17

1.3K 114 19
                                        

AUTHOR POV.

Hujan semakin deras, namun keduanya belum ada yang berniat pulang.

"Hacim! Hacim!" Suara bersin-bersin terdengar dari hidung Helen.

"Aku anterin kamu pulang, ya." tawar Jeno lalu berjongkok dihadapan Helen.

"Naik."

"Nggak usah, aku bisa jalan sendiri, kok." Tolak Helen halus, bukan tak mau, ia hanya takut Jeno keberatan.

"Udah cepetan naik." titah Jeno.

Helen mengalah, ia sudah malas berdebat apalagi hanya untuk hal kecil. Helen mengalungkan tangannya dari belakang pundak lebar milik Jeno.

Dalam perjalan, tak ada satuan yang membuka percakapan. Hanya ada suara bersin-bersin dari hidung Helen yang mengisi heningnya perjalanan.

"Alasan kamu suka hujan apa, Jen?" tanya Helen memecah keheningan.

Jeno menghentikan laju motornya setelah pertanyaan itu keluar dari bibir manis Helen. Jeno sedikit menoleh ke belakang.

"Bagi aku hujan itu berarti." jawab Jeno kembali melajukan motornya.

"Boleh aku tau, apa arti hujan buat kamu?" tanya Helen ragu-ragu.

Jeno terdiam, memfokuskan pandangannya pada jalanan. Helen menghembuskan napas pelan, mungkin Jeno tak mau bercerita.

Jeno membelokkan motornya kearah café, memarkirkan motornya.

"Cerita di dalam aja, yuk." ajak Jeno tersenyum, Helen menggangguk.

Setelah menemukan tempat untuk duduk, Jeno memesan dua cappuccino hangat. Setelah pesenan datang, Jeno menyesap cappuccino perlahan.

"Dulu keluarga aku komplit,"

"Lho? Sekarang kan masih komplit." kata Helen.

"Nggak, orang-orang tau kalau aku anak tunggal. Tapi kenyataannya nggak begitu, aku punya kembaran, namanya Juno." Jeno menghela napas sebelum melanjutkan ceritanya, Helen masih diam membiarkan Jeno mengalirkan ceritanya.

"Kami suka hujan, nggak peduli kalau harus sakit, yang penting kita sama-sama. Dia punya sahabat perempuan, aku nggak tau namanya. Waktu itu dia cerita kalau sahabatnya udah nggak bisa bareng sama dia lagi, iya dia cukup sedih dan aku ngerti itu. Setiap minggu sore dia pergi, aku nggak tau dia kemana. Sampai di satu tahun setelah kepergian sahabatnya, aku coba untuk ikutin kemana dia pergi dan aku sampai di danau taman itu. Awalnya dia kaget, tapi akhirnya dia bilang kalau suatu waktu dia nggak bisa kedanau ini, aku yang harus ke danau ini cuma untuk cek keadaannya masih sama atau nggak. Dia suruh aku pulang, karena udah waktunya aku les dan aku pulang."

"Waktu itu, cuacanya cukup mendung, dia bilang kalau dia mau hujan-hujanan di danau itu. Sampai malam dia nggak pulang, sebagai kembaran jelas aku ngerasa panik. Aku susul dia kesana, tapi kosong cuma ada wangi bekas air hujan yang turun ke bumi. Aku coba tanya warga, katanya tadi sempat ada anak kecil yang ketabrak truk dan sekarat di jalan raya dekat taman itu, tapi ada keluarga yang bawa dia pergi. Mereka pikir itu keluarganya, padahal aku keluarganya. Sampai sekarang, nggak pernah sekalipun aku ketemu sama Juno. Meski hujan buat kembaran aku hilang, tapi hujan kesukaannya. Aku nggak bisa benci hujan, Len." lanjutnya.

Helen awalnya terkejut, membayangkan ngilunya tertabrak truk, namun is tetap berusaha mendengarkan.

"Maaf ya, jadi curhat gini." kata Jeno.

"Nggak apa-apa, kamu bisa cerita apapun ke aku." sahut Helen.

"Ada lagi yang mau kamu tau?"

"Nama lengkap kembaran kamu?" tanya Helen penasaran.

Jeno [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang