Saat ini, Sylvia berada di mobil Roland. Tumben sekali ia membawa mobil biasanya motor, bukan? Katanya, biar pada saat pulang sekolah nanti sang kekasih tidak kepanasan. Alasan yang logis. Sylvia pun hanya meng-iyakan saja.
Saat memasuki gerbang sekolah tidak heran jika para siswi berteriak histeris kala melihat mobil ini memasuki area parkir. Bukan hanya sekali dua kali Roland memakai mobilnya, tetapi jarang-jarang yang artinya bukan sekali dua kali pakai.
Setelah Roland keluar dari mobilnya suara histeri semakin lama semakin lebih kerasa. Karena ketampanan Roland, mungkin. Tetapi Sylvia akui sang kekasih ini memang tampan. Jadi tidak heran lagi.
Seketika, teriakan siswi-siswi memelan karena mereka melihat Roland berjalan memutari mobilnya. Mereka berbisik-bisik. Siapakah yang sedang bersama Roland? Semakin lama, siswi-siswi dilanda rasa penasaran yang begitu besar. Kala orang yang Roland bukakan pintunya tidak kunjung keluar. Apakah ia seorang lelaki? Ah, mana mungkin Roland membuang 30 detiknya untuk memutari mobil ini dan lebih parahnya lagi membukakan pintu. Fix, bukan tipekal Roland.
Sylvia melirik sekilas tangan yang terulur didepan wajahnya dan beralih menatap Roland yang tengah tersenyum kearahnya. Dengan ragu Sylvia menerimanya dan perlahan keluar dari mobil Roland.
Kini, mereka berjalan berdampingan dengan tangan yang saling bertautan. Siswi-siswi pun langsung ber-oh ria kala melihat Sylvia yang bersama Roland. Masih ingat bukan? Ini bukan hal baru bagi pasangan sejoli itu. Jadi tidak heran jika siswi-siswi tidak terkejut.
Sesampainya dikelas, Sylvia berjalan duluan dari Roland dan melepas tautan tangan mereka. Segera ia mendudukan dirinya di kursinya setelah menyuruh Nita untuk berdiri sebentar. Karena posisinya didekat tembok.
"Eum Syl, lo udah Pr Fisikan belom?" Tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari Hp miliknya.
"Hah? Emang ada Pr kah Fisika?" Tanyanya sambil mengingat-ingat kembali.
Tak seberapa lama kemudian,
"YA ROBB! Bara pinjem buku Fisika lo. Cepet!" Panik Sylvia. Karena ia baru mengingatnya hari ini. Padahal tugasnya diberi pada minggu lalu. Dan ia menyalahkan Roland karena hal ini. Kenapa juga ia mengajak dirinya dinner segala.
Bara melirik sekilas dan kembali melanjutkan tatapannya pada Hp nya, "Sama Roland tuh."
Sylvia dengan cepat melihat kearah Roland yang tepat berada di belakangnya. Dan dengan santainya ia menyalin tugas milik Bara. Sylvia tentu kesal. Dengan segera ia merebut buku Bara dari Roland dan dengan kecepatan kilat ia menyalin tugas tersebut.
"Loh yank! Aku juga belom!" Kesal Roland dan mencoba meraih buku tersebut dari belakang.
Yang mendengar kalimat Roland tadi langsung menoleh cepat kearah Roland dengan pandang bertanya-tanya. Roland dan Sylvia masih fokus pada pekerjaannya. Sylvia fokus menyalin dan Roland sibuk protes.
"Apa maksudnya tadi?" Tanya Nita.
"Lah? Mereka kapan jadiannya?" Bingung Bara.
"ANJIR! MAKAN GRATIS CUK! PJ LAND PJ!" Teriak Jordan dan sukses membuat seisi kelas terdiam termasuk Roland dan Sylvia. Mereka sama-sama melihat kearah Jordan.
"Jadian kok dirahasiain segala!" Ucap Nita menatap kesal pada Sylvia yang tidak memberitahunya.
