Deofano :: Delapanbelas

3.3K 237 12
                                        

Fano tak mengerti apa yang sedang dipikirkan ayahnya itu. Entah berapa lama ia menyembunyikan hubungan mereka, Fano tak tahu. Yang jelas ia merasa kecewa.

Mungkin lebih dari sekadar kecewa.

Darel, pria yang ia percaya sepenuhnya ternyata juga bisa mengkhianatinya seperti ini. Tidak, mungkin hanya Fano yang berlebihan dalam menanggapi berita mengejutkan ini. Tapi tetap saja rasanya sakit. Fano bertahun-tahun percaya bahwa Darel tak memiliki hubungan apa-apa dengan siapa saja. Percaya bahwa yang pria itu punya hanya dirinya. Namun ternyata semua salah. Fano merasa dibodohi oleh pikirannya sendiri. Merasa bodoh karena sejak awal curiga namun memilih abai. Seharusnya Fano tak percaya saat bertanya apakah Darel mempunyai kekasih atau tidak pada saat itu.

Harusnya.

Tapi sayang, Fano merasa terlalu percaya pada sesuatu yang harusnya ia curigai.

Bukan berarti Fano tak sayang ayahnya. Fano sangat menyayangi Darel. Apa pun untuk pria itu. Tapi untuk saat ini, Fano tak bisa memercayakan ayahnya pada siapapun. Fano tak bisa serta merta menyetujui hubungan ayahnya ini. Wanita itu belum tentu baik. Bunda saja yang menurutnya wanita paling baik bisa menyakitinya apalagi wanita asing.

Tidak. Fano tak bisa memercayainya. Fano tak akan pernah percaya padanya. Sebaik apa pun kelihatannya.

Fano merasa tidak egois. Justru karena ia terlalu memikirkan ayahnya. Fano tidak ingin pria itu kembali tersakiti. Fano hanya ingin ayahnya merasa bahagia tanpa harus tersakiti. Namun ia tak bisa memercayai siapapun saat ini. Tidak ayahnya pun wanita itu.

Fano menghela napas. Lalu membaringkan tubuhnya, menyelimuti dengan selimut hangat yang tadi ia pakai. Kepalanya terasa pening. Fano memejamkan mata sebentar, berharap bahwa ini semua hanya mimpinya saja. Berharap semoga saat ia membuka matanya nanti, Darel tak mengatakan apa-apa.

Fano hanya ingin ayahnya tak lagi tersakiti. Apa itu salah?

Arkha baru saja memasuki kamar Fano. Melihat adiknya kembali bergelungkan selimut, Arkha menghela napas. Anak itu pasti sangat terkejut. Arkha seolah bisa merasakan apa yang ia rasa. Terkejut, kecewa, takut, khawatir bercampur menjadi. Ia tahu, paham, apa yang sedang ingin Fano utarakan. Adiknya pasti tidak akan pernah setuju dan tidak akan pernah dengan mudah melepas ayahnya bersama wanita lain.

Bisa dibilang Fano takut sakit yang sama kembali terjadi. Dan Arkha paham bagaimana rasanya. Saat bunda meminta ijinnya menikah lagi saat itu, Arkha juga merasakan hal yang sama. Ia tak rela, takut dan khawatir perpisahan kembali memporak-porandakan hati bundanya. Tapi untungnya tidak. Pria itu mengurus bundanya dengan baik. Kendati Arkha belum bisa memercayainya sepenuhnya. Namun Arkha paham, bundanya bahagia sekarang.

Yang harus Arkha lakukan sekarang membiarkan sang adik tenang terlebih dahulu. Kemudian memberi pengertian padanya, kalau tidak semua hubungan berakhir mengenaskan. Ayahnya tak mungkin menghabiskan waktu seumur hidup bersama Fano. Pria itu pasti menginginkan seseorang yang selalu ada di sisinya. Arkha paham. Tapi tolong beri mereka waktu. Ini tak mudah baginya. Apalagi bagi Fano yang jelas menghabiskan waktu lebih banyak bersama sang ayah.

Darel tak bisa egois memaksa Fano menerima hubungan mereka sekarang. Ia butuh waktu untuk menerimanya.

Arkha melangkah perlahan kemudian mendudukkan dirinya di samping Fano yang entah tertidur atau tidak.

