Aku menatap wajahnya dan dia pun menatap wajahku juga. Lama aku memandang wajahnya, wajah seorang ayah yang selama ini tidak pernah aku tau. Badannya kekar dan berpakaian hitam. Tetapi kalau kalian lihat dia seperti tidak terawat atau seperti frustasi.
"Siapa anda?" Pertanyaannya membuatku kaget. Ternyata dia tidak mengenali aku. Aku tersenyum dan menjawab, "Saya hanya seorang pria cacat yang datang untuk bertemu ayah saya."
Dia bingung dengan ucapanku. "Siapa? Haruskah anda masuk ke dalam sini? Tidak bisa tunggu diluar?"
"Tidak. Ayah saya orang penting ternyata disini. Sampai saya harus berpura pura ingin menjadi anggota kalian untuk bisa masuk ke dalam rumah ini."
"Sebutkan saja cepat! Kamu orang cacat tidak pantas untuk masuk anggota sini. Mau diandalkan apa kamu."
Papaku sendiri bilang seperti itu. Aku tidak tau dia benar benar tidak mengenal ku atau hanya berpura pura disini.
"Papa saya yang barusan mengucapkan kalimat jahat." Aku menatap matanya. Tersenyum dan menangis di satu waktu. Dia terlihat bingung.
"Anda."
"Ternyata benar, beruntung lah aku tidak hidup dengan anda. Terimakasih setidaknya saya menjadi tau watak dan sifat anda melalui perkataan anda barusan. Terimakasih sudah menyakiti mama dengan begitu kejam sampai mama pergi."
"Untunglah mama langsung tau anda, dan apa yang anda lakukan dibelakang. Topengmu ternyata tidak cukup kuat menjadi baik didepan mama."
Kalimat barusan aku ucapkan dengan keberanian yang tinggi. Aku mau mengeluarkan segala unek unek yang sudah aku simpan.
"Izinkan saya untuk memanggil anda papa dan saya yakin ini pertama dan terakhir kalinya saya menyebutnya."
"Papa, aku anakmu, yang anda sebut cacat ini adalah anakmu."
Dia tertegun, sepertinya tidak sudah peka siapa aku dan siapa mama yang aku maksud tadi. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya kaku dan seperti tidak bisa berpikir.
"Dia adalah tanteku kan? Seorang wanita yang anda kencani saat anda sudah menjadi status suami dari mama saya," ucapku sambil menunjuk foto besar tersebut. Dia mengikuti arah yang ku tunjuk dan dia kaget. Mungkin dia mengira aku tidak tau tapi beruntunglah aku mempunyai ingatan yang jelas.
"Seorang laki laki yang berada ditengah kalian, seumuran denganku. Dia temanku, ah bukan. Dia pembully. Tolong ajarkan anak tiri anda menghormati orang cacat."
Demi apapun aku tidak pernah berani mengatakan hal sejahat itu. Kenapa aku lepas begitu saja? Aku bisa pastikan didalam hatiku tidak ada dendam padanya.
"Sampai kapan anda mau terus diam dan tercengang ditangga itu? Anda tidak mengusir saya?"
Dengan ucapanku barusan, dia tersadar. Dia merapikan bajunya dan berdehem pelan. Tanpa pikir panjang dan menjawab perkataanku barusan. Dia memanggil penjaga yang disana.
Tapi tiba-tiba seorang wanita masuk bersama seorang pria. Aku memperhatikan muka pria tersebut dan mengambil foto yang tante Vela berikan tadi.
Dia adalah ayah dari Yara.
Wanita itu adalah tante Friska.
Seluruh penjaga sudah mengurungiku disini. Tapi aku butuh waktu sebentar lagi, ada yang ingin aku sampaikan.
Tante Friska masih mematung ditempat begitu melihatku. Ternyata dia tau siapa aku.
"Halo tante. Akhirnya bisa bertemu denganmu, ini pertama kali saya bisa melihat sosok wanita yang tega mengkhianati adiknya sendiri. Terimakasih, karena secara tidak langsung anda membunuh adik dan ponakan ada sendiri."
"Ternyata tante cantik, tapi sayang hati anda tidak secantik wajah anda. Saya harap anda tidak tersinggung mendengar perkataan saya barusan. Karena buat apa tersinggung seharusnya anda sadar."
Aku mendorong kursi rodaku untuk lebih dekat kepadanya. "Tante, terimakasih sudah memberitahu mama dengan cepat siapa papa saya yang sebenarnya."
"Oh iya perkenalkan untuk kalian. Saya Heridson Andi. Anak dari bapak Heridson yang berdiri ditangga tersebut. Saya jijik dengan namanya di namaku tapi saya tetap menghormati anda sebagai ayah saya."
Ma, maaf Andi terlalu frontal dengan ucapan Andi tapi ini yang terbaik.
"Saya tidak pernah diajarkan oleh tante Gesta untuk berucap kalimat jahat. Tetapi disini saya harus mengeluarkan kata kata jahat agar kalian sadar."
Tante Friska kaget mendengar nama adiknya lagi. Sengaja ku keluarkan untuk meyakinkan kalau aku adalah anak dari mama.
"Anda sudah keterlaluan! Keluar sekarang anak cacat!" Teriak papa yang turun dari tangga dan mendorong kursi rodaku keluar. Dia mendorong dengan sangat kencang dan membantingku.
Aku terjatuh dan sedikit terpental. Sakit langsung menjalar di lenganku karena menahan kepala agar tidak terbentur. Bersusah payah aku untuk bangkit dan meraih kursi rodaku.
Ternyata kita bisa tau bersama sama bagaimana dia. Benar kata Tante Vela tidak seharusnya aku hidup bersama seseorang seperti dirinya.
Kehidupanku sangat berat lebih lebih dari kalian.
"Mama, mama bisa lihat papa memperlakukan anaknya seperti ini. Bahagia ya ma disana, Andi juga akan berusaha bahagia disini walaupun sakit."
Mereka semua mendengar ucapanku, sengaja aku keraskan suaraku dan doaku untuk mama. Terutama papa yang langsung berubah ekspresi wajah saat itu juga. "Pa, Andi butuh bantuan. Papa mau bantu Andi untuk ambil kursi roda itu?"
Aku yakin dia masih punya hati nurani untuk anak kandungnya. Batin seorang ayah dan anak pasti terkoneksi sampai kapanpun.
"Andi sakit pa," ucapku yang menunjukkan tanganku dengan luka disana. Dia membuang muka tidak kuat menatapku.
Aku senang ternyata papa masih ada hati untukku. Aku menarik diriku sampai akhirnya dekat dengan kursi roda. Sekuat tenaga aku melawan tanganku yang luka sebagai penahan aku naik kursi roda. Akhirnya aku berhasil.
Niatku sekarang ingin pergi.
"Papa, tante, sesekali coba ke kuburan mama untuk minta maaf. Andi tidak memaksa tapi hanya mengingatkan. Terimakasih atas semuanya."
Aku mendorong kursi rodaku hanya dengan satu tangan. Jalannya agak lambat dan membuat penjaga yang menjaga gerbang mendorong kursi rodaku dengan kasar.
Gerbang itu telah tertutup.
Hidupku memang ditakdirkan untuk sendiri, semoga saja hidupku kedepannya lebih baik.
______________________________________
Terimakasih untuk 4k+ readers:)
Gak nyangka cerita abal ini bakal nembus 1k.
Bantu aku kalau ada salah kata atau kalimat ya, kita sama sama belajar.
Terimakasih semuanya.
Enjoy,
H.
