Deofano :: Sebelas

3.6K 298 12
                                        

Sama seperti biasanya, Senin pagi merupakan hari yang sibuk bagi Darel. Apalagi kurang dari satu minggu menjelang hari pembagian rapot. Orang-orang yang seprofesi seperti dirinya pasti juga mengalami hal yang sama. Berbeda dengan si bungsu, Fano. Anak itu malah malas-malasan dengan tetap membalut tubuhnya dengan selimut sembari menonton film favoritnya di ruang keluarga sana.

Fano memutuskan untuk tidak masuk sekolah karena ternyata semalam demam membuatnya susah tidur. Darel menyetujui saja karena sampai pagi hari, suhu tubuh Fano tidak kunjung turun. Khawatir sebenarnya. Darel tak ingin meninggalkan Fano di saat seperti ini, namun pekerjaan membuatnya harus mengorbankan waktunya. Untungnya Fano tak mempermasalahkan hal itu.

"Kamu serius nggak mau ke dokter, No?" Darel bertanya sekali lagi sebelum berangkat.

Sedangkan Fano mendengkus. Sang ayah sudah menanyakan hal yang sama sejak pria itu menemukan tubuhnya menggigil subuh tadi.

"Enggak, Yah."

"Ya udah. Yang penting obatnya diminum habis itu tidur. Jangan ke mana-mana. Ayah berangkat dulu."

Fano mengangguk, kemudian meraih telapak tangan Darel sebelum menciumnya tiga kali.

"Hati-hati."

Sepeninggal Darel, yang Fano lakukan hanya termenung sambil tetap memandang lurus ke arah tv di depannya. Tidak, kali ini tidak ada yang Fano pikirkan. Ia tidak sedang memikirkan Arkha atau pun Bunda. Hanya merasa aneh saja dengan tubuhnya. Sejak kapan ia menjadi gampang sakit seperti ini? Setelah sebelumnya ia merasa lebih cepat lelah dan nafsu makannya berkurang meski tidak drastis.

Semoga saja bukan gejala penyakit serius. Ia hanya demam karena kelelahan. Semoga saja.

Fano merebahkan tubuhnya, memutuskan untuk tidur sebentar di sofa. Selain karena malas bergerak, ia juga lebih nyaman tidur di sini, sekaligus menjaga rumahnya. Meski tidak bisa dikatakan menjaga, tetap saja Fano memilih untuk mengistirahatkan diri di sofa. Tidur sebentar sebelum menuruti perintah ayahnya. Tubuhnya terlalu lemas untuk diajak berdiri ataupun berjalan terlalu lama.

Tak butuh waktu lama, pejamnya menghantarkan Fano pada tidur lelap yang ternyata cukup lama.

☘☘☘

Sedangkan Arkha tengah kebosanan di dalam kereta. Jarak masih terlalu jauh untuk membuatnya sampai di sana. Masih ada sekitar lebih dari tujuh jam untuk sampai dan Arkha sudah kebosanan. Segala macam kegiatan sudah ia lakukan sejak tadi. Mencoba menonton film, membuka sosial media, menonton youtube bahkan membaca artikel. Hal yang sebenarnya bukan Arkha banget. Oleh karena itu ia cepat sekali merasa bosan. Ia juga sudah bosan tidur. Arkha butuh sesuatu yang lebih menghiburkan. Sayang, ia belum memberitahu Fano jika tepat hari ini, Arkha akan pergi menemui mereka. Untungnya Fano sudah mengiriminya alamat mereka jauh-jauh hari sehingga ia tak perlu susah-susah membuat kejutan untuk adiknya. Setidaknya ia tidak berbuat sesuatu yang mencurigakan.

Arkha juga sebenarnya ingin menghubungi Fano, namun takut aksinya terbongkar. Lagipula Fano tak terlihat aktif di sosial media seharian ini. Dilihat dari status terakhir wa-nya Fano terakhir kali terlihat subuh tadi.

Arkha memutuskan untuk men-stalking sosial media mantannya. Suatu hal yang sebenarnya sudah sering ia lakukan. Terlebih setelah mereka mengakhiri hubungan, tiga bulan yang lalu. Sebenarnya bukan mereka, namun mantannya lah yang memutuskan hubungan di antara mereka. Arkha yang merasa jika memang itu maunya, mempersilakan begitu saja. Meskipun menimbulkan sakit yang tak kentara.

Entah mengapa, Arkha memilih menyembunyikan hal ini kepada saudara kembarnya. Sampai sekarang pun yang Fano tahu hanyalah ia dengan status single yang melekat sejak mereka lahir. Padahal nyatanya tidak. Mantan Arkha pun terbilang cukup banyak dibanding saudara kembarnya itu. Arkha merasa malu mengakuinya. Karena memang ia sadar, ia tak sebaik saudara kembarnya.

Tapi biarlah. Semua yang terjadi sudah jauh di belakang. Arkha yang saat ini, tengah berusaha memperbaiki keadaan termasuk hubungan antara ibu dan saudara kembarnya. Bukan tak sengaja Arkha menyebut nama Fano saat mereka akan berpisah tadi. Ia sengaja mengatakannya. Hanya mengingatkan bahwa wanita itu mempunyai anak yang lain selain dia dan calon anak yang masih dikandungnya.

Arkha juga menginginkan kebahagiaan adiknya. Tak peduli separah apa pun luka yang Bunda terima, harusnya wanita itu sadar bahwa darah lebih kental daripada air. Sejauh apa pun ia pergi, Fano tetaplah darah dagingnya. Sebenci apa pun wanita itu terhadap sang ayah, tidak berarti bahwa Fano bukan lagi anaknya.

Arkha menyimpan ponsel di saku celana. Kemudian memejamkan mata, mengingat semua yang sudah terjadi di antara mereka. Tentang bagaimana bunda memisahkan mereka, membuatnya pergi jauh sampai tak lagi terjamah oleh siapapun yang mereka kenal. Bahkan saudara bunda sendiri. Arkha pun yakin, bukan hanya bunda yang merasa sakit di sini. Darel pun sama. Terlepas dari siapa yang salah, mereka sama-sama terluka dan Arkha pun ingin semua kembali baik-baik saja. Tak lagi ada benci apalagi dendam.

Namun sayang, sepertinya itu hanyalah mimpi Arkha saja.

Terbukti dari bagaimana Dera hanya terdiam saat ia mengucapkan nama Fano saat mereka berpisah tadi. Bahkan hanya diam saja saat Fano melangkah pergi dan melambaikan tangannya.

Bukankah sudah jelas membuktikan bahwa tak hanya Darel yang Dera benci. Juga Fano yang sebenarnya tak mengerti. Sama seperti Arkha yang juga tak mengerti mengapa urusan orang dewasa bisa menjadi serumit ini.

Arkha butuh tidur sekarang. Memikirkan semua, membuat kepalanya pening. Yang tadinya butuh hiburan karena takut mati kebosanan, malah membuat pusing kepalanya. Arkha tak ingin mabuk perjalanan kali ini. Ia harus sehat, setidaknya sampai di depan pintu rumah mereka nanti.

☘☘☘

Darel baru pulang menjelang petang. Rapat tadi benar-benar menyita waktunya untuk segera pulang memeriksa kondisi sang anak. Harapannya semoga anak itu lekas membaik dan bisa beraktivitas seperti biasa sejak berada di perjalanan, mendadak sirna begitu melihat ruang tamu yang gelap.

Entah Fano yang lupa atau justru malah tak kunjung bangun dari tidurnya. Siang tadi, ia sudah menanyakan apakah anak itu sudah makan dengan baik atau tidak, Fano hanya membalas sudah sebelum akhirnya pamit mengistirahatkan badan.

Sepertinya opsi kedua adalah hal yang benar. Terbukti saat Darel menghidupkan lampu ruang tamu yang tersambung dengan lampu ruang keluarga, ia bisa melihat Fano yang masih bergelungkan selimut, tertidur di atas sofa. Darel menggeleng perlahan sebelum mendekati sang anak.

Dari semua hal mengenai membesarkan anak, Darel paling takut ketika sang anak mulai merasa sakit. Pria itu kerap dilanda cemas saat Fano demam. Mengingat pernah suatu hari ia hampir kehilangan Fano saat demam berdarah menyerangnya. Darel trauma. Namun mengingat lagi bahwa kejadian itu terjadi lebih dari tujuh tahun silam, membuat Darel merasa lebih baik. Semoga tidak terjadi lagi kali ini.

Pria itu melangkah mendekat, mencoba membangunkan sang anak. Belum sampai membangunkan, Darel sudah dikejutkan dengan suhu tubuh Fano yang lebih panas dari tadi pagi.

"Badan kamu panas banget, Nak!"

"Badan kamu panas banget, Nak!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

A/N

Day 5. Masih lancar, alhamdulillah. Entah besok up lagi atau nggak.

05*05*20

Deofano (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang