Saat sedang asik-asiknya mengobrol bersama, ponsel Arkha tiba-tiba berbunyi. Membuat semua yang ada di halaman belakang, menoleh dan terdiam. Arkha mengatakan sesuatu tanpa suara, Darel dan Fano mengangguk. Mempersilakan Arkha menepi sejenak. Mereka berdua tahu, telepon itu pasti dari Dera.
Arkha mengangguk, lantas bangkit dari duduknya. Melangkah menjauh. Yang lain segera kembali pada obrolan mereka yang sempat terhenti sesaat tadi.
"Kenapa, Bun?"
"Arkha udah jarang telfon bunda lagi. Sibuk, hm? Atau terlalu senang mainnya?"
"Kesenengan mainnya. Seru banget ngobrol sama temen-temen Fano."
"Arkha betah di sana?"
"Betah banget, Bun. Nggak mau pulang."
Dera diam, tak menjawab beberapa detik. Arkha sadar, ia telah salah bicara. Ucapannya barusan pasti menyakiti bunda. Arkha seharusnya sadar dan tidak banyak menyebut Fano. Apalagi kata sensitif yang baru saja ia ucapkan. Salahkan mulut Arkha yang lemes ini. Ia terlalu jujur mengatakannya tadi.
"Maaf, Bunda."
"Kenapa minta maaf? Bunda nggak masalah, kok. Bunda cuma mau ngabarin, kalau dua minggu lagi, kita semua pindah ke Jakarta. Ayah kamu dipindahtugaskan ke sana."
Terkejut? Tentu saja Arkha terkejut. Ia tidak pernah menyangka ayah tiri dan bundanya akan pindah ke Jakarta. Padahal selama ini, Arkha berpikir Dera tak akan pernah menginjakkan kaki di Ibukota lagi. Ia bahkan sempat berpikir kalau sampai tua nanti, Dera akan tetap tinggal di Surabaya, kota pelariannya.
"Bunda serius?"
"Serius, sayang. Dari kemarin Bunda udah mulai beres-beres."
"Terus rumah gimana? Bunda jual?"
"Nggaklah. Rumah ini ditempati Om kamu. Om Irfan, adiknya Papa. Kamu inget?"
Arkha mengangguk. "Inget, Bunda."
"Ya sudah kalau gitu, Bunda tutup dulu. Mau lanjut beres-beres. Kamu jangan sering begadang di sana. Kita ketemu di sana dua minggu lagi. Malam, sayang."
Arkha terdiam sejenak. Haruskah ia mengatakan rencana Darel pada Dera? Ini kesempatan yang bagus mengingat dua minggu lagi Dera akan kemari. Ia bisa menanyakan alasan perceraian keduanya, seperti rencana sebelumnya.
"Bunda, tunggu. Aku juga mau menyampaikan berita. Ayah mau nikah, dua minggu lagi. Mungkin ini akan menyakiti Bunda, aku minta maaf. Tapi mau nggak mau, aku harus berani bertanya. Apa alasan Bunda dan Ayah berpisah? Kenapa Bunda pergi? Aku mau tahu jawabannya sebelum Bunda jemput. Selamat, Bunda. Maafin aku."
Tanpa membiarkan Dera bertanya, Arkha menutup telfonnya. Mematikan ponselnya kemudian. Takut Dera menelfonnya kembali. Arkha tak bisa membiarkan rasa penasarannya menguap begitu saja. Ia butuh jawaban, hal yang sama-sama Fano inginkan.
Arkha menyimpan ponselnya di saku training yang ia pakai. Kemudian kembali berkumpul di meja. Memasang wajah senormal mungkin. Mereka tak boleh tahu Arkha telah memberitahu Dera rencana ini. Setidaknya, ia ingin Dera berpikir. Tak hanya pintar bersembunyi seperti ini.
Arkha hanya diam saja saat Fano menatapnya dengan tampang ingin tahu. Cowok itu duga Fano mengetahui ada yang salah dari ekspresinya. Namun memilih mengabaikan dan kembali hanyut dalam obrolan. Untuk masalah ini, cukup ia saja yang bertanggung jawab. Apa pun jawaban dari Dera nanti, Arkha pasti akan memberitahu Fano.
☘☘☘
Dera terduduk dengan bibir terkatup cukup lama. Ia bahkan hanya diam saja saat sang suami pamit keluar membeli sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Deofano (END)
Novela JuvenilFano belum pernah merasakan hebatnya kehilangan, sebelumnya. Hidupnya terasa sempurna beberapa tahun yang lalu. Ayah yang hangat, ibu yang perhatian, saudara kembar menyebalkan namun ia sayang. Semuanya terasa sempurna. Sebelum badai itu datang. Me...