"Gue tahu ini nggak mudah buat lo. Gue tahu ini susah banget buat lo percaya. Tapi tolong, jangan salahkan Ayah terlalu lama. Gue tahu lo kecewa, lo marah dan nggak terima. Tapi tolong pikirkan juga perasaan Ayah. Ayah jelas nggak bisa menghabiskan waktu seumur hidupnya untuk mengurus lo. Ayah butuh pendamping. Lo harus bisa mengerti walaupun susah dan walaupun nggak sebentar. Gue tahu lo juga pengen Ayah bahagia. Jadi, jangan terlalu lama diemnya. Kasihan Ayah."

Arkha tahu, Fano mendengar semua perkataannya. Arkha tahu cowok itu pasti diam-diam menyetujui apa katanya. Ia hanya butuh waktu untuk meredam rasa kecewanya dan menerima kenyataan.

Semoga saja Darel mau mengerti bahwa semua ini jelas tak mudah baginya, terutama bagi Fano.

☘☘☘

Setelah beberapa saat diam, Fano yakin Arkha beranjak pergi. Terdengar suara langkah kaki yang kian menjauh. Fano membuat tubuhnya telentang. Membuka selimut lebar-lebar.

Apa yang Arkha katakan semuanya benar. Ia menginginkan kebahagiaan Darel namun di saat yang sama tak rela membagi perhatian pria itu para orang baru.

Benar kata Arkha, Ia butuh waktu untuk menerima kenyataan. Fano butuh waktu untuk menahan ego dan rasa kecewanya. Fano butuh waktu untuk mengiyakan permintaan ayahnya. Dan tentu saja itu bukan sekarang.

Fano mengambil ponselnya. Mencari sebuah nomor di sana. Nomor kekasihnya. Mungkin satu-satunya tempat untuk Fano mengalihkan semua yang Ia rasa adalah Affra. Gadis itu mulai beralih menjadi obatnya. Obat di segala rasa lelah yang menyerang dirinya. Dan berharap semoga obat yang Ia punya juga tak berniat menghancurkan dirinya.

Karena kalau sampai itu terjadi, Fano akan jatuh ke titik paling rendah.

Semoga saja tidak.

☘☘☘

Darel pikir, Arkha akan meninggalkannya atau bahkan enggan berbicara dengannya. Tapi ternyata tidak. Anak sulungnya itu malah menghampiri Darel yang tengah terdiam di ruang tamu sendiri. Memanggil Ayah dengan suara lirih.

Setidaknya Darel tak kembali merasa kehilangan saat ini. Ia harus menyiapkan hati jika Fano marah bahkan tak ingin menyapanya kembali. Darel harus menguatkan hatinya untuk satu hal yang paling ia takuti itu.

Arkha mendudukkan dirinya di sebelah Darel yang saat itu hanya diam saja. Pasti sudah bisa menebak bahwa Arkha akan mengatakan sesuatu padanya.

"Aku memang kecewa sama apa yang baru saja Ayah bicarakan. Tapi bukan berarti aku harus marah apalagi musuhan, diem-dieman. Itu bukan aku banget. Aku cuma mau bilang satu hal. Fano hanya butuh waktu. Nggak mudah buat dia nerima ini semua. Apalagi nerima orang baru. Fano bukan aku yang bisa lebih mudah menerima. Jadi Ayah harus sabar kalau-kalau dia nggak mau bicara lagi sama Ayah. Dia kayak gitu berarti Fano udah nggak sayang Ayah lagi. Justru karena dia sayang banget sama Ayah. Ayah sabar aja, nanti juga dia baikan sendiri. Aku juga bantu ngertiin dia. Tenang aja."

Darel mengangguk, lalu memeluk Arkha dari samping. Anak sulungnya kini berubah menjadi sosok yang lebih dewasa. Darel bersyukur karena itu berarti mantan istrinya mendidik dia dengan baik. Menjadikannya anak yang tak gampang tersulut emosi dan bisa memikirkan sesuatu dari berbagai sisi. Darel sangat bersyukur.

"Terima kasih sudah mau mengerti, Nak. Ayah harap Fano cepat mengerti."

Arkha mengangguk. Fano akan mengerti meski tidak sekarang.

"Ayah sabar aja. Dia pasti terkejut banget. Apalagi Ayah nggak pernah cerita tentang hubungan Ayah selama ini. Jelas aja dia terkejut sekaligus nggak terima. Fano hidup dengan Ayah jauh lebih lama. Dia nggak mau Ayah kenapa-napa."

"Ayah mengerti, Nak. Ayah mengerti."

Dan yang bisa Arkha lakukan adalah memeluk balik ayahnya. Menepuk punggung yang pasti memikul beban yang lebih berat lagi itu.

A/N

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


A/N

Double up ga nih? Wkwkwk.

13*05*20

Deofano (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang