Fano belum pernah merasakan hebatnya kehilangan, sebelumnya. Hidupnya terasa sempurna beberapa tahun yang lalu. Ayah yang hangat, ibu yang perhatian, saudara kembar menyebalkan namun ia sayang. Semuanya terasa sempurna.
Sebelum badai itu datang. Me...
Setelah mendapati sang ayah tak ingin diganggu, Fano memutuskan untuk kembali ke kamar. Berusaha memejamkan mata kendati tak bisa terlelap.
Dalam pejamnya, Fano kembali memikirkan semua. Tentang masa lalu mereka. Saat di mana semua masih baik-baik saja. Fano akui, ia merindukan momen itu. Momen di mana ia bisa merasakan kehangatan dalam keluarga. Seolah menjadi anak paling bahagia di dunia. Ia punya saudara kembar yang tak semua orang punya, ia punya bunda yang lembut dan penyayang, bunda yang suka sekali membuatkannya cemilan sehat dari buah-buahan. Ada ayah yang selalu menjaga dan mengajarinya banyak hal. Semua terasa sempurna.
Sampai suatu hari, badai itu datang. Fano tak mengerti bagaimana awalnya, yang ia dengar hanya teriakan-teriakan dari kedua orang tuanya. Kendati tak ada barang-barang berserakan, suara itu tetap saja mengganggunya. Fano yang kala itu tak mengerti hanya diam, sedangkan Arkha menangis di pelukannya. Anak itu takut, juga tak mengerti apa yang tengah terjadi di luar saja. Fano pun demikian, bedanya ia hanya bisa diam.
Tiba-tiba saja bunda masuk, lalu menyeret paksa Arkha. Membuat tangisnya lebih keras terdengar dan Fano tetap hanya bisa diam sebelum tubuhnya diambil alih oleh Darel. Fano tetap diam saat bunda dengan sengaja membanting pintu rumah mereka dengan keras. Tetap diam saat mobil yang membawa mereka berdua melesat jauh tanpa bisa ia cegah.
Setelah seharian hanya bisa diam melihat kekacauan yang ada, malam itu Fano menangis. Menangis keras saat Darel berkata bahwa mungkin ia tidak bisa melihat saudara kembarnya lagi.
Sungguh demi apapun, kejadian itu tak pernah Fano lupa. Setiap detiknya akan selalu tertanam dalam memorinya. Bahkan suara tangisan Arkha masih bisa ia dengar sampai detik ini juga.
Fano tak akan pernah lupa bagaimana rasanya ditinggalkan tanpa kata perpisahan. Mereka berpisah begitu saja. Tanpa tanda, tanpa kata.
Ia hanya bisa pasrah, mengikuti segala yang takdir kehendaki untuknya. Jika memang hari itu adalah hari terakhir Fano bisa melihat bunda dan saudara kembarnya, ia harap semoga mereka berdua bahagia. Namun siapa sangka takdir masih berbaik hati padanya. Entah kapan pastinya, Fano akan bertemu Arkha lagi. Setelah sekian lama jarak dan waktu memisahkan mereka. Fano bahagia, sungguh demi apa pun Fano bahagia.
Tak apa meski bunda tak ingin mengetahui kabarnya, tak apa meski wanita itu memilih membencinya dan sang ayah. Tak apa asal Fano masih bisa melihat saudara kembarnya. Itu saja sudah cukup baginya.
Mata Fano yang sejak tadi terpejam menghantarkannya pada lelap yang cukup panjang. Fano akhirnya tertidur meski harus kembali mengulang rasa sakitnya.
☘☘☘
Arkha mencoba mengingat-ingat apakah barang-barang yang akan ia bawa sudah sempurna masuk dalam koper atau tidak. Beberapa saat setelahnya, Arkha mengangguk, memastikan dalam kepala bahwa semuanya sudah siap. Ia tinggal menyiapkan barang-barang kecil lainnya sebelum benar-benar berangkat.
Bunda tak banyak berkomentar saat ia kembali ke rumah beberapa jam setelah memutuskan untuk keluar. Lebih tepatnya, Arkha selalu menghindar ketika bunda mengajaknya bicara. Tak ingin bunda kembali membuat rencananya gagal. Besok pagi, ia akan berangkat. Semua sudah ia persiapkan bahkan tanpa bantuan bunda. Tiket kereta, uang jajan, beberapa cemilan kecil juga sudah ia siapkan.
Sikap bunda yang seperti itu membuat Arkha paham bahwa wanita itu tak mau ia pergi. Bahkan sampai membuat ayah tirinya ikut campur dengan mencoba membujuknya untuk membatalkan niat. Sayang, Arkha sudah tak mau lagi menerima alasan yang bunda beri. Ia akan pergi, dengan atau tanpa persetujuan wanita itu.
