Fano belum pernah merasakan hebatnya kehilangan, sebelumnya. Hidupnya terasa sempurna beberapa tahun yang lalu. Ayah yang hangat, ibu yang perhatian, saudara kembar menyebalkan namun ia sayang. Semuanya terasa sempurna.
Sebelum badai itu datang. Me...
Darel kembali sibuk di hari selanjutnya. Mau tak mau meninggalkan Fano yang masih sakit sendiri di rumah. Setelah semalam diberi obat penurun panas, kini demam Fano turun drastis. Suhu tubuhnya menuju normal kendati masih hangat. Ia juga sudah bisa berjalan ke sekitar rumah kendati masih merasa lemas.
Keadaan anaknya yang cepat membaik, membuat Darel lebih lega kembali ke sekolah. Menunaikan profesinya. Walaupun masih merasa sedikit cemas, setidaknya Fano sudah jauh lebih membaik.
Seperti saat ini, cowok itu tengah bersantai di depan TV. Menonton apa saja yang bisa ia tonton. Sambil sesekali memainkan ponselnya. Membalas pesan dari Affra atau teman-temannya. Tak ada pesan dari Arkha. Sepertinya saudara kembarnya itu masih sibuk. Fano hanya bisa menunggu sekarang.
"Kalau mau tidur, langsung ke kamar. Jangan tidur di sini, badan kamu tambah sakit-sakit nanti. Nanti kalau bisa Ayah ijin pulang duluan." Mendengar kata 'ijin pulang duluan' Fano langsung saja menyambar ucapan sang ayah.
"Nggak usah, Yah. Aku udah baik-baik aja. Nggak perlu khawatir."
Darel yang saat itu tengah sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam tas, menggeleng. "Baru aja semalam demam, mana ada baik-baik saja. Kan, Ayah bilang kalau bisa. Kalau nggak bisa, ya, Ayah pulang kayak biasa. Kamu mau dibuatin bubur apa beli aja?"
"Nggak usah beli. Ayah udah masak, kan, tadi. Aku makan yang udah Ayah masak aja."
"Perutnya masih enak emang? Kalau nggak Ayah buatin bubur lagi aja."
"Nggak usah, Yah," ujarnya dengan suara serak. Demam semalam turut membuat tenggorokannya cukup terganggu.
Darel menghela napas. Susah sekali memang membuat Fano makan banyak di saat sakit seperti ini. Untung saja anak bungsunya itu tak banyak protes. Apa saja makanan yang sudah ia buat, pasti akan dimakan kendati sedikit. Sifat tidak enakannya itu membuat Darel sedikit bingung. Ia jadi kurang mengerti apa yang sebenarnya sang anak mau.
Darel mendekati Fano kemudian mengasak pelan rambutnya. Lalu meraba kening anak itu, mengecek apakah suhu tubuhnya kembali naik atau justru turun. Pria itu tersenyum saat mendapati suhu tubuh Fano menurun, tidak sehangat tadi.
"Cepet sembuh, sayang." Darel menciumi puncak kepala sang anak yang tentunya mendapat penolakan keras dari Fano. Anak itu bahkan mendorong lengan sang ayah supaya cepat pergi.
Fano merasa malu diperlakukan seperti tadi kendati tak berbohong bahwa hatinya menghangat mendapat perlakuan lembut dari ayahnya itu.
Darel terkekeh sebelum berangkat meninggalkan anaknya sendiri. Begitu cepat waktu berlalu hingga tak sadar bahwa anaknya telah tumbuh begitu cepat. Rasanya baru kemarin anak itu merengek meminta bertemu bunda dan saudara kembarnya. Rasanya baru kemarin Darel mengurusnya. Baru kemarin Darel jatuh bangun membesarkannya. Darel bahkan tak sadar jika Fano sudah lebih tinggi darinya.
Sebagai single parent, tak mudah merawat anak sendiri. Apalagi ia laki-laki yang sebenarnya tak tahu banyak tentang mengurus anak. Meski berkali-kali disuruh mencari ibu pengganti, Darel tetap ingin merawat anaknya sendiri. Rasanya tak ingin kembali memberi kecewa pada sang anak saat memilih mencari ibu pengganti. Oleh karena itu Darel mencoba menyembunyikan hubungannya.
Ia tak ingin Fano kecewa dan memilih mengabaikannya.
☘☘☘
Sepeninggal sang ayah, Fano kembali merebahkan badannya di atas sofa. Tak ingin tidur karena semalam ia terlalu banyak tidur. Meskipun kadang terbangun karena suhu tubuhnya yang panas, Fano tetap merasa tidurnya semalam sudah cukup. Ia sebenarnya ingin kembali sekolah. Kendati terbiasa sendiri di rumah, tetap saja sekolah merupakan tempat yang akan ia rindukan.
Apalagi sudah dua hari ini ia tidak bersama Affra. Fano ingin sekali kembali menjemputnya. Mengajak jalan bersama atau sekedar membicarakan apa pun dengannya. Ah, benar kata Dilan. Rindu itu menyiksa. Padahal baru dua hari yang lalu mereka bersua.
Ia bisa saja menelfon gadis itu, mengusir rasa rindu. Tapi tak bisa karena Affra turut berpartisipasi dalam lomba classmeeting di sekolahnya kali ini. Ah, Fano jadi ingin kembali sekolah. Ia ingin kembali merasakan euforia saat pertandingan antar kelas berlangsung, meski hanya menjadi orang yang paling banyak mengamati. Apalagi jika Affra ikut berpartisipasi, dijamin mata Fano tak kan lepas memandang semua gerak-geriknya.
Fano tersenyum sendiri ketika mengingat apa yang sudah mereka lalui. Padahal baru dua hari yang lalu mereka menghabiskan pagi bersama. Virus bucin memang sangat tidak baik untuknya.
Getar notifikasi ponselnya membuat Fano mengalihkan perhatian dari yang semula menatap layar TV kini mengambil ponsel di pangkuannya. Satu notif pesan dari Arkha. Saudara kembarnya itu menanyakan kabar, kemudian bertanya apakah Fano sibuk atau tidak. Fano hanya membalas tidak.
Tumben sekali kakaknya itu basa-basi seperti ini. Biasanya langsung merecokinya dengan berbagai macam pesan atau panggilan suara. Entah apa yang terjadi di sana Fano berharap semua baik-baik saja. Tak apa jika harus menunggu lebih lama asal hubungan kakak dan bundanya baik-baik saja.
Pesan basa-basi itu membuat Fano kembali memikirkan semua yang sudah terjadi di antara mereka. Sakitnya semalam juga kini menimbulkan tanya. Apa semua baik-baik saja? Semoga baik-baik saja. Kendati Fano tetap merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ayahnya juga belakangan ini terlihat aneh. Setiap ada panggilan telepon dari seseorang, pria itu menjauh darinya. Tak seperti biasa. Seolah ada sesuatu yang tak boleh Fano ketahui.
Fano berusaha berpikir positif dan tetap fokus pada film di depannya. Ia harus memanfaatkan waktu dengan baik agar segera kembali beraktivitas seperti biasa. Tubuhnya masih lemas, kepalanya terkadang berdenyut sakit dan mungkin saja butuh waktu yang lebih untuk membuat tubuhnya benar-benar pulih seperti sediakala.
Saat Fano benar-benar fokus pada film yang sedang diputar, sesuatu kembali mengganggunya. Kali ini berasal dari pintu luar. Ketukan pada pintu pagar terkesan tergesa-gesa, seperti sesuatu yang darurat sedang terjadi. Mau tidak mau membuat Fano bangkit dari tidurnya. Meraih jaket yang sempat ia buka karena ternyata suhu di dalam rumah membuatnya kegerahan. Kemudian melangkah perlahan, tubuhnya benar-benar lemas dan orang yang mengetuk pintu seolah tak peduli apa pun yang sedang terjadi pada tuan rumah.
Benar-benar menyebalkan!
Siapa pula yang berani bertamu di hari aktif begini? Tetangganya juga tidak mungkin karena rata-rata dari mereka merupakan karyawan kantoran dan juga pengajar seperti ayahnya. Sahabat-sahabatnya juga tidak mungkin karena mereka tengah berlomba di sekolah sekarang. Apalagi Affra. Fano tak bisa menebak siapa tamunya kali ini.
Langkah kakinya pelan, Fano tak sanggup berjalan cepat bahkan sampai meraba-raba dinding. Sial sekali. Mengapa tubuhnya benar-benar lemas saat ini? Ketukan pintu di luar semakin cepat, tidak sabaran. Fano berusaha mempercepat langkah.
Dan Fano hanya bisa mematung saat melihat sosok di balik pagar itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
A/N
Ini part terakhir yang ada di draft. Belum nyetok part lagi. 😢😢 Semoga besok masih bisa up.