Flashback on
Setelah sadar dari koma, Jeno memejamkan matanya sebentar karena tidak ada orang di ruangannya, sedangkan Yuna ada di luar.
Jeno merasakan ada orang yang masuk ke ruangannya, ia perlahan membuka matanya. Jika ia tau yang membuka pintu adalah Audrey ia bersumpah tidak akan membuka mata sampai orang itu pergi.
"Gimana keadaan kamu, Jen?" tanta Salsa mengelus pipi Jeno.
Jeno dengan keras menghempas tangan Audrey dari wajahnya.
"Kamu kasar banget, padahal niat aku baik. Cuma mau jenguk kamu." ucap Audrey yang beralih mengelus bahu Jeno.
"Jangan pegang-pegang gue, Drey." Jeno mengingatkan gadis cantik di sekolahnya itu.
"Kamu pasti kaget karena yang kamu liat pertama itu aku, bukan Helen." Audrey tertawa pelan, jika saja Audrey bukan orang jahat dan licik, kecantikannya sungguh tidak perlu diragukan lagi.
Audrey merogoh HP di dalam tasnya, ia membuka galeri. Menunjukkkan beberapa foto Helen dan Moonbin yang sedang pergi dan tertawa bersama.
Setelah itu, Audrey memutar sebuah rekaman saat Jeno membicarakn soal taruhan dengan sahabat-sahabatnya. Kedua hal itu sukses membuat Jeno diam membeku.
"Gimana, Jen? Cemburu? Pasti iya. Kamu liat sendiri Helen jalan sama Moonbin disaat seharusnya dia nemenin kamu." Audrey menghela napas sebentar.
"Soal rekaman, gimana jadinya ya, kalai Helen tau? Mungkin kalian bakal putus, iya kan?" Kini Audrey kembali melanjutkan ucapannya.
Jeno kini sungguh merasa kasihan dengan dirinya sendiri, kenapa ia harus mendekati Helen atas nama taruhan? Jika ia mendekati Helen dengan benar-benar, ia yakin tak akan jadi seperti ini. Dulu, memang dia yang berniat meninggalkan, sekarang justru dia yang takut ditinggalkan.
"Kenapa sih Tuhan masih kasih lo kesempatan buat hidup?" tanta Jeno sarkastik.
"Itu karena Tuhan masih kasih aku kesempatan untuk deketin kamu, kapan kamu sadar kalau aku beneran sayang sama kamu? Aku harus jadi orang jahat untuk dapat cinta kamu! Kalau dari dulu kamu bisa respon aku, nggak akan ada yang tersakiti, Jen."
"Kamu bahkan tau, nggak gampang untuk ngerelain orang yang kita sayang. Untuk menerima kalau dia deket apalagi pacaran sama orang lain itu susah, Jen." lanjut Audrey dengan suara yang melembut.
"Bukan mau aku untuk jadi orang jahat, Jen. Tapi, emang bener kata orang, cinta bisa merubah segalanya." Kali ini Audrey kembali melayangkan senyum yang sungguh benci Jeno.
"Mau lo apa?" tanya Jeno langsung pada intinya.
"Kalau Helen tau rekaman ini, mungkin dia bakal benci sama kamu,"
"Nggak usah basa-basi, mau lo apa?" tanta Jeno sekali lagi.
"Kamu harus pura-pura amnesia, gimana? Setelah itu kamu bisa kenalin aku sebagai pacar kamu. Perlakukan aku sama kayak kamu perlakukan Helen, kamu harus bisa mencintai aku kayaknya kamu cinta sama Helen." ucap Audrey menjelaskan apa yang dia inginkan.
"Yang terakhir nggak bisa."
"Oke, aku bisa buat Helen jauh lebih benci kamu."
"Iya, oke!" putus Jeno.
"Kalau bukan karena takut Helen benci gue, nggak bakal gue lakuin ini semua. Gue lebih baik putus daripada dibenci, tapi lebih bagus lagi kalau dua-duanya nggak kejadian." batin Jeno.
"Gitu, dong."
Flashback off.
Jeno POV.
See, gue benar-benar ngelakuin semua keinginan si cewek kesukaan om-om itu. Jelas-jelas gue liat Helen nahan tangis, tapi gue nggak bisa lakuin apa-apa.
Bahkan gue sukses bikin dia sakit hati dengan cara ngenalin Audrey sebagai pacar gue. Sungguh baik kamu Jen! Good.
Setelah Helen keluar dari ruangan gue, disini cuma ada gue, Mama, Papa, dan Audrey.
"Sebenarnya pacar kamu siapa, Jen?" tanya Mama.
"Ya Helen, dong, Ma!." Gue mau jawab ini,
"Audrey, Ma." Yang keluar malah ini.
"Terus Helen, siapa?" tanya Papa.
"Nggak tau, Jeno nggak inget." sahut gue.
"Helen itu PHO, Tan. Aku udah lama pacaran sama Jeno, dia terus-terusan deketin Jeno, maksa Jeno biar mau jalan sama dia dan ngenalin dia ke keluarganya. Dia bakal lakuin apapun untuk merusak hubungan aku sama Jeno, Tan." jawab Audrey.
Bangsat, ini nggak ada di persyaratan.
"Benar begitu?" tanya Mama yang berjalan mendekati Audrey.
"Iya, Tan. Aku hampir aja celana di perpustakaan waktu itu gara-gara Helen." Audrey merubah raut wajahnya menjadi menyedihkan, pengen banget gue tabok.
"Tante nggak tau Helen kayak gitu." Mama mengusap lembut rambut Audrey.
Ma, tolong dong jangan di usap, itu virus semua yang nempel.
"Mulai sekarang, Helen nggak boleh deket-deket kamu, Jeno." sahut Papa tiba-tiba.
Wah, bangsat emang si Audrey.
"Pa, kita keluar aja. Biar mereka bisa ngobrol berdua." kata Mama tersenyum.
Audrey melangkah mendekat saat Mama dan Papa keluar. "Mama kamu ngerti ya, kalau aku mau berduaan sama kamu."
"Lo nggak ada bilang kalau lo bisa jelek-jelekin Helen kayak gitu, ya."
"Kalau nggak di gituin, nanti Helen masih bisa deket sama kamu." jawabnya enteng.
"Gue ngelakuin ini biar Helen nggak benci sama gue bukan biar Helen jauh sama gue, anjing." maki gue.
"Omongan kamu kenapa jadi kasar? Padahal walaupun kamu badboy, kamu nggak kasar kalau soal omongan. Sini aku bantu, biar omongan kamu nggak kasar lagi."
Audrey mendekatkan wajahnya ke wajah gue, anjir gue mau diapain ini, woy?! Audrey menekan jarum infus di tangan gue, sengaja biar gue kesakitan dan nggak bisa berontak. Licik banget.
BRAK!
Suara gebrakan pintu terdengar nyaring, membuat Audrey menjauh kaget.
"KAK AUDREY MAU NGAPAIN KAK JENO?!" teriak Yuna.
***
GAIS GAIS GAIS BESOK LAGU COMEBACK NCT DREAM KELUAR!!! STAY TUNE DI YOUTUBE YAAA!
Seneng bgt mereka comeback walaupun ini yang terakhir di NCT Drema dan tanpa Mark juga. Tapi aku seneng juga, karena nanti mereka bakal ada grup baru dan anggotanya tetep mereka bahkan Mark katanya mau gabung sama mereka juga, huhu, mau nangis😭
Maaf jadi curhat:")
Jangan lupa vote sama komen, yaaa.
Yessy minta maaf baru bisa up sekarang, mian🤗🙏
- Yessyccaf
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeno [COMPLETED]
Teen Fiction"Len, Jeno berulah lagi. Heh, Xi. Makan tuh, idola yang suka ngebully orang cupu." kata Nathania atau yang biasa di panggil Natha. Helen dan Xi yang merasa di panggil pun menoleh dan menatap kejadian tersebut. Helen yang geram dengan tingkah Jeno pu...
![Jeno [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/211808283-64-k312623.jpg)