"Halo?"
Wendy menjauhkan handphone dari telinganya, kembali membaca nama yang tertera di layar. Benar, nomor yang ia telfon milik Chanyeol. Tapi kenapa yang ia dengar suara seorang perempuan.
"Halo? Kau siapa?" Tanya Wendy,
"Aku?? Minako."
Alisnya saling bertautan, keningnya juga mengernyit semakin terheran. Pagi tadi dia menelfon nomor yang sama dan dengan jelas suara Chanyeol yang ia dengar, aneh jika malam ini handphonenya diambil alih orang lain. Tidak, mungkin saja salah satu teman studionya kebetulan mengangkat telfon untuknya.
"Chanyeol ada dimana? Bisa kau berikan padanya sebentar?" Badannya yang semula duduk di tepi kasur, kini beranjak dan berjalan kesana kemari di depan sofa kamar hotelnya.
"Chanyeol oppa? Dia sedang mengambil se-"
Dia berhenti, Wendy juga terdiam untuk sesaat. Hanya ada suara nafas teratur, tidak ada kelanjutan dari ucapan perempuan tersebut. Wendy tidak tahu apa yang terjadi, dan tidak mau peduli juga tentang perempuan tadi yang memanggil Chanyeol dengan sebutan "Oppa", dia segera memutuskan sambungannya.
Badannya meluncur pada sofa, dia menatap langit-langit kamarnya bersama keheningan. Handphonenya yang bergetar tak dihiraukan, apakah ini yang Chanyeol katakan akan ada kesalahpahaman? Wendy memejamkan matanya, mengambil nafas berat dan menghembuskannya perlahan.
Mungkin kita butuh waktu, gumam Wendy pelan.
Handphonenya kembali bergetar untuk yang kesekian kali, kini ia melihatnya sebentar. Orang yang berbeda, orang yang ingin sekali ia hindari tetapi takdir berkata lain. Wendy hanya merasa senang di dekatnya, bukan, senang dalam artian dia punya teman untuk meluruhkan segala keluh kesahnya. Dia seperti kembali seperti dulu, dimana yang ia tahu hanyalah musik dan belajar. Tidak ada tuntutan yang mengekang seperti saat ini.
Tanpa sadar bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman, nafas tertahannya berhembus lega.
"Shon, still up?"
"I am." Sahut Wendy.
"Latenight tea?"
Wendy berjalan kearah ranjangnya, menyambar card-keys bersama mantelnya, "Sure, I wanna talk about something."
Setelah memutuskan sambungan telfon, Wendy tak lupa untuk memberi kabar pada membernya pada groupchat mereka, jika ia pergi keluar malam ini. Sebelum besok harus kembali melanjutkan konser tournya ke Vancouver, ia ingin menghabiskan waktu di Toronto sedikit lama.
Angin malam yang dingin berlomba menerpa wajah Wendy, membuat rambutnya yang terurai sedikit berkibar. Ia tarik kedua tangannya saling menyilang, merapatkan jaket agar udara dingin tidak merambat kedalam tubuhnya. Jalanan Toronto terlihat sedikit ramai hari ini, lampu-lampu jalan berkilauan dengan banyak orang berlalu lalang di bawahnya.
Wendy berjalan diatas trotoar yang basah, suara boots yang ia pakai teredam keramaian. Pikirannya berkeliaran, masih memikirkan Chanyeol yang sudah menyerah menghubunginya.
Ya, mungkin dia sedang sibuk. Pikirnya, ia sedikit menggelengkan kepala. Antara menghempaskan angin dingin dan menjauhkan pikiran negatifnya.
Suara bel diatas pintu yang didorong oleh Wendy membuat laki-laki yang sedang menunduk itu menengadahkan kepalanya. Ia melambai kearah Wendy mengisyaratkan jika dia duduk disana. Menyambut Wendy yang berjakan kearahnya, dia tersenyum.
"Apa kau sudah menunggu lama, Mark?" Tanya Wendy.
Mark menggelengkan kepala sebagai jawaban, "Latte hangat?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Room [ WENYEOL ] ✔️
FanfictionChanyeol dan Wendy, pertemuan mereka di dalam ruang latihan. Dimana mereka memulai dan mengakhiri semuanya. Setelah melewati banyak hal yang sangat rumit, dari rumor dating, pengakuan agensi, sampai kisah mereka dengan orang ketiga. Tidak ada roman...