Deofano :: Duapuluh dua

3.1K 276 7
                                        

Pertemuan mereka malam itu berjalan lancar meski harus sedikit heboh lantaran mereka menyadari Fano sedang tidak sehat. Arkha bahkan langsung bisa akrab dengan wanita bernama Nada itu. Wanita yang baru Fano ketahui ternyata hampir sama nasibnya dengan sang ayah. Sama-sama ditinggalkan pasangan mereka. Bedanya, Nada lebih muda lima tahun dibanding Darel dan masih belum mempunyai anak. Dan Fano merasa salah melihat tadi. Ia memang seperti pernah melihat Nada sebelumnya, tapi mungkin hanya perasaannya saja. Bisa jadi mereka memang pernah bertemu, bisa juga tidak.

Fano mulai berprasangka baik kepadanya. Terlihat dari gelagatnya ketika mereka makan tadi. Nada berkali-kali membantu Arkha dan Fano mengambil makanannya. Wanita itu juga bertanya banyak hal. Seolah ingin menunjukkan bahwa ia juga pantas menjadi pendamping Darel kelak.

"Fano sakit, Nak?" Nada mempertanyakan hal yang sama dua kali saat melihat Fano terdiam dan beberapa kali mengusap keringat di keningnya.

Fano menggeleng. Hatinya sedikit menghangat karena pertanyaan itu. Ini kali pertama seorang wanita paruh baya asing itu terlihat begitu mengkhawatirkannya. Fano jadi teringat bunda. Dulu, saat mereka belum berpisah, Dera selalu mengatakan hal yang sama jika tak sengaja melihat Fano melamun.

"Kamu pulang duluan aja kalau nggak enak badan, No." Sang ayah ikut menimpali.

Fano kembali menggeleng. Ia harus bertahan jika ingin benar-benar melihat sejauh mana Nada membuktikan kalau memang ia pantas menjadi istri Darel.

"Nggak usah memaksakan kalau emang lo nggak sehat. Sok-sok-an tadi bilang nggak pa-pa. Lo tumbang dua kali, mau nggak mau harus pergi ke dokter. Nggak ada alasan lagi." Di saat seperti ini, bisa-bisanya Arkha mengancamnya seperti itu. Ingin Fano menjitak kepalanya namun segan karena Arkha jelas lebih tua darinya. Fano tak ingin dianggap tidak sopan.

"Fano nggak pa-pa." Fano mengucapkannya sambil memijit keningnya dengan gerakan cepat sehingga lainnya tidak menyadari.

Namun berbeda dengan Nada. Wanita itu sepertinya menyadari kalau Fano benar-benar sedang tak sehat saat ini. Nada bangkit dari duduknya, kemudian beralih berdiri di dekat Fano. Ia mengambil sesuatu dari tas kecilnya.

"Ini Tante punya fresh care. Kamu kayaknya lagi pusing. Coba dipakai aja. Nanti kalau udah agak baikan, kalian pulang." Perhatian kecil itu tentu saja membuat Fano menghangat. Ia merasa diperhatikan oleh seorang ibu. Lama sekali Fano tidak merasakan hangatnya belaian bunda. Malam ini, ia kembali merasakannya meski harus dari wanita yang belum lama dikenalnya.

☘☘☘

Untungnya Fano bisa menahan pening di kepalanya hingga mereka benar-benar pulang. Makan malam itu terasa menyenangkan meski tubuhnya tak bisa diajak kerja sama sehingga membuat mereka sedikit khawatir. Banyak hal yang Fano takutkan namun lebur begitu saja saat Nada memberikan hangat yang ia punya. Wanita itu benar-benar menunjukkan kalau ia pantas mendampingi Darel nantinya. Dan yang membuat Fano merasa ia seperti mempunyai keluarga lengkap saat perhatian Nada tertuju padanya sesaat sebelum pulang.

Nada seolah mencerminkan sosok yang ia nanti-nanti selama ini. Seolah menggantikan sosok bunda yang hilang dalam hidupnya selama bertahun-tahun. Nada membuat hatinya menghangat hanya karena perhatian kecil darinya. Tapi tetap saja, masih ada rasa takut yang tertahan dalam hatinya.

Bagaimana jika itu semua hanya topeng yang berusaha wanita itu tutupi?

Bagaimana jika nanti Fano dan Darel tertipu akan perlakuan-perlakuan hangatnya?

Bagaimana jika Nada hanya menginginkan perhatian sang ayah dan berusaha mencampakkan dirinya?

Bukankah Darel bilang tadi, jika ia hanya akan menerima wanita yang juga menerima anak-anaknya? Sanggup mengisi sosok ibu yang selama ini hilang dari hidupnya. Tapi bagaimana jika Nada hanya menginginkan harta sang ayah lalu pergi ketika sudah mendapatkannya?

Deofano (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang