Arkha kembali lagi setelah beberapa menit kemudian. Bergabung bersama yang lain di tengah halaman. Arkha mencoba untuk tidak memikirkan itu sekarang. Kalaupun Dera kembali berulah, ia hanya perlu pasang wajah tak tahu apa-apa. Lebih tepatnya pura-pura tidak mengetahui apa-apa.
Sepertinya Arkha harus bekerja lebih keras untuk membuat Dera mengerti keinginannya.
Fano melihat Arkha datang dengan wajah sumringah. Ekspresinya yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa menimbulkan banyak pertanyaan di benak Fano.
Apa yang tengah saudaranya itu sembunyikan? Tentang bundakah? Atau tentang alasan perceraian kedua orang tuanya?
Sebenarnya Fano sudah tak lagi minat mengetahui alasan itu. Tapi saat melihat Arkha sepertinya sangat ingin tahu, membuat Fano ikut penasaran. Bagaimana pun hasil yang mereka dapatkan nanti, biarlah menjadi urusan belakangan. Yang perlu Fano lakukan sekarang hanya bersabar. Tak mungkin ia ikut membantu Arkha sedangkan bunda sendiri tak menginginkan kehadirannya.
Fano menoleh saat Affra menepuk bahunya. Gadis itu sedikit berjinjit, mendekat ke telinga Fano kemudian berbisik.
Fano tertawa mendengar apa yang baru saja gadis itu utarakan.
Ori tiba-tiba datang dari meja seberang. Wajahnya keruh dan masam. Fano tertawa menyambut kedatangan Ori. Sedangkan Ori, menatap tajam Affra yang juga ikut tertawa bersama Fano di sampingnya.
"Lo ngadu, kan? Nggak asik, ah."
"Lagian udah tahu tamu-tamunya temen kerja Om Darel, masih sempet modus. Untung suaminya nggak ada. Coba kalau ada." Tawa keduanya kembali menggema, membuat Arkha yang baru saja bergabung kebingungan melihatnya.
Wajah Ori semakin masam.
"Ada apa, nih? Ketinggalan apa gue?" Ori sontak menatap keduanya dengan tatapan tajam. Seolah mengancam Fano jika berani membocorkan pada lainnya.
"Nggak, nggak ada." Fano menjawab masih dengan wajah menahan tawa.
Arkha lantas tertawa saat Oji datang dan menceritakan semua yang baru saja Ori alami. Namun tawanya terhenti kala dering telfon berbunyi. Arkha menatap satu per satu dari mereka, meminta ijin dengan tatapannya, kemudian mengangguk.
Fano yang melihat hal tersebut menyadari, ada sesuatu yang penting yang terjadi pada Arkha. Dan satu-satunya jawaban yang ia punya hanyalah bunda. Wanita itu pasti yang tengah menghubungi Arkha. Mungkin meminta saudara kembarnya itu untuk segera pulang. Mengingat mereka baru saja pindah, Dera pasti memerlukan kehadiran Arkha untuk berbenah.
Fano tak masalah. Toh, jika memang Arkha pulang, ia masih bisa sering bertemu dengannya. Jika Dera melarang, Fano dan Arkha masih bisa bertemu meski dengan diam-diam. Lokasi yang dekat membuat mereka lebih mudah bertemu.
Cowok itu mengobrol sebentar sebelum akhirnya pamit pergi ke toilet yang sebenarnya adalah mengikuti Arkha. Bohong jika Fano berkata ia tak ingin tahu apa yang sedang Arkha bicarakan dengan bunda. Fano hanya ingin tahu, apakah wanita itu memaksa Arkha pulang atau justru membahas tentang alasan perpisahan.
Fano berhenti melangkah, beberapa langkah di belakang Arkha yang tengah membelakanginya. Dari gelagatnya, Arkha menunjukkan ketidaksukaan. Mulai dari tangan kanan berada di pinggang, menunduk berkali-kali hingga berdecak. Fano mulai paham apa yang sedang mereka bicarakan. Dera pasti memaksa Arkha untuk segera pulang.
Dan tepat beberapa detik setelah telepon ditutup, Arkha membalikkan badannya. Tatapan terkejut jelas terpatri di wajahnya begitu melihat Fano berada di depannya. Fano mengendikkan bahu kemudian menggeleng. Ia memperlihatkan sedikit senyumnya. Seolah mengatakan kalau Fano tak mendengar apa pun tentang percakapan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Deofano (END)
Roman pour AdolescentsFano belum pernah merasakan hebatnya kehilangan, sebelumnya. Hidupnya terasa sempurna beberapa tahun yang lalu. Ayah yang hangat, ibu yang perhatian, saudara kembar menyebalkan namun ia sayang. Semuanya terasa sempurna. Sebelum badai itu datang. Me...
