Fano melajukan motornya pelan. Di garasi, terlihat motor ayahnya. Menandakan bahwa pria itu sudah ada di rumah. Fano menatap jam di pergelangan tangan kirinya, tumben. Tak biasanya sang ayah tiba sebelum dirinya. Fano memutuskan tidak peduli, lalu memarkirkan motornya di samping motor Darel.
"Assalamualaikum," ucapnya sesaat setelah melepas sepatu.
"Waalaikumsalam." Ayahnya menyahut dari dalam.
Fano melangkah perlahan, menghampiri sang ayah. Tak usah ditanya, Fano hafal di mana lelaki itu sekarang. Di mana lagi kalau bukan di dapur.
"Ngapain, Yah?" Darel membalikkan badan, menatap si bungsu yang baru saja pulang.
"Ayah tadi beli brownies instan, mau nyoba bikin. Kayaknya bentar lagi matang. Kamu naik aja dulu, ganti baju. Temenin ayah bentar lagi, nonton film. Udah lama kayaknya kita nggak nobar. Sambil nyemilin brownies kan enak."
Fano hanya mengangguk, lalu tersenyum kecil.
"Asal browniesnya nggak gosong," katanya sebelum berlalu.
Darel berdecak. Ingin pura-pura kesal, tapi tak bisa. Darel akui, ia senang. Menghabiskan waktunya bersama sang anak sudah cukup. Tak apa meski si sulung tak bisa bergabung. Asal Fano masih di sisinya, baik-baik saja dan mau menemaninya, semua sudah cukup. Sisanya, ia pasrahkan pada-Nya. Entah sampai kapan mantan istrinya mau menyembunyikan sang anak, melarangnya bertemu mereka berdua. Darel tak tahu. Semoga saja sebentar lagi. Rindunya sudah memuncak.
Lima belas menit berkutat dengan brownies dan juga Fano yang sedang membersihkan diri, akhirnya mereka berkumpul di ruang keluarga. Tak luas memang, tapi cukup untuk mereka yang selama ini hanya tinggal berdua. Darel sedang menyiapkan beberapa makanan ringan serta minuman dingin. Sedangkan Fano mencari rekomendasi film yang bagus untuk ditonton bersama.
"Pokoknya jangan yang horor, Ayah nggak mau. Waktu itu juga nonton film horor malah film horornya yang nonton kamu. Ayah kan takut kalau nonton sendiri. Kita nonton drakor aja." Darel muncul dengan kedua tangan membawa cokelat panas.
"Drakor? Sejak kapan?" tanya Fano saat sang ayah duduk di sampingnya.
"Sejak sinetron di Indonesia nggak bermutu," jawabnya serius, kemudian tertawa. "Nggak, bercanda. Sejak dua hari yang lalu, ibu guru di kantor pada seneng nonton drakor. Padahal udah berumur. Kan Ayah jadi pengen nonton juga."
Fano menatap ayahnya dengan tampang jengah. Mengapa sang ayah suka sekali bercanda? Padahal ia sedang serius.
"Ayah serius tahu, No. Penasaran. Kan, jumlah episodenya lumayan. Kalau episode pertama nggak bagus, nggak usah dilanjut," katanya sembari menatap Fano yang tak kunjung selesai mencari rekomendasi film di ponsel pintarnya.
"Ya udah. Judulnya apa?"
"Itu, tuh. Apa ya? Bentar, Ayah inget-inget dulu."
Sembari menunggu ayahnya selesai mengingat judul drakor itu, Fano membuka room chatnya dengan Affra. Memastikan cewek itu sudah membersihkan diri dan beristirahat.
"Itu, No. Goblin judulnya. Yang meranin namanya Gong Yu. Eh? Itulah pokoknya."
Fano mengangguk. Segera mencari judul drama itu di kolom pencarian. Tak butuh waktu lama, drama sudah siap ditonton. Baik Darel maupun Fano, keduanya mencari posisi nyaman. Sebelum akhirnya tenggelam dalam cerita yang disuguhkan. Fano bahkan tak membalas pesan yang Affra kirim. Pertama kali dalam sejarah, Fano menikmati Drama Korea, berdua bersama sang Ayah.
☘☘☘
"Kamu ngedrakor? Serius? Sejak kapan?"
Tanggapan Affra saat Fano menceritakan alasan mengapa ia tidak membalas pesan cewek itu, bahkan membacanya saja tidak. Sebenarnya Affra tak menuntut, hanya saja Fano ingin membeberkan alasannya. Sudah Fano bilang bukan, komunikasi dan kepercayaan dalam sebuah hubungan sangatlah penting. Apalagi soal kejujuran. Selama ini, Affra tak pernah menuntut banyak padanya, Fano pun sama. Ia hanya menginginkan semuanya berjalan apa adanya. Tanpa ada yang ditutup-tutupi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Deofano (END)
Novela JuvenilFano belum pernah merasakan hebatnya kehilangan, sebelumnya. Hidupnya terasa sempurna beberapa tahun yang lalu. Ayah yang hangat, ibu yang perhatian, saudara kembar menyebalkan namun ia sayang. Semuanya terasa sempurna. Sebelum badai itu datang. Me...