Sylvia tampak bingung. Ia tidak berbicara tentang hubungnya dengan Roland tapi kok? Dengan cepat Sylvia menatap tajam kearah Roland. Walaupun samar ia masih mendengar kalimat Roland tadi. Yang ditatap menampilkan watados nya saja.
"PJ WOY PJ!" Teriak Jordan kembali dan menuju kearah meja Bara.
Mildan pun sama ia ikutan nimbrung, "sejak kapan nih? Kok kita ngga tau?" Tanyanya.
"Sejak du-"
"WOY BU KERAMAT DATENG! DUDUK DITEMPAT MASING-MASING!" Teriak salah satu teman sekelas Sylvia.
Dengan kecepatan seribu bayangan, murid kelas pun grasak-gresuk untuk menduduki kursi mereka masing-masing.
Dan sialnya, pelajaran pertama yaitu Fisika. Dijamin tidak selamat kali ini jika sudah berhubungan dengan Bu Keramat. Sebenarnya namanya, Bu Kisma. Namun, mengingat ke-killer-annya yang sungguh membuat siswa/i dibuat mengeluh setiap pelajarannya. Ini semua salah Jordan. Karena ia yang membuat nama tersebut. Lacknat memang.
"Selamat pagi anak-anak!"
"Pagi bu!" Koar murid kelas.
"Sebelum memulai pelajaran, kumpulkan terlebih dahulu Pr yang ibu berikan kepada kalian minggu lalu, Sekarang!" Tegasnya.
Dengan segera murid kelas berbondong-bondong untuk mengumpulkan secepat mungkin Pr mereka. Yang tidak mengumpulkan hanya terdiam pasi ditempat duduk mereka. Ya, seperti Roland dan Sylvia saat ini.
"Siapa yang tidak mengumpulkan!" Tegas Bu Keramat, eh Bu kisma maksudnya dengan aura yang sudah tidak bersahabat.
Dengan perlahan Sylvia mengangkat tangannya sambil menunduk takut, malu lebih tepatnya. Berbeda dengan Roland yang dengan santainya duduk anteng.
"Kenapa kamu tidak mengerjakannya Sylvia?!"
"Maaf bu, saya lupa." Cicitnya.
"Sekarang kamu berdiri didepan bendera dan hormat bendera, S-E-K-A-R-A-N-G!"
Dengan cepat Sylvia berdiri dan berlari keluar kelas secepatnya dan ia tidak mengikuti perintah guru tersebut. Ia malah berbelok arah yang sebenarnya tetap lurus ini malah berbelok kearah kiri dimana tempat kantin berada. Gadis pandai memang. Percaya tidak percaya ini pertama kalinya Sylvia dihukum dan tidak mengikuti perintah gurunya.
Roland pun berdiri dari duduknya dan hendak keluar kelas. Namun, ditahan oleh Bu Kisma.
"Kamu mau kemana?!"
"Keluar bu. Soalnya saya juga ngga ngumpul. Jadi saya mau nyusul pacar saya dulu. Permisi!" Ucap Roland enteng.
Bu Kisma hanya menggelengkan kepalanya saja. Heran dengan anak jaman sekarang yang seperti Roland itu. Tidak ada niat untuk sekolah, kah? Pikir Bu Kisma.
"Baiklah anak-anak, mari kita mulai pelajarannya..."
T B C
.
.
___________________________________
♡︎シ︎
KAMU SEDANG MEMBACA
The Devil Cruel [COMPLETED]
RandomSebenarnya, ia ditakdirkan untuk bahagia atau tidak? Sylvia Queenella, Kini, ia yang tidak disangka akan berubah 180° dari sikap aslinya. Siapa sangka ia akan memasuki dunia gelap yang sangat dihindari oleh kebanyakan orang. Sikapnya pun dingin, dat...
![The Devil Cruel [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/218641726-64-k972037.jpg)