"Sus, sepertinya monitor ekg-nya error, coba diperbaiki," ucap seorang Dokter setelah memeriksa keadaan Erin.
Suster itu mengangguk singkat lalu ia berjalan mendekat kearah ekg dan sedikit mengutak-atiknya. Dan tak lama kemudian, layar ekg tersebut kembali normal, menunjukkan detak jantung Erin yang masih berdetak.
Darrel tersenyum kearah layar ekg tersebut dan kembali menatap Erin, ia mengusap puncak kepala Erin, "Aku tau, kamu gak bakal pergi."
"Sebaiknya anda menunggu diluar terlebih dahulu," ucap seorang Suster kearah Darrel dengan nada sopan.
Darrel mengangguk singkat, "Oke."
Darrel pun keluar dari ruangan tersebut. Diluar ruangan sudah ada Yuni yang menunggunya, bersama dengan Tama dan El.
"Gimana Rel?," tanya El.
"Masih kritis," sahut Darrel pelan.
"Kita berdoa aja supaya Erin bisa cepat melewati masa kritisnya dan cepat sadar," ucap Tama.
"Iya."
"Keluarga pasien atas nama Sherina—"
"Saya suaminya Dok," sahut Darrel cepat.
"Alhamdulillah, pasien berhasil melewati masa kritisnya," ucap Dokter itu diiringi senyumannya.
Darrel mengembangkan senyumnya mendengar ucapan Dokter tersebut, ia tak mampu mengeluarkan kata-kata, ia benar-benar bahagia sekarang.
"Mungkin tak lama lagi pasien akan segera sadar. Sekarang biarkan pasien istirahat terlebih dahulu."
"Baik Dok."
"Saya permisi."
"Terima kasih."
"Alhamdulillah Erin sudah melewati masa kritisnya," ucap Yuni sangat bahagia.
"Gue kira lo bakal jadi duda anak satu Rel!," ceplos Tama.
"Mulut lo sembarangan banget sumpah! Belum pernah ditabok?!," kesal Darrel.
Sedangkan Tama hanya tertawa pelan, "Hahaha, kidding kali, serius amat hidup lo," sahut Tama.
"Rel, Papa kamu tadi nelpon Mama, katanya dia otw ke Indonesia," ucap Yuni.
Kening Darrel mengkerut, "Hah? Emang Papa dimana?," tanyanya.
"Papa kamu di Singapure, tapi dia bilang dia segera kesini kok," jelas Yuni.
"Oh," singkat Darrel.
>~<
Siang harinya, Darrel sedang duduk di kursi yang ada didepan ruangan Erin. Mamanya sudah pulang, begitupun dengan El dan Tama. Awalnya El dan Tama tidak mau pulang, namun Darrel menyuruh kedua sahabatnya itu pulang, pasti kedua sahabatnya itu butuh istirahat.
"Permisi, Bu Erin sudah sadar," ucap seorang Suster yang menghampiri Darrel.
Dengan gerak semangat, Darrel pun langsung masuk kedalam ruangan tempat Erin dirawat.
Dilihatnya seorang wanita yang sedang menatapnya dengan tatapan sayu sembari tersenyum tipis. Darrel mengusap puncak kepala Erin.
"Masih ada yang sakit? Bilang sama aku apa yang sakit?," tanya Darrel dengan nada khawatir.
"A—aku?," bingung Erin.
"Maaf, lebih enak pakai aku-kamu ternyata daripada lo-gue," sahut Darrel.
Erin tersenyum tipis, "Anak kita?," tanyanya.
Darrel menatap Erin lalu mengusap sayang puncak kepala wanita itu, "Di Inkubator," jawab Darrel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mistake
Ficção Adolescente[ᴄᴏᴍᴘʟᴇᴛᴇᴅ] Namanya adalah Sherina Valerie atau kerap disapa Erin, dan ia adalah pemeran utama dalam cerita ini. Sosok gadis yang sangat ceria, sama sekali tak terlihat bahwa ia menyimpan luka. Dulu, Erin juga pernah merasakan kehangatan keluarga, b...
