Pada malam hari, Sylvia tetap berkurung di kamarnya sambil melamun melihat malam yang tiada bintang karena sebentar lagi hujan.
Melamun adalah aktivitas yang sering sekali Sylvia lakukan jika sedang berada di kamar seperti ini.
Ia sempat berfikir, kapan semua ini akan berakhir? Kapan ia akan mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya? Kapan... kapan... semuanya serba kapan.
Lama-lama pusing juga memikirkan masalahnya yang tiada henti ini.
Tok...
Tok...
Tok...
Buyar lamunannya oleh ketukan pintu kamarnya. Ia melihat kearah pintu dan melihat Lans menyembulkan kepalanya di pintu.
Lans masuk perlahan. "Abang masuk ya." Sambil menutup pintu kembali. Perlahan ia berjalan menuju Sylvia yang tengah duduk dikasur.
Dielusnya sayang puncak kepala Sylvia. "Mau cerita hmm?" Tanyanya.
Sylvia masih diam saja dengan tatapan kosong kedepan.
Lans perlahan membawa Sylvia kedekapannya sambil mengelus rambut Sylvia.
Sylvia menangis dalam diam. Berusaha sekuat yang ia bisa untuk tidak mengeluarkan isakan tangisnya.
Lans mengetahui Sylvia menangis karena merasa bajunya basah dan bahu Sylvia yang bergetar. Lans makin mengeratkan dekapannya pada Sylvia.
"Kapan semua ini berakhir bang?" Setelah sekian lama dirinya terdiam. Akhirnya Sylvia bersuara juga walaupun suaranya bergetar. Dan saat itu juga, kilat menyambar yang disusul oleh derasnya hujan, seakan-akan mengerti dengan perasaan Sylvia saat ini.
Lans masih diam saja. Ingin mendengar keluh kesah adiknya ini.
"Kenapa... kenapa semua jadi kaya gini? Kenapa semua seakan-akan benci sama aku? Apa salah aku selama ini sama mereka? Capek... capek sudah aku bang ngejalanin semua ini. Ngga sanggup untuk semua. Aku... aku bahkan ngga ngerti apa-apa sama semua ini dengan tiba-tiba aja semua berubah." Pecah sudah tangis Sylvia. Ia memeluk Lans erat. Hanya Lans satu-satunya orang yang berarti bagi dirinya.
"Dengar... dengar, semua ini ujian untuk kamu. Ngga mungkin yang kuasa ngasih ujian yang ngga sanggup di jalani sama makhluknya. Kamu cuma harus bersabar aja untuk ngejalaninnya. Abang yakin, suatu saat nanti kamu akan dapatkan yang kamu mau." Ucap Lans yang masih mengelus puncak kepala adik kesayangannya itu.
"Aku bukan robot yang seenaknya dimainin sama orang. Aku juga punya hati. Aku juga punya Batas kesabaran. Tinggal tunggu waktunya aja aku pergi dari sini." Ucap Sylvia sambil melepaskan pelukannya.
Lans tentu kaget dengan penuturan dari adiknya ini. Sebegitu sakit kah yang ia alami selama ini. "Ngga... ngga, kamu ngomong apa sih. Pake pergi pergi segala. Ngga pokoknya kamu tetap disini-"
"Dan ngurus rumah segede gini." Potong Sylvia cepat. "Abang nyadar ngga sih? Selama ini siapa yang ngurus rumah gede gini. Bersih ini lah bersih itu. Masak ini lah, itu lah. Cape bang... ngga sanggup aku ngurus semuanya. Bayangin aja, tiap hari aku kerjain itu semua sendirian. Tapi ngga papa. Selama itu bikin mereka bahagia, aku rela kok ngorbanin semuanya demi mereka." Dengan senyum palusnya.
Ucapan Sylvia sukses membuat Lans terdiam. Ia menyadari suatu hal, benar yang dikatakan adiknya. Semua ini ia sendiri yang mengurusnya. Pasti capek... sangat capek malah. Kini, Lans sudah mengetahui sebegitu sulitnya ujian yang ia terima. Wajar saja jika Sylvia memilih menyerah dan pergi.
Dengan cepat Lans memeluk Sylvia erat, semakin erat sambil meletakan kepalanya di bahu Sylvia.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada orang yang mengintip dari celah pintu kamar Sylvia dan mendengar semua pembicaraan Lans dan Sylvia.
Terlihat raut wajah orang tersebut berubah drastis. Sayu dan sudah terlihat nampak wajah yang merasa bersalah dengan apa yang mereka lakukan.
"Ternyata selama ini dia cuma pura-pura kuat." Ucap orang tersebut.
"Selama ini, salah kah kita memperlakukan putri kita kaya gitu yah?" Ucap yang lainnya.
"Ngga tau bun. Ayah juga baru liat putri ayah serapuh itu. Selama ini dia nyimpen semuanya sendiri." Ucap orang yang lainnya menanggapi.
"Selama ini dia ternyata terluka. Terlalu dalam." Ucap orang yang pertama bicara.
Setelah sekian lama mereka pergi perlahan menjauh dari tempat tersebut dengan langkah gontai.
Kembali lagi dengan Sylvia dan Lans. Posisi mereka masih sama, berpelukan.
Lans melepaskan pelukannya dan ia melihat Sylvia yang sudah tertidur. Lans pun terkekeh melihat adiknya tertidur dipelukannya.
Nyaman ya di pelukan abang sampe tidur gini' Batin Lans sambil tersenyum melihat wajah tenang Sylvia.
Perlahan ia merubah posisi tidur Sylvia, agar lebih nyaman dan tidak sakit saat bangun paginya.
Lans memutuskan untuk tidur bersama Sylvia. Ia merebahkan badannya disamping Sylvia dengan badannya kesamping untuk melihat adiknya.
Dielusnya pipi Sylvia dengan ibu jarinya dan beralih keatas. Ia melihat mata Sylvia yang bengkak karena sehabis menangis tadi. Pasti lelah menangis apalagi dalam tempo lama.
Lans mengecup kedua mata Sylvia beralih mengecup hidung Sylvia lalu yang terakhir pipi Sylvia.
Lans pun ingin menyusul Sylvia ke alam mimpi. Perlahan tapi pasti, ia menutup matanya sambil memeluk Sylvia dari samping, seperti memeluk guling.
T B C
.
.
_____________________________________
Beda jauh sama yang versi aslinya. Wkwk
Tapi semoga suka lah ya sama versi revisi-nya.
♡︎シ︎
KAMU SEDANG MEMBACA
The Devil Cruel [COMPLETED]
DiversosSebenarnya, ia ditakdirkan untuk bahagia atau tidak? Sylvia Queenella, Kini, ia yang tidak disangka akan berubah 180° dari sikap aslinya. Siapa sangka ia akan memasuki dunia gelap yang sangat dihindari oleh kebanyakan orang. Sikapnya pun dingin, dat...
![The Devil Cruel [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/218641726-64-k972037.jpg)