Fano belum pernah merasakan hebatnya kehilangan, sebelumnya. Hidupnya terasa sempurna beberapa tahun yang lalu. Ayah yang hangat, ibu yang perhatian, saudara kembar menyebalkan namun ia sayang. Semuanya terasa sempurna.
Sebelum badai itu datang. Me...
"Bunda kenapa, sih? Waktu itu dibolehin, kenapa sekarang nggak?"
Sungguh, Arkha kesal sekali dengan bundanya. Saat pertama kali Arkha meminta untuk pergi ke tempat tinggal sang ayah dan saudara kembarnya, Bunda bersikeras menolak. Kendati demikian, Arkha terus membujuk hingga akhirnya Bunda berhasil menyetujuinya. Itupun dengan berbagai kesepakatan. Salah satunya adalah, Arkha harus berhasil menang dalam kompetisi basket satu bulan yang lalu. Dan ia berhasil membuktikannya. Namun sekarang, bundanya malah kembali melarang dengan banyak alasan.
Arkha muak. Sungguh!
Apa salahnya bertemu ayah kandung sendiri? Setelah sekian lama mereka dipisahkan, apa kesempatan itu juga harus hangus?
Arkha tak mengerti. Mengapa orang dewasa di sekelilingnya terlalu ribet. Ini itu tidak boleh, bahkan bertemu orang tua kandung saja tidak bisa.
"Kamu masih kecil, Nak. Nggak baik pergi jauh sendirian." Bunda kembali berkilah.
"Kalau alasan Bunda cuma itu, kenapa nggak Bunda aja yang anterin aku ke sana? Bunda tahu nggak? Sikap Bunda yang begini yang buat aku nggak betah di rumah. Mereka itu Ayah dan saudara kandung aku, Bun. Bunda nggak berhak larang-larang aku buat ketemu mereka. Itu hak aku." Arkha menarik napas dalam. Sebenarnya, ia tak ingin bersikap seperti ini terhadap bundanya. Namun sikap bundanya yang seperti ini membuatnya muak.
Apa masih kurang hampir 10 tahun ia disembunyikan? Seolah perpisahan mereka adalah kesalahan yang luar biasa besar.
Bunda yang saat itu tengah duduk terdiam. Tak mampu lagi berkilah dan membiarkan Arkha meluapkan semua emosinya.
"Bunda selalu bilang, apa pun akan Bunda kasih asalkan itu membuat Arkha bahagia. Arkha nggak minta apa pun, Bun. Arkha nggak mau semua kemewahan yang Bunda beri kalau itu cuma buat alat supaya aku nggak ketemu Ayah. Bunda salah kalau selama ini menganggap aku bahagia atas semua yang Bunda kasih padahal nyatanya aku tersiksa."
Arkha tak pernah meminta apa pun selama ini. Ia hanya diam saat bunda memintanya ini itu. Arkha diam saat bunda melarangnya bertemu ayah. Arkha diam saat bunda melarangnya menyebut ayah. Kendati sebenarnya ia sangat ingin tahu apa alasannya.
Bunda selalu bilang, bahwa ayahnya jahat, tak pernah mengerti Bunda dan selalu menyakiti Bunda. Tapi apakah pantas Bunda disebut sebagai orang tua yang baik jika mereka dipisahkan selama ini? 10 tahun lamanya?
Arkha hanya ingin satu. Ia ingin bertemu ayahnya. Rindu ini menyiksanya. Arkha tak puas jika hanya bertemu via suara. Ia ingin tahu bagaimana rasanya memiliki saudara, bagaimana rasanya mempunyai orang tua yang lengkap, yang hangat. Pasti Arkha akan menjadi orang yang paling bahagia jika itu terjadi.
Sayangnya, bunda tidak menginginkan kebahagiaannya.
"Sayang...," panggil bunda.
Arkha tetap diam saat sang bunda menyentuh lengannya pelan, mengusap bahunya perlahan. Tetap diam saat bunda menarik pelan dagunya, meminta Arkha untuk menatap wajah lelahnya.
"Bunda cuma khawatir kamu akan berakhir sama seperti Bunda."
"Bunda nggak pernah tahu rasanya jadi aku, Bun. Aku kangen ayah, aku rindu Fano. Tapi selama ini Bunda nggak pernah mengerti. Bunda selalu diam saat aku bertanya di mana Ayah. Bunda selalu marah saat aku sebut nama Ayah. Bunda berharap semoga apa yang Bunda lakukan selama ini buat aku lupa kalau aku punya Ayah dan punya saudara. Tapi sayang, Bunda salah. Satu memori pun memori tentang mereka nggak pernah aku lupa, Bun. Selama apa pun Bunda melarang, sejauh apa pun Bunda bawa aku pergi dan menyembunyikan aku dari mereka, nggak menutup fakta bahwa aku adalah bagian dari mereka. Darah lebih kental daripada air. Bunda tahu istilah itu, kan?"
Saat Dera--Bunda-- hendak menyentuh wajah sang anak, Arkha menepis pelan tangan itu, kemudian pergi. Meninggalkan Dera yang tengah mematung di dalam kamarnya.
☘☘☘
Arkha mengembuskan napasnya kesal. Ia tak tahu cara apa lagi yang bisa membuat bundanya itu menyerah. Arkha sudah mencoba berbagai cara untuk meminta Bunda mengizinkannya pergi. Tapi sayang, selalu saja ada alasan untuk Arkha menggagalkan rencananya.
Pernah suatu hari, ia nekat hendak kabur dari rumah saat bunda melarangnya pergi di tahun pertama masa SMAnya. Semua keperluan sudah Arkha siapkan, mulai dari uang untuk membeli tiket, pakaian, semuanya. Rencana yang telah ia susun sedemikian rupa gagal karena Arkha mendapat telfon bahwa bundanya kecelakaan, yang sialnya itu merupakan akal-akalan bundanya saja untuk menggagalkan rencana Arkha.
Kali ini, Arkha tidak bisa diam saja. Ia harus pergi menemui ayah dan saudara kembarnya bagaimanapun caranya. Liburan kenaikan kelas sudah di depan mata. Tabungan Arkha juga cukup untuk membiayai perjalanannya jika memang Bunda bersikeras melarang, Arkha bisa menggunakannya. Arkha juga sudah menyusun rencana kabur yang lebih rinci daripada rencana sebelumnya. Ia juga telah menyiapkan mental untuk tidak berubah pikiran meski bunda akan menggagalkan rencananya sekali lagi. Arkha juga sudah menyiapkan ancaman jika bunda kembali berusaha menggagalkan rencananya.
Saat ini Arkha tengah berada di rumah teman dekatnya, Rian. Arkha juga sudah menceritakan semua rencananya pada Rian dan untungnya, cowok itu mau membantu.
Mengingat betapa bersikerasnya bunda melarang dengan berbagai alasan tadi, membuatnya semakin yakin untuk pergi dengan cara ini. Masa bodoh dengan pengambilan rapot dan ancaman Alfa dari sekretaris kelasnya. Lagian masa sekolah hanya tinggal seminggu lagi sebelum liburan kenaikan kelas. Arkha mungkin akan pergi besok malam atau lusa malam.
"Lo yakin mau pergi dengan cara kayak gini? Nggak takut durhaka lo?"
"Nggak. Bunda udah keterlaluan selama ini."
"Apa pun alasannya, beliau tetap orang tua lo, Kha. Orang yang melahirkan lo. Lo nggak boleh bersikap kayak gitu, mungkin aja apa yang ayah lo lakuin memang benar-benar fatal sampai beliau bersikap begini."
Arkha menatap Riyan tajam. Sejak kapan cowok itu malah membela bundanya begini?
"Yan, kalau memang bener Ayah sejahat itu, gue nggak akan pernah lihat saudara kembar gue lagi. Bisa aja Ayah buang dia kalau memang bener Ayah seperti yang Bunda bilang. Sedangkan lo tahu sendiri, saudara gue tumbuh dengan baik. Nggak ada satu pun sikap yang menandakan kalau dia korban kejahatan kecuali mungkin kebencian terhadap Bunda."
Riyan diam. Memutuskan untuk tidak terlalu jauh ikut campur dalam urusan pribadi temannya. Pelik memang. Bunda Arkha bersikap seolah yang paling jahat di sini adalah ayahnya sedangkan Arkha sendiri tak tahu bagaimana kenyataannya.
"Lo tahu sendiri kan, Yan. Gue udah turuti semua yang Bunda mau. Gue berusaha untuk menang di turnamen basket kemaren. Gue juga ngijinin dia buat nikah lagi. Gue udah berusaha menjadi anak yang baik buat dia, nurut apa kata dia. Gue nggak pernah minta apa pun yang selama ini dia kasih. Lo tahu gue, Yan. Gue tersiksa diam-diam." Arkha menyesap rokoknya dalam-dalam kemudian mengembuskannya pelan. Tipikal Arkha jika ada yang mengganggu pikirannya, membuat rokok menjadi pengalihan.
"Sulit banget jadi lo emang. Tapi gue akan selalu berusaha buat dukung lo, Kha. Apa pun, buat lo." Riyan menepuk pelan punggung Arkha.
Arkha tersenyum. "Thanks, Bro."
Tolong tunggu gue sedikit lagi, No. Nggak lama lagi. Gue janji.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
A/N
Akhirnya bisa up juga. Semoga besok dan seterusnya tetap bisa. Btw, thank's yang udah mampir meski sekedar mengintip. 😁😁😁