Arkha menunggu Fano menanggapi perkataannya. Ia merasa tidak ada yang salah jika mereka harus tahu alasannya sekarang. Kendati ini sudah terlalu lama jika mereka kembali membahasnya. Tapi tetap saja rasa penasaran itu ada.
Jika memang ayahnya berselingkuh seperti prasangkanya, haruskah sejauh itu bunda membawanya pergi? Bahkan menyembunyikan sampai melarangnya menghubungi Darel. Bukankah itu terlalu berlebihan? Arkha rasa itu semua berlebihan. Ya, Arkha memang tidak tahu bagaimana rasanya dikhianati, tapi memutuskan paksa hubungan orang tua dan anak juga tidak bisa dikatakan perbuatan yang baik. Karena itu Arkha tak bisa membenci salah satunya. Kendati bunda sempat membuatnya berpikir kalau Darel adalah orang yang paling jahat di dunia ini. Untung saja Arkha tidak sampai ikut membenci sang ayah. Dampaknya akan lebih buruk jika sampai itu terjadi.
"Jadi gimana?" Melihat Fano yang hanya diam saja, Arkha gemas kembali bertanya.
"Gue nggak tahu."
"Gue yakin lo juga penasaran tentang hal ini. Tapi nggak berani nanya. Come on, man. Kita udah gede sekarang. Bukan lagi anak kecil yang nggak tahu apa-apa dan bisa dibodohi."
Fano diam lagi. Selain karena kepalanya terasa sakit, ia juga memikirkan hal yang sama seperti Arkha. Yang saudara kembarnya katakan itu ada benarnya. Mereka sudah dewasa sekarang. Bisa membedakan mana sikap yang bisa dicontoh, mana yang tidak. Mereka juga tidak akan menghakimi tanpa alasan yang jelas. Benar kata Arkha, mereka butuh alasan. Mereka butuh kebenaran. Siapa yang salah nantinya, bukan berarti harus mereka benci.
Akhirnya Fano mengangguk. Mengiyakan.
"Oke. Kita tanya itu besok. Lo tidur aja dulu. Muka lo pucet banget. Nanti kalau Ayah udah pulang, gue bangunin lagi. Lo harus minum obat tapi gue nggak tau obatnya yang mana. Jadi tunggu Ayah aja."
Tak ada yang bisa lakukan selain mengiyakan. Cowok itu meninggalkan Arkha di ruang tengah kemudian melangkah ke kamar. Tubuhnya benar-benar perlu istirahat sekarang. Rasanya lelah sekali. Padahal yang ia lakukan sejak tadi hanya duduk diam. Tak banyak merespon saat Nada bertanya banyak hal tadi. Hampir semua jawaban diambil alih oleh Arkha.
Namun ada satu hal yang Fano pikirkan sekarang. Besok, ia sudah harus mengambil keputusan. Masa depan Darel dan Nada ada di tangannya. Ia hanya perlu satu pembuktian lagi, lalu memutuskan untuk mengiyakan. Nada perlu meyakinkan Fano sekali lagi. Semoga saja wanita itu tidak mengecewakan.
☘☘☘
Fano bangun dengan badan lebih segar. Sepertinya memang benar ia hanya perlu mengistirahatkan tubuhnya. Tubuh dan pikirannya terlalu banyak terpakai hari-hari kemarin. Arkha bahkan tidak membangunkannya semalam. Fano juga tidak mendengar apa-apa. Tidurnya benar-benar lelap semalam.
Fano bergegas keluar sesaat setelah membersihkan diri. Udara pagi yang cukup segar ditambah mandi dengan air dingin membuat badan Fano terasa jauh lebih segar. Fano merasa jauh lebih sehat dari kemarin-kemarin.
Saat tiba di meja makan, Fano melihat berbagai macam makanan sudah tersedia. Arkha bahkan duduk tenang di sampingnya menyantap salad buah yang entah mereka dapatkan dari mana. Darel bergabung sesaat kemudian. Wajahnya terlihat sumringah. Darel terlihat benar-benar bahagia. Fano bersyukur dalam hati melihat wajah ayahnya yang seakan bersinar itu.
Namun hal yang lebih mengejutkan datang beberapa saat kemudian. Nada, wanita itu datang dari dapur dengan tangan penuh dengan piring-piring berisi makanan. Wajahnya tak kalah sumringah dari Darel. Wanita berkepala tiga itu terlihat jauh lebih muda. Fano akui Nada benar-benar niat mendapatkan hati anak-anak Darel. Setelah semalam sifat keibuannya membuat Fano menghangat. Kini wanita itu kembali datang dengan senyum yang jauh lebih ramah dari semalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Deofano (END)
Novela JuvenilFano belum pernah merasakan hebatnya kehilangan, sebelumnya. Hidupnya terasa sempurna beberapa tahun yang lalu. Ayah yang hangat, ibu yang perhatian, saudara kembar menyebalkan namun ia sayang. Semuanya terasa sempurna. Sebelum badai itu datang. Me...
