18

1.2K 106 3
                                        

Kenzo kini berada dirumah Jeno bersama Yuna, sepulang sekolah Kenzo langsung membawa motornya menuju rumah Jeno. Tentunya atas permintaan Yuna, ia yang bosan dirumah pergi menuju rumah Jeno namun yang di cari malah pergi dengan pacarnya.

"Kak, Ken." panggil Yuna membawa handuk berukuran besar.

Kenzo menoleh.

"Handuknya ada, tapi... bajunya nggak ada, hehe. Pintu Kak Jeno di kunci, aku jadi nggak bisa masuk." kata Yuna memberi handuk yang ia bawa.

"Masih bisa pakai baju ini lagi, kok. Nanti di rumah baru ganti."

Yuna mengangguk, berbalik berjalan menuju tangga. "Eh, eh, sebentar."

"Kenapa lagi, Kak? Handuknya kurang besar?"

"Bukan. Boleh minta tolong cuciin nggak? Kan ada mesin cuci biar kering, ini basah soalnya." Kenzo membuka seragam sekolahnya, terpampang jelas lah badan atletisnya.

Yuna menelan ludah, kalu menggeleng pelan.

"Anjir, mata gue..." batin Yuna.

"Matanya jangan jelalatan, Kakak mau mandi dulu. Nanti kalau udah selesai, tarun di sofa aja, ya." ucap Kenzo membuat Yuna salang tingkah.

"Ge-er!" desis Yuna.

"Bercanda, jangan ngambek." Kenzo terkekeh.

"Siapa yang ngambek?"

"Itu siapa yang lagi cemberut?" Kenzo mencolek dagu Yuna.

"Ah! Kenapa, sih? Aku nggak bisa marah sama Kak Kenzo?!" Kesal Yuna menyenggol badan Kenzo.

"Siapa suruh senggol-senggolan?"

Yuna berdecak kesal, mengagetkan! Ia pikir itu Jeno. Ternyata...

"Sini, ah. Gue duluan yang mandi, lo berdua mesra-mesraan dulu aja sana." Jeremy mengambil handuk yang berada di tangan Kenzo.

"Sok tau! Siapa yang mau mesra-mesraan?" sahut Yuna.

Jeremy tak menjawab, ia langsung masuk kedalam kamar mandi.

"Ya elah, gue udah buka baju. Sialan." umpat Kenzo.

Yuna hanya diam, tak tau harus menjawab apa.

"Sini, Kakak aja yang cuci." ujar Kenzo mengambil seragam yang sudah ada di tangan Yuna.

"Emang bisa?" tanya Yuna.

"Udah jago."

"Mau liat boleh?" tanya Yuna lagi.

"Mau liat pas nyuci bajunya atau mau liat badannya?" goda Kenzo.

"Apaan, sih." sahut Yuna.

Kenzo dengan telaten memasukkann air, detergent, dan seragamnya kedalam mesin cuci. Sambil menunggu, Kenzo membuka percakapan.

"Mau tanya dong."

"Tanya apa, Kak?"

"Asyikkk, di tembak nih gue." batin Yuna bersorak.

"Besok kan sabtu, kamu masuk sekolah?" Pertanyaan yang di lontarkan Kenzo sukses membuat ekspresi senang Yuna berubah menjadi masam.

"Masuk, Kak." jawab Yuna dengan ekspresi malasnya.

"Yah, baru mau diajak jalan. Tapi nggak papa, deh. Lain kali aja."

Wajah Yuna kembali menjadi cerah, "Ya udah, bo—"

"Sama gue aja kalau si Yuna nggak bisa." kata Jeremy tiba-tiba.

"Sabar banget ya Tuhan..." gumam Yuna pelan.

"Wah... boleh juga." Kenzo menjawab setuju.

"Gue mau ajak Jeno, tapi gue lagi ngambek. Dia selingkuh!" ucap Jeremy dramatis.

"Sejak kapan kak Jeno doyan selingkuh?" tanya Yuna.

"Yeu, lo nggak tau aja ada berapa mantannya." sahut Jeremy.

"Dia selingkuh? Sama siapa?" tanya Kenzo penasaran.

"Ya sama Helen lah! Kan gue pacarnya."

"Najis!" jawab Yuna dan Kenzo kompak.

"Gue mau mandi, awas." Kenzo mengambil seragamnya yang telah kering, lalu menyingkirkan tubuh Jeremy.

"Aduh! Kalau mau jatuh, ya jatuh aja! Nggak usah ajak-ajak, untung lo yang ketimpa! Kalau gue yang ketimpa sama badan lo? Mau jadi apa?! Lagian, jadi cowok kok lembek, di senggol dikit oleng." maki Yuna, membuat Kenzo membalikkan badannya.

"Mata lo, Jer." tegur Kenzo pada Jeremy yang fokus melihat wajah Yuna dalam dekat.

"Iye, maap." Mereka bangkit dengan wajah Yuna yang kesal.

"Bodo, gue laper." Yuna melangkah pergi menuju dapur.

"Ngambek kok ke dapur." sindir Jeremy.

Kenzo mengangkat bahu, kalu masuk ke dalam kamar mandi. Melaksanakan niatnya yang sempat tertunda, apa hayo?

Mandi, dong.

***

Jeno mengendarai motornya dengan kecepatan normal, is tersenyum kala mengingat wajah gadis cantik yang akhir-akhir ini terus mearns harinya.

Helen Nixea, gadis yang kini menyandang status sebagai pacarnya. Belum pernah Jeno merasakan hubungan yang seserius ini dengan perempuan.

Senyum Jeno seketika memudar, berubah menjadi senyum kecut. Bagaimana kalau Helen mengetahui pertaruhan ini? Bisakah Helen mengerti situasi yang menghimpit Jeno? Atau mungkin ia memilih pergi meninggalkan semua kenangan mereka?

Jeno belum siap untuk kehilangan Helen, hilangnya Juno belum bisa ia terima, bagaimana bisa ia kehilangan Helen?

Notifikasi chat Line berbunyi dari kantung jaket denim yang dikenakan Jeno. Jeno menepikan motornya, membaca chat tersebut.

Knzojulian
Udah arah pulang belum? Gue disuruh pulang nih sama nyokap, si Yuna nanti sendirian di rumah.

Jejejenoldr
Lagi di jalan.

Satu notifikasi chat masuk lagi,

Lennx

U

dah sampai?

Jeno kembali mengembangkan senyumnya, ia tak membalas chat Helen. Jeno segera menjalankan motornya, melajukannya dengan cepat. Tak sabar ingin kembali mendengar suara Helen via telepon.

Sebuah mobil melaju kencang dari arah yang berlawanan ketika Jeno menyalip. Kalian pasti tau yang terjadi.

Jeno tertabrak tepat dari depan, ia terjatuh tertimpa motornya sendiri. Beruntungnya, tidak ada mobil atau motor saat ia terjatuh. Kalau ada, mungkin sudah tamat riwayatnya.

"Ah, anjir!"

Ia mengumpat kala mobil yang menabrak langsung pergi dengan kencang, itu juga kalimat terakhir yang ia ucapkan sebelum dirinya jatuh pingsan.

Jeno [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang