"Apa-apaan kamu?!" bentak Papa Jeno.
Jeno mengerutkan alisnya kaget saat Papanya membentak.
"Papa yang apaan?" balas Jeno.
"Dia kembaran kamu!"
"Nggak usah bercanda, Pa. Nggak lucu! Lagian ini orang kenapa bisa ada di sini, sih?!" seru Jeno tak terima.
Mama Jeno mendekat, mengelus punggung Jeno. "Kamu pura-pura lupa ingatan, kan?"
Jeno diam sebentar lalu mengangguk. "Iya, Ma."
Mama Jeno tersenyum seraya mengelus kepala Jeno. "Tenang dulu, ya. Ini alasan Mama sama Papa jarang di rumah, kami mencari kembaran kamu. Moonbin yang biasa kita kenal Juno, Mama minta maaf, ya?"
"Papa juga minta maaf, Jen." sahut Papa Jeno.
Jeno masih diam, cukup berat menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini mendekati pacarnya adalah kembarannya yang juga di cari pacarnya. Rumit memang, tapi ini kenyataannya.
"Mama harap kamu bisa menerima Moonbin lagi di keluarga kita." ujar Mama Jeno.
"Kamu kenapa kasar sekali dengan Moonbin? Ada masalah apa?" tanta Papa Jeno.
"Masalah anak muda." jawab Jeno datar.
***
Moonbin POV
Sekarang gue sedang makan malam dengan keluarga asli gue, udah lama banget gue nggak ngerasain gak kayak gini.
Karena kecelakaan waktu itu, gue lupa ingatan dan berakhir dengan identitas baru gue dari Juno menjadi Moonbin.
"Juno." panggil Mama.
"Kenapa, Ma?"
"Ngelamunin apa, sih?" tanya Mama.
"Nggak kok, Ma. Oh iya, nanti aku tidur di mana?"
"Di kamar mang encup." cetus Jeno.
Apaan, deh. Gue nanya Mama bukan elo.
"Kembarannya nanya bukannya di jawab yang bener." tegur Papa.
Mampus lo.
"Bercanda, santai aja. Jangan baper gitu." Jeno tertawa renyah lalu menatap gue sinis.
"Juno, nanti tidur di kamar kamu yang dulu, sebelah kamar Jeno, ya." kata Mama dengan senyumannya.
"Eh? Jangan!!!" seru Jeno tiba-tiba.
"Kenapa lagi, sih?" geram Papa.
"Jangan ragu-ragu maksudnya, Pa, hehe. Santai aja dong mukanya, nggak usah garang gitu."
Papa terkekeh mendengar jawaban Jeno yang cringe itu.
"Untung bercanda, kalau beneran udah papa usir kamu dari rumah." sahut Papa.
Usir aja, Pa. Nggak apa-apa, gue ikhlas.
Setelah selesai makan, akhirnya Papa sama Mama masuk ke kamar dan tinggallah gue berdua sama kunyuk satu ini.
Gue iri sama Jeno yang bisa nikmatin indahnya punya keluarga sejak kecil, sedangkan gue sejak kecelakaan itu nggak pernah yang namanya di manja. Gue selalu disuruh untuk hidup mandiri, orang tua angkat gue memang dari keluarga berada, tapi mereka jarang di rumah.
Gue selalu kesepian, sampai akhirnya orang tua angkat gue meninggal dan ternyata warisannya nggak di kasih sedikitpun ke gue, warisannya hanya jatuh ke tangan kakak angkat gue.
Gue di kirim ke Indonesia sama Kakak angkat gue, kerja di sebuah bar milik dia. Dan di sinilah gue bisa ketemu Audrey.
Flashback on.
Audrey mengalungkan tangannya di leher gue, menyebut nama Jeno. Gue membawa Audrey masuk ke salah satu kamar bar yang khusus buat gue tidur, gue membaringkan Audrey di kasur.
Dia terus nyebutin nama Jeno dan gue belum kenal siapa itu Jeno, tak lama Audrey tertidur setelah mabuk karena banyak minum alkohol. Gue mengambil selimut, menyelimuti tubuh Audrey.
Gue ikut tertidur di sofa karena menjawab Audrey.
"Lo siapa?!" teriaknya di pagi hari.
"Calm down, girl. Saya nggak apa-apain kamu, semalam kamu mabuk jadi saya bawa ke sini."
"Bantuin gue balik ke Jakarta." Katanya.
"Balik aja sana sendiri! Uang saya pas-pasan untuk balikin kamu ke Jakarta, saya aja kerja kadang nggak di gaji." balas gue.
Audrey mendecak. "Ck! Bukan uang lo yang gue butuh, tapi tumpangan! Gue lagi pusing gini, masa lo suruh balik sendiri?!"
Gue diam, berpikir apa untungnya kalau gue bantu dia?
Seperti membaca pikiran gue, dia berucap, "Gue tau lo susah, ganti baju sana. Anterin gue ke Jakarta, lo ikut gue sekolah di Jakarta. Nanti semuanya keluarga gue yang biayain, tinggal bilang lo udah nyelamatin gue. Pasti keluarha gue mau nampung lo."
Gue pikir itu jalan terbaik, biar gue nggak perlu susah lagi. "Nggak ada syarat lain, kan?"
"Ada, lah! Lo harus ikutin apa yang gue mau."
"Oke."
Flashback off.
Bugh!
"Lo gila ya bengong terus!" Jeno melempar gue dengan bantal sofa.
"Suka-suka gue! Apa urusan lo?" Gue menatap Jeno tajam.
Jeno berdiri, gue menatap dia aneh. Harus jaga-jaga, kan? Siapa tau dia mau nonjok gue.
"Muka lo santai, gue cuma mau cuci tangan bukan mau nonjok lo." Jeno berbelok ke arah dapur.
Lalu kembali dengan tangan yang masih basah, dia menciptakan air yang ada di tangannya ke wajah gue.
"Gue bales lo!" kata gue berlalu meninggalkan Jeno sendiri.
Gue masuk ke kamar yang dibilang Mama tadi, kamarnya udah rapi dan wangi. Gue membaringkan tubuh gue di kasur, memejamkan mata seraya berpikir gimana cara ngerjain Jeno biar dia kapok.
Gue tersenyum menang saat menemukan ide untuk mengejar Jeno.
***
Author POV
Sekarang masih pukul 5 subuh, Moonbin telah beranjak dari kasurnya. Dia mengambil sesuatu dari tasnya, berjalan mengendap-endap memasuki kamar Jeno yang tidak di kunci.
Dengan menahan tawa ia berjalan mendekati masur Jeno, menaruh sesuatu lalu dengan cepat kembali menuju kamarnya memakai seragam sekolah.
Tinggal menunggu sampai Jeno terbangun. Sepuluh menit lebih dia menunggu, sampai akhirnya...
"ARGHHH!!! INI SIAPA YANG NARUH ULET KARET DI TANGAN GUE, KAMPRET!!!"
Seketika tawa Moonbin meledak di dalam kamar dengan Jeno yang histeris melihat ulat di tangannya meski hanya mainan.
Jeno itu badboy, nakal, jago berantem, tapi dia takut serangga!
***
Maaf yaaaa baru update... aku juga lagi nyiapin cerita baru untuk di publish setelah Jeno selesai.
Jangan lupa vote dan komen!!!
- Yessyccaf.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeno [COMPLETED]
Teen Fiction"Len, Jeno berulah lagi. Heh, Xi. Makan tuh, idola yang suka ngebully orang cupu." kata Nathania atau yang biasa di panggil Natha. Helen dan Xi yang merasa di panggil pun menoleh dan menatap kejadian tersebut. Helen yang geram dengan tingkah Jeno pu...
![Jeno [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/211808283-64-k312623.jpg)