Arkha merebahkan tubuhnya yang lelah. Memutuskan untuk memejamkan mata lebih dulu sebelum besok memulai perjalanan panjang.
"Sebentar lagi, No." Arkha bergumam pelan sebelum akhirnya tertidur lelap.
Rasanya baru sebentar Arkha terlelap, seseorang mengguncangkan tubuhnya pelan. Arkha menggeliat, kemudian mengerjab perlahan. Kendati buram, ia masih bisa melihat bahwa seseorang yang membangunkannya adalah bunda. Wanita itu tampak lelah, namun tetap tersenyum saat mengusap lembut puncak kepalanya. Arkha segera bangun, mencoba menepis tangan itu kalau-kalau bunda kembali memintanya untuk mengurungkan niat.
"Bunda ijinkan kamu tinggal di sana cukup lama." Sembari tersenyum, Dera mengucapkannya dengan nada pelan.
"Bunda serius?"
"Iya, sayang. Maafkan Bunda, Nak. Bunda mengerti kamu merindukan mereka. Mungkin ini saatnya melupakan apa yang sudah terjadi di masa lalu."
Arkha beranjak memeluk Dera erat. Mengucapkan berkali-kali terima kasih sudah mau mengijinkannya pergi. Arkha bahagia sekali. Akhirnya ia bisa berangkat dengan perasaan lebih tenang, lebih lega.
"Bunda tenang aja, aku bakal jaga diri baik-baik di sana. Bunda nggak usah khawatir. Kalau perlu tiap hari aku bakal telfon Bunda, supaya Bunda yakin kalau mereka bukan seperti yang Bunda kira."
"Iya, sayang. Jaga diri baik-baik. Bunda siapkan bekal dan sarapan buat kamu dulu sebelum berangkat." Dera menghela napas pelan, mengusap sekali lagi surai sang anak sebelum akhirnya beranjak keluar. Menyiapkan segala keperluan yang telah ia utarakan.
☘☘☘
Arkha sampai di stasiun kereta diantar Bunda dan ayah tirinya, senyum tak pernah luntur dari wajahnya bahkan sampai keluar dari mobil mereka. Dera pun menyadari betapa bahagianya Arkha saat akan bertemu mereka. Perlahan, rasa bersalah kembali menyapa relung hatinya. Selama ini Dera terlalu buta akan kebahagiaan sang anak. Ia terlalu sibuk memikirkan dirinya sendiri tanpa tahu bahwa diam-diam anaknya merasa terluka. Sudah saatnya ia melepas apa yang pernah terjadi di masa lalu mereka. Sudah saatnya ia kembali membahagiakan apa yang saat ini ia punya.
Arkha memeluk Dera saat akan masuk ke dalam stasiun. Pelukan yang cukup lama. Rasa-rasanya Dera tak ingin membiarkan Arkha pergi. Namun melihat bagaimana bahagianya sang anak ketika ia mengijinkannya pergi, Dera harus menahan semua egonya. Dera harus merelakan semuanya.
"Fano sayang Bunda," kata Arkha lirih.
Seolah tersengat listrik, Dera mematung sesaat setelah mendengarkan Arkha menyebut nama Fano. Suaranya yang pelan membuatnya kembali mengingat satu hal yang sudah coba ia lupakan. Deofano, anaknya yang lain.
Entah sengaja atau tidak, ucapan Arkha detik itu membuat luka yang sempat ia coba tutupi kembali terbuka begitu saja. Membuat rasa yang pernah coba ia kubur, kembali ke permukaan. Rasa bersalah yang membuatkan ingin pergi sejauh mungkin.
Rasa yang selama ini melingkupi hatinya.
Dera kembali teringat pada hari itu. Hari di mana semuanya terungkap dengan kejam, seolah semesta tak ingin membuatnya mengecap kebahagiaan.
Ia bahkan hanya diam saja saat Arkha melambaikan tangan kemudian perlahan menghilang. Suara yang sempat memudar kini kembali bersahutan di kepalanya. Suara yang ia kenali bukan suara Arkha, bukan pula suara suaminya. Suara yang membuat hatinya terluka, seolah teriris tajamnya rasa bersalah.
Suara Fano kecil yang kembali teringat di memorinya.
"Fano sayang Bunda."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
A/N
Alhamdulillah, masih lancar (lagi). Kali ini cuma diedit dikit. Nanti revisi pas udah selesai (semoga bisa selesai 🙃)
Iya, tau kok ini masih abu-abu banget. Maklum, first time. Semoga masih ada yang suka.