제 33 휘 ❝ The Suffer and Struggle. ❞

1.3K 210 84
                                    

"People say I still have to suffer and I should do for a while. Then I would be able to forget you. But I don't really like the words, so I just cried."

play the multimedia and repeat it.

Hanya ada suara elektrokardiograf yang berdetak teratur serta humidifier yang berhembus begitu tenang. Chanyeol duduk tepat di samping ranjang Wendy yang belum tersadar hingga kini, ia menggenggam tangannya sangat erat sambil sesekali mengusapnya lembut. Tidak ada kegiatan yang Chanyeol lakukan selama empat hari terakhir ini selain menemani Wendy. Tidak ada yang bisa menghentikannya, ia kini bahkan tidak lagi peduli dengan pekerjaannya. Dari managernya, Suho dan membernya, bahkan ibunya yang selalu menelpon sekalipun, Chanyeol tidak akan pernah meninggalkan Wendy sendirian. Ia akan berdiri dari tempatnya jika ia dipaksa makan oleh lainnya.

Chanyeol menatap Wendy dengan sendu, perempuan yang beberapa hari lalu masih berlari memeluknya sambil menangis itu kini terbaring begitu damai tanpa mengatakan kapan ia akan sadar. Tangannya terulur mengusap lembut pipi Wendy dan beralih merapikan anak rambut Wendy yang sedikit berantakan, "Aku merindukanmu." Lirihnya sangat pelan, hampir seperti bisikan.

Tidak ada sahutan sama sekali, "Apa kau tidak akan bangun jika aku masih menemanimu disini?" Tanya Chanyeol, ia tetap saja berbicara meskipun dengan jelas tahu jika tidak akan ada yang meresponnya.

"Haruskah aku benar-benar pergi?" Chanyeol menatap tangannya yang masih menggenggam tangan Wendy itu.

Perlahan ia merendahkan badan dan menaruh kepalanya pada sisi kosong ranjang Wendy, "Jika kau membuka mata esok hari, aku berjanji tidak akan memaksa kita untuk bersama. Aku berjanji.." Ujarnya pelan, dalam diam ia menatap Wendy sebagai pengantar tidurnya. Lima menit setelah mengatakan hal tersebut, Chanyeol tertidur dengan tangan yang masih terpaut bersama tangan Wendy.

Benar kata Suho, Chanyeol akhir-akhir ini menangis dalam tidurnya. Saat ini dia tanpa sadar mengelus punggung tangan Wendy dengan ibu jarinya sambil meneteskan air mata. Malam ini Irene datang bersama Suho untuk memantau keadaan Wendy dan juga Chanyeol, tapi ia melihat pemandangan yang tak pernah dibayangkannya. Lelaki yang selalu ambisius dan sangat kompetitif itu kini meunduk lemah dengan bahu lusuhnya. Untuk pertama kalinya ia melihat Chanyeol meneteskan air matanya, bahkan dalam keadaan tidak sadar. Rasa sakit itu dapat Irene rasakan.

Sungguh demi apapun ia tidak tahu jika kisah cinta Chanyeol dan Wendy bisa berakhir seperti ini. Hanya karena satu wanita yang dendamnya tidak pernah terpuaskan, mereka berdua justru yang menjadi korbannya. Suho berjalan kearah Chanyeol dan menepuk pundaknya pelan berusaha untuk menenangkan lelaki itu dalam mimpinya. Bukannya membuka mata untuk bangun, Chanyeol semakin menempelkan pipinya pada tangannya yang terpaut. Dia tidur dengan damai kali ini.

Suho menghela nafasnya pelan, "Dia selalu menangis dalam tidurnya belakangan ini, entah apa yang harus aku lakukan sekarang untuk membangkitkannya kembali." Ujar Suho masih dengan menepuk pundak Chanyeol. Irene yang berada di sebelahnya itu perlahan mendekatinya dan mengusap lengannya pelan.

"Dia akan baik-baik saja, kita semua tahu bahwa Chanyeol adalah sosok yang tidak akan pernah menyerah. Percaya padaku." Suho menolehkan wajahnya dan tersenyum lembut. Ia meraih tangan Irene dan membawanya duduk pada sofa yang ada di dalam ruangan.

"Kau tidurlah, sudah empat hari ini juga kau sibuk mengurusi banyak hal." Kata Suho yang tangannya segera menarik kepala Irene untuk bersandar pada bahunya.

Tangan mereka masih saling bertautan dan Irene mulai memejamkan matanya, "Semoga hari ini waktu cepat berlalu dan semuanya akan baik-baik saja."

Suho meliriknya sebentar, kemudian ia mengusap pelan rambut Irene dengan tangan kirinya, "Aku juga akan berharap hal yang sama."

Room [ WENYEOL ] ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang