Semua yang telah terjadi selama beberapa minggu ini selalu merasuki pikiran Sylvia. Padahal selama ia berdekatan dengan Roland, memang iya sih rada deg-degan. Tapi itu pas awalan saja. Entah kenapa semakin lama semakin perasaan ini muncul pada dirinya. Gimana ya? Kaya ingin mempunyai seutuhnya. Dan itu ia menginginkan Roland untuk dirinya saja. Egois memang, tetapi memang begitu dianya.
Perasaan yang ia pendam selama ini untuk Roland tidak ia tunjukan kesiapapun. Anggap saja sikapnya biasa saja atau bahasa gaulnya kalau kata anak muda jaman sekarang itu B aja. Tetapi, itu semua tidak mungkin kan ia pendam begitu lama? Pasti ada saatnya semua itu diketahui dan ia juga membutuhkan teman curhat. Ya cuma ia tidak ingin orang-orang tau. Cukup dirinya saja yang mengetahuinya.
Semalam, ia tidak bisa tidur karena memikirkan perasaannya dan pikiran-pikiran negative hinggap di benaknya. Misal, gimana kalau dia ngga suka gue? Gimana kalau dia tau tentang ini? Apa dia akan menjauh? Begitulah pertanyaan-pertanyaan yang hinggap di benak Sylvia.
Beberapa kali juga ia menghela nafas karena ini semua. Mengingat tentang ini lagi membuatnya resah tak karuan. Entah apa penyebabnya.
Sekarang dirinya tengah berada di taman dekat kompleksnya. Setelah pulang sekolah tadi ia memilih untuk ketaman, tentunya setelah mengganti baju. Kebetulan ini sudah sore, jadi sekalian saja ia melihat sunset. Pikir Sylvia.
Yang ia lakukan hanya melamun sejak tadi. Ia merutuki dirinya yang mempunyai perasaan lebih terhadap Roland, sahabatnya. Benar kata orang-orang. Tidak ada persahabatan lawan jenis, pasti salah satunya ada yang menyukai dari salah satunya. Dan itu semua yang dirasakan Sylvia akhir-akhir ini.
Apalagi ia melihat Roland yang banyak disukai oleh siswi-siswi dan itu belum 100% untuk dirinya mendapatkan Roland.
Kenapa harus punya perasaan kaya gini?
Lama ia melamun sambil menatap matahari terbenam tersebut.
Ia sempat terkejut merasakan bangku besi yang ia duduki sekarang bergoyang. Dengan otomatisnya ia menoleh kearah samping dan ia sempat terkejut melihat keberadaan Roland disampingnya. Entah dari mana anak ini mengetahui dirinya berada disini.
Tidak ada percakapan diantara mereka. Hening. Sylvia sudah beberapa kali meneguk saliva nya, ia menjadi rada gelisah jika berada didekat Roland. Dengan sikapnya seperti ini membuat Roland bingung. Sudah beberapa minggu terakhir sikap Sylvia berbeda. Ia tidak seakrab dulu dengan Roland dan tidak seromantis seperti dulu lagi. Pikir Roland. Ia rindu Sylvia yang dulu. Bukan Sylvia yang sekarang, yang lebih pendiam dengan dirinya.
"Syl,"
"Land,"
Dalam waktu bersamaan mereka berkata dan itu membuat mereka saling pandang sebentar.
"Lo aja dulu," ucap Roland.
"Ngga! Lo aja duluan," tolak Sylvia.
"Ekhm... sebenarnya gue mau nanya sama lo?" Roland mulai menatap Sylvia.
Sylvia menunggu kelanjutan ucapan Roland yang mampu membuatnya penasaran. Sempat juga ia merutuki Roland yang lama sekali mengatakannya.
"Kok lo berubah sekarang?"
"Hah? Berubah? Berubah gimana maksud lo?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Devil Cruel [COMPLETED]
CasualeSebenarnya, ia ditakdirkan untuk bahagia atau tidak? Sylvia Queenella, Kini, ia yang tidak disangka akan berubah 180° dari sikap aslinya. Siapa sangka ia akan memasuki dunia gelap yang sangat dihindari oleh kebanyakan orang. Sikapnya pun dingin, dat...
![The Devil Cruel [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/218641726-64-k972037.jpg)