6. Tugas

1.1K 126 10
                                        

Begitu pagi datang aku berusaha bangun dan menaiki kursi rodaku. Lalu aku mandi dan memakai seragam setelahnya. Karena aku masak dari kemarin jadi pagi ini aku hanya langsung makan dan menyiapkan bekal.

Semuanya sudah selesai, aku keluar rumah dan tak lupa mengunci pintu, begitu aku lihat ke arah depan aku tidak melihat ibu siap siap jualan. Apa mungkin kesiangan?

Pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya atau karena Andi yang terlalu merasa. Beberapa orang sudah mulai siap berangkat sekolah dan juga kerja, membuka warung, menyiapkan jualan. Seperti itulah setiap pagi yang aku lihat ketika berangkat sekolah.

Beberapa ada yang menyapa atau sekedar senyum ke arahku aku juga membalasnya. Dan tak jarang yang menatap heran seolah bertanya 'serius berangkat sekolah dalam keadaan seperti ini tanpa diantar' kira kira begitulah.

Setelah lama menyusuri jalan akhirnya sampai di depan gerbang sekolahku, SMA Dian Agung.

"Selamat pagi, pak. Semangat ya!" Sapaku kepada satpam sekolah, pak Wiji. Pak Wiji mengangkat tangannya sambil berkata, "Ya, terimakasih Andi. Semangat juga belajarnya." Aku mengangguk dan menunduk sedikit lalu masuk ke sekolah.

Hari Senin memang masuk lebih cepat dari hari biasa karena upacara. Jadi ramai yang datang pagi setiap Senin.

Tanganku sudah mulai pegal mendorong kursi roda ku tapi sedikit lagi sampai di kelas. Rasanya kram dan panas aku tidak mengerti kenapa bisa terasa panas. Aku mencoba mendorong pakai satu tangan, yaitu tangan kiriku karena yang sakit sebelah kanan.

Aku melihat Yara dengan temannya, Yara seperti bilang duluan ke temannya lalu berlari ke arahku.

"Pagi, Andi," sapanya dengan senyuman yang juga mendapat perhatian dari sekitar. Semua mata tertuju ke arahku dan Yara tapi seolah Yara tidak peduli padahal ada beberapa yang bisik bisik.

"Kok lo gak jawab sih? Bales gitu selamat pagi juga," gerutunya.

"Pagi juga, Yara," kenapa aku malu malu begini sih?

"Jangan kaku sama gue mah, santai aja ya. Gue ga gigit lo kok." Ucapannya barusan membuatku tertawa. Syukurlah pagi ini aku bisa tertawa karenanya.

"Saya kaku banget ya? Soalnya saya gak pernah main sama perempuan," ucapku jujur. Wanita yang aku kenal hanya mama, tanteku, dan ibu Yuyun. Selain itu tidak ada didalam hidupku. Jangankan teman perempuan yang laki laki saja tidak mau berteman.

Akhirnya Yara selesai mengantarkan aku kedepan kelas. Aku mengucapkan terimakasih karena sudah membantu. Yara mengangguk dan tak lupa mengingatkan untuk makan bekal bersama ditaman.

"Semangat belajarnya, Yara." Aku ragu tapi beneran aku mengatakan itu barusan.

Yara tersenyum mendengar ucapan ku barusan, "Semangat!" Setelahnya Yara berlari dan aku masuk kelas.

Astaga aku lupa mengembalikan catatan Yara. Bagaimana ini? Kelasnya diatas dan aku tidak bisa naik. Ingin minta tolong tapi tidak ada yang aku kenal. Yara bilang ada pelajarannya pagi ini, kenapa aku bisa lupa sih.

Sampai akhirnya aku melihat teman yang tadi berdampingan dengan Yara, dia juga berjalan menuju tangga. Buru buru aku memanggilnya.

"Permisi, sebentar," aku mencegatnya.

Dia menatapku sinis, "Ada apa ya?"

"Tolong kasih buku ini ke Yara ya, saya tadi lupa."

Mata perempuan itu ke arah buku lalu beralih kepadaku. Lalu ia membuka tasnya dan mengambil tisu basah, ia mengambil buku itu dengan tisu basah itu lalu pergi begitu saja.

HeridsonCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang