. Pikiran gue kemana-mana, takut terjadi sesuatu sama Al padahal kita belum sempat ketemu lagi. Gue kangen banget sama dia.

Sebenarnya, gelang yang dia kasih masih muat kalau di pakai, tapi kelihatannya gelangnya udah mulai rusak sedikit demi sedikit. Jadi, gue simpen gelangnya dan selalu gue bawa kemana-mana. Untuk bukti kalau sewaktu-waktu gue ketemu Al.

Al masih inget sama gue nggak, ya? Di hari terakhir kita ketemu Al udah bikin bahagia dia bikin gue lupa kalau gue lagi sedih dan kesel sama orang tua gue.

Jam masuk sekolah masih lama dan gue cuma merhatiin anak cowok yang lagi main basket dari jendela kelas. Gue ke danau sekarang aja kali, ya? Bolos sekali-sekali nggak apa-apa, deh.

Gue segera berjalan menuju gerbang sekolah tinggal beberapa langkah lagi gue bakal keluar dari gerbang dan...

"Helen, kamu téh mau kamana?" Pak Didi, guru bahasa sunda memeluk pindah gue.

"Mau ambil buku, Pak. Mumpung belum masuk, jadi masih ada waktu buat pulang dulu." jawab gue yang tentu saja nggak bener.

"Oh, begitu. Ya sudah, sana, buru atuh." katanya.

Gue mengangguk dan segera memberhentikan angkutan umum yang kebetulan lewat.

Gue berhasil bolos, gewla. Lo tahu? Rasanya deg-deg an parah, sih.

Notifikasi Line di HP gue bunyi, langsung aja gue cek.

Jejejenoldr
Kamu di mana?
Tadi aku ke kelas kamu... tapi, kamu nggak ada.

Lennx
Gue pergi, sebentar.

Nggak usah khawatir, nggak usah di cari, dan nggak usah di tunggu.
Jangan kasih tahu siapa-siapa kalau gue bolos!
Kalau ada yg nanya bilang aja gue gak enak badan, okei?.

Jejejenoldr
Ya.

Jeno [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang