04. Aneh

19.2K 1K 15
                                        

Pagi ini Sylvia sudah bersiap dengan seragam lengkapnya dan ia beranjak untuk menuruni tangga.

Selama berjalan, Sylvia berdoa 'semoga saja tidak ada yang membuatnya kesal hari ini,' seperti itulah doanya.

Memang Sylvia tidak menampakan sikap aslinya kepada siapapun kecuali Lans. Ia bersikap seperti biasa yang ia lakukan, tersenyum.

"Syl." Panggil seseorang saat Sylvia menginjakan kaki di anak tangga terakhir. Sylvia terlonjak kaget dan menoleh kearah asal suara. Ia melihat Bunda-nya yang memanggil.

Sylvia berjalan menuju Bunda sambil menunduk dan merapalkan banyak doa agar tidak dimarahi sekarang.

Sylvia berhenti di depan meja makan masih sambil menunduk.

"Ekhm... kamu sarapan bareng kita ya." Ucap Bunda canggung.

Sylvia kaget dengan ucapan Bunda. Perlahan ia mengangkat kepalanya dan melihat kearah Bunda.

Sylvia melihat raut wajah Bunda yang sayu dan mata memerah agak sedikit bengkak. Apakah Bunda-nya tadi malam habis menangis? Ia hanya mampu bertanya dalam hati.

Sylvia mencoba menetralisir detak jantungnya yang berpacu begitu cepat. "Kenapa bun?" Tanyanya memastikan apakah pendengarannya rusak atau bagaimana sambil masih melihat ke manik mata Bunda.

Bunda mengalihkan pandangan dari putri-nya itu kearah lain. "Duduk. Sarapan bareng kita." Lanjut Bunda.

Sylvia nampak berfikir sejenak. Tak lama ia pun tersenyum setelah mencerna kata-kata Bunda tadi. lalu, ia mendudukan dirinya di kursi samping Lans. Dan satu hal lagi yang membuat Sylvia semakin tersenyum lebar. Bunda-nya yang kali ini yang memasak. Entahlah, ada apa sampai mereka menjadi seperti ini. Tetapi, Sylvia senang jika mereka bisa kembali seperti masa ia kecil dulu. Walaupun Sylvia ingat tidak ingat saja.

~o0o~

Disebuah tempat yang sepi... sangat sepi. Masih di area sekolah. Sylvia duduk di sebuah taman belakang sekolah yang nampak angker. Namun, tidak berpengaruh bagi Sylvia.

Ia melamun di tambah lagi suasana hening begini semakin mendalamkan aksi melamunnya.

Ia berfikir, sebenarnya ini ada apa? Kenapa Bunda-nya seperti itu, bukan... bukan, maksudnya kenapa Bunda-nya berubah drastis seperti itu. Ada apa dengan Bunda-nya.

Selalu pertanyaan itu yang terngiang-ngiang di pikirannya. Sampai ia tidak menyadari bahwa dari tadi ada orang yang duduk di sampingnya sambil melihat wajah Sylvia.

"Lo ngapain si?" Bisik orang tersebut tepat ditelinga Sylvia yang membuat Sylvia merinding serta kaget sekaligus berdiri dari duduknya.

Sylvia menatap nyalang orang tersebut. "Heh! Lo ngapain duduk disitu. Pake acara ngagetin lagi." Kesal Sylvia.

"Salah sendiri dari tadi ngelamun. Tempat sepi gini? Kesambet mampus lo." Ucap orang tersebut.

Sylvia memutar bola matanya malas. "Murid baru belagu." Gumam Sylvia dan melangkah kan kakinya menjauh dari tempat ini.

Roland malah senyam-senyum sendiri setelah berhasil menjaili Sylvia. Jujur, ia mulai tertarik dengan Sylvia dan niatnya sudah bulat untuk mendekati gadis tersebut.

The Devil Cruel [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang