Salah Paham 🍂

1.9K 120 3
                                    

Manusia dibentuk dari keyakinannya. Apa yang ia yakini, itulah dia.

Konsentrasikan pikiran Anda pada sesuatu yang Anda lakukan Karena sinar matahari juga tidak dapat membakar sebelum difokuskan.

Jangan mencari kawan yang membuat Anda merasa nyaman, tetapi carilah kawan yang memaksa Anda terus berkembang.

🌹





Malam ini aku meminta agar mas Fahri mau mengajakku jalan-jalan sambil menikmati malam yang indah ini. Namun dengan tegas ia menolak ajakan ku katanya malam ini ada acara dirumah. Setahuku ku cuman acara kumpul-kumpul keluarga aja, mungkin mereka ingin melepas rindu.

Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang king size milikku, siang tadi benar-benar membuatku lelah. Aku memandang langit-langit kamarku dengan tatapan kosong, seketika wajah ustadz Fariz ada disana, aku langsung mengusap wajahku dan beristighfar, memikirkan seorang yang bukan mahram itu dosa.

Kulirik jam dinding yang tergantung sempurna di dekat meja belajarku, ah ternyata sudah malam. Biasanya jam segini aku sudah tidur tapi kenapa malam ini terasa lapar. Akupun bergegas mencari kerudung instan dan memakainya, lalu aku pergi kelantai bawah untuk mengambil cemilan di dapur.

Kudengar suara gelak tawa di ruang tamu sangat nyaring terdengar, suaranya ada yang sangat asing pula. Apakah lagi kedatangan tamu? Aku mengangkat kedua bahuku acuh tak acuh.

Saat aku membuka pintu kulkas aku mendengar suara bas yang tak asing itu menyebut nama Ning Fauziah. Rasa penasaranku mulai muncul, kuurungkan niat mengambil cemilan. Kaki ku berjalan pelan menuju ruang tamu. Aku berhenti dibalik dinding ruang tengah yang menghubungkan ke ruang tamu.

"Jadi gimana nih kyai, lamaran kami terhadap putrimu diterima tak" kata seorang pria paruh baya itu.

Tunggu? Lamaran? Apa ustadz Fariz mau melamar Ning Fauziah? Ah tidak tidak! Itu tidak boleh terjadi.

"Putri yang mana nih, putri saya ada dua. Tapi yang satu lagi ada di kamarnya" jawab ayah.

Kuperhatikan pria paruh baya itu melirik ustadz Fariz yang tengah menunduk "Yang ini kyai, kayaknya Ning Fauziah ini cocok buat putra saya yang agak songong"

Seketika ustadz Fariz langsung memandang Ning Fauziah dan pria paruh baya itu secara bergantian dan kemungkinan besar itu adalah ayahnya.

Aku bersandar pada dinding dan luluh kelantai, kakiku, hatiku, jiwaku, ragaku semuanya nampak lelah. Kepalaku mulai terasa pusing, kata-kata itu mulai terngiang di telingaku dan menyambar kedalam hatiku.

Sakit namun tak berdarah!!

Itulah yang kurasakan saat ini, aku memegang dadaku yang terasa sesak. Bulir bening mulai mengalir di pipiku langsung kuusap air mataku dengan kasar. Aku berlari kekamar dan mengambil kunci mobil, dengan ragu aku menemui kerumunan keluarga itu dengan menunduk. "Mau kemana key?" Tanya mas Fahri

"Mohon ijin, ayah. Key mau ngambil buku yang ketinggalan di pondok" kataku.

"Biar mas temenin ya, ini udah malam anak gadis gak boleh keluar malam takut terjadi sesuatu" kata mas Fahri.

Aku menolak tawarannya dengan lembut dan akhirnya ayah memberiku ijin, sebelum benar-benar pergi aku melirik ustadz Fariz, ia kelihatan sangat kecewa namun ntah apa yang membuatnya seperti itu. Harusnya ia bahagia karena sudah mengkhitbah pujaan hatinya, saat ia melihat kearahku aku langsung pamit dan bergegas keluar.

Cinta Dalam Ikhlas [TERBIT] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang