💨💨💨
💨💨
💨
"Terbang setinggi-tingginya dengan resiko jatuh serendah-rendahnya."
Venus kembali ke kelas dengan perasaan hampa. Ia seperti tercekik saat tadi Mars melepaskan tangannya begitu saja di hadapan gadis cantik yang Venus sendiri tak tahu siapa. Kedua sahabatnya yang melihat ekspresi sedih di wajah Venus pun mendekatinya dan menanyakan masalahnya. Tapi Venus dengan terpaksa berbohong dan mengatakan pada mereka bahwa dirinya baik-baik saja.
Apa harus sesakit ini untuk merasa bahagia? Tanya Venus pada dirinya sendiri. Sesaat setelah itu, Mars masuk ke kelas dengan wajah gusar. Baru saja Venus hendak menyapa pacarnya itu, laki-laki itu langsung melewatinya begitu saja tanpa menoleh sedikitpun pada dirinya. Mars lalu duduk menopang kepalanya dengan kedua tangan terlipat di meja.
Apa sebenarnya masalah gadis itu dengan Mars hingga membuatnya kembali dengan wajah masam begini? Ada hubungan apa mereka? Pikir Venus saat itu.
Melihat Mars yang tidak baik-baik saja, bahkan menyapanya saja tidak, Venus pun memilih pulang menggunakan bus seperti yang ia lakukan dahulu sebelum ia menjadi kekasih Mars. Sampai di rumah, ia malah disambut dengan amarah yang menggebu-gebu dari Ibu dan Kakak tirinya.
"Kamu habis darimana aja hah? Kamu tahu enggak, Vino pulang babak belur gara-gara kamu!!!" marah Vani pada anak tirinya itu. Venus mengernyitkan dahi bingung.
"Maksud Ibu apa?" tanyanya polos.
"Alah gak usah sok gatau deh lo. Gara-gara temen-temen lo yang dendam sama lo itu, mereka jadi nyerang Vino tau gak!" sela Vera.
Venus membelalak tak percaya. Ia hendak menemui Vino yang saat sudah dibawa ke rumah sakit namun langkahnya ditahan oleh Vera. "Lo enggak boleh ikut atau nengokin Vino di rumah sakit, keberadaan lo cuma akan mengancam nyawanya tau gak! Bilang sama temen-temen lo, kalau benci sama lo ya masalahnya sama lo aja, jangan bawa-bawa adik gue." Bentak Vera tak terima. Ia terlihat begitu kesal karena adik bungsunya pulang dengan sekujur tubuh terbalur darah.
Dengan perasaan teriris, Venus terpaksa tak bisa ikut menyusul adiknya yang saat ini tengah dirawat di rumah sakit. Ia bahkan tidak tahu siapa gerangan yang teganya memukul Vino hingga ia babak belur seperti itu.
Ia lalu masuk ke kamarnya sesaat setelah Vera dan Ibu tirinya pergi. Di sana ia menangis lagi. Hari ini benar-benar terasa berat untuknya. Tak hanya di sekolah, bahkan di rumah pun ia menerima perlakuan buruk. Dulu ia berpikir setelah ia merubah penampilannya, mungkin perlakuan orang-orang padanya juga akan berubah. Namun sebaliknya, beberapa orang masih saja tetap membencinya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] - Inner Beauty
Teen FictionVenus adalah gadis yang polos, baik, dan ramah tapi ia gemuk. Venus selalu berusaha untuk diet. Beruntunglah ia punya dua sahabat yang selalu berada di sampingnya yaitu Althea dan Abelia. Mereka berdua selalu mendukung Venus. Abelia-gadis mungil ya...
![[END] - Inner Beauty](https://img.wattpad.com/cover/158821001-64-k977934.jpg)