Ruangan serba putih membisu. Saksi bisu keempat manusia yang saling bertatap namun tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Pikiran dan hati Maya bergejolak, ingin rasanya berteriak. Namun suaranya seakan terperangkap dalam pikirannya sendiri.
Ia hanya menatap kosong apa yang ada didepannya. Tuhan telah mengabulkan perkataannya kala itu.
"Maaf... Maafkan Papa" Gunawan menatap putrinya yang telah lama hilang dalam bayangannya. Putri yang dulu sangat ia sayangi, yang dulu hangat, kini telah membeku. Kaku. Dan mungkin asing bagi pandangannya.
"Maya..." Suara Gunawan bergetar.
Mario dan Yuni turut menatap gadis itu.
Hampir runtuh bendungan air mata yang mati matian ia tahan, hanya dengan mendengar panggilan lembut itu lagi. Sesegera mungkin ia menetralkan kondisi dirinya, menarik nafas untuk menyembunyikan suara isakan "Besok kita pindah kan?" Ia spontan berdiri
"May.." Yuni turut melembuti anak gadisnya itu.
"Butuh banyak tenaga, aku mau tidur"
Setelahnya hanya langkah kaki yang terdengar, gadis itu benar-benar beranjak dari kepungan situasi yang membuatnya hampir meledak.
Bahkan semua mata mengiringi setiap langkah Maya. Hanya diam, seakan tak mampu berkata lagi.
Mario tertunduk lemas, meremas jemarinya kuat.
Sebuah elusan lembut membuatnya mendongak "Semua akan baik-baik saja" Sebuah kalimat singkat yang diakhiri dengan senyuman manis Yuni.
Wanita paruh baya itu lalu menatap sekilas suaminya, seakan menguatkan lewat sebuah pandangan mata. Seperkian detik berikutnya Yuni melangkah meninggalkan dua lelaki di keluarga ini.
"Rio.."
"Kami dilahirkan kembar. Batin kami menyatu. Apa yang Maya rasakan, aku pun merasakannya" Mario menatap Gunawan dengan keseriusan yang tak pernah terlihat dimata Gunawan selama ini.
"Bertahun tahun Maya terkurung dalam dirinya sendiri. Menutup semua kehangatan yang dulu pernah Papa lihat. Dan mulai mengeluarkan apa yang selama ini nggak pernah terlintas dalam pikiran kita" Tenggorokan Mario tercekat, ia tak mampu lagi untuk mengutarakan semua yang selama ini terpendam. Tapi ia menguatkan dirinya sendiri, semua akan berakhir. Dan akan kembali seperti dulu, walau harus mengorbankan segalanya.
"Dia memang keras, tapi. Tapi hanya untuk orang yang tak ia sukai" Gunawan menatap putranya kembali. Hatinya terguncang mendengar penuturan itu.
"Semua orang pasti merasakan kehilangan Pa, termasuk aku. Dan Maya" Tersenyum getir, ia mengusap setetes air mata yang hampir membasahi pipinya.
"Saat kami butuh seseorang untuk menguatkan. Papa justru menghilang. Hanya ada raga. Yang tak lagi diisi jiwa yang dulu kami kenal. Tapi untungnya, kami dilahirkan cukup kuat oleh seorang perempuan yang tak pernah tergantikan didunia. Kami saling menguatkan saat Papa mulai muak dengan keadaan. Dan kami." Mario tertunduk membiarkan air matanya lolos.
"Kami saling menutup mata saat melihat Papa silih berganti membawa perempuan, yang bahkan kami tidak mengenal mereka. Tapi untungnya itu tak berlangsung lama, setelah Oma memutuskan untuk mengadakan pernikahan kedua Papa" Kedua nya saling menatap, Mario dengan mata berkaca-kaca. Dan Gunawan dengan mata merahnya, sendu dan tak berdaya.
Mario berdiri, berniat mengakhiri cerita sedihnya "Duduklah, Papa akan menjadi pendengarmu kali ini" Suara lembut itu kembali. Bahkan kaki yang hendak melangkah pun tak mampu lagi bergerak, ia luluh hanya dengan mendengar suara itu lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Radar
Ficção AdolescenteKu kira kau datang menggoreskan sebuah warna, tapi aku terlena. Yang kau gores bukanlah warna yang indah tapi luka yang tak berdarah Jika aku diberi satu permintaan. Aku akan meminta untuk tak terlahir di dunia. Tapi nyatanya tak ada tawaran permin...
