Pagi pagi sekali Alleta pulang untuk mandi dan bersiap pergi ke sekolah. Lio masih di rumah bersama Tian. Saat tengah malam Tian pulang dari kantornya.
Alleta mengemas buku bukunya dan menatap sebuah Novel di atas meja belajarnya. Itu adalah Novel terakhir yang ia beli dan belum sempat ia baca.
Alleta mengambilnya dan memasukanya ke dalam tasnya. Akhir akhir ini banyak sekali masalah hingga Alleta tak bisa memenuhi hobinya sebagai pembaca itu.
Kutu buku julukanya sudah tak terlihat beberapa hari ini. Masalah datang membuat dia tak sempat memegang Novel satu pun bahkan biasanya dia membeli dua buah Novel setiap minggunya tapi ini, belum satu pun Novel yang ia beli sejak ada masalah dengan Novel.
"Udah semua ya?" Monolog Alleta sambil melihat isi tasnya.
Dia sudah membawa papan ujian dan beberapa buku pelajaranya. Hari ini akan ada rapat osis dan pastinya Alleta akan mencatat semua yang di sampaikan oleh guru pembimbing.
Sudah lama SMA Garuda tak mengadakan rapat osis. Biasanya setelah upacara bendera di hari senin selaly mengadakan rapat osis tapi akhir akhir ini tidak ada.
Serasa semua sudah terbawa. Alleta membawa tasnya turun ke bawah dan menaruhnya di kursi meja makan. Alleta akan membuat susu cokelat kesukaanya dan makan roti.
Hanya itu yang bisa Alleta buat pagi ini. Tak ada yang bisa ia buat lagi selain susu dan roti. Jikapun ia ingin makan makanan yang lain, Alleta hanya bisa membuat telur goreng, nasi goreng, mie rebus ataupun goreng, dan sup. Untuk tempe dan tahu ia bisa membuatnya tapi untuk rasa tidak usah di fikir lagi, pasti tidak enak karena Alleta selalu saja kurang tepat memberi bumbunya.
•••
Alleta berjalan sendiri di koridor. Lio tak masuk hari ini, dia masih belum bisa melupakan kejadian kemarin. Jadi wajar saja.
Alleta membulatkan matanya ketika melihat Sandi sedang berjalan dari ujung koridor sana. Alleta langsung melangkahkan kakinya ke tangga dan menaikinya satu per satu dengan cepat berharap Sandi tak melihatnya.
Alleta langsung berlari di koridor atas, tak peduli siapa saja yang ia senggol atau pun ia tabrak. Tujuanya hanya kelasnya sekarang. Ia ingin cepat cepat sampai di kelas.
Lagi pula kenapa bisa Sandi sekolah di sini. Masih banyak sekolah yang mau menerimanya. Dan kenapa harus di pertemukan lagi dengan Alleta.
Saat sampai di depan kelas, Alleta melihat ke arah tangga dan tak ada Sandi. Itu artinya Sandi tak melihatnya tadi. Alleta berlari seperti sedang di kejar warga karena tertangkap basah sedang maling.
"tu orang minggat aja sih ngapain juga kembali lagi" Ucap Alleta sebal karena setiap hari melihat Sandi.
Alleta masuk ke dalam kelasnya dan melihat hanya ada beberapa siswa saja yang di dalam. Maklum aja baru jam setengah tujuh pagi. Biasanya pada berangkat jam tujuh kurang sepuluh menit kalau tidak kurang lima belas menitan.
"ta Alleta!!!" Panggil Fazriel, teman Alleta di anggota osis.
"Zriel? ada apa?" tanya Alleta sambil menaikan satu alisnya.
Fazriel menarik nafasnya dan tersenyum sekilas. "Itu! Lo di panggil Pak Agus. Katanya ada hal yang mau di sampein sebelum rapat" Ucap Fazriel menyampaikan.
"Iya gue ke sana sekarang" Ucap Alleta, dia hanya menoleh ke dalam kelasnya dan melangkahkan kakinya pergi dari depan kelasnya bersama dengan Fazriel.
Tak ada pembicaraan setelah mereka berdua meninggalkan kelas Alleta. Sebenarnya ada hal yang ingin sekali Fazriel tanyakan pada Alleta tapi ia sedikit ragu. "emm.. ta gue boleh nanya sesuatu gak?" tanya Fazriel dengan ragu. "iya boleh, emang lo mau nanya apa an?" tanya Alleta dengan senang.
"lo beneran udah jadian sama Novel?" tanya Fazriel.
Alleta hampir tersentak dengan pertanyaan Fazriel tapi apa peduli, dia harus mengatakan iya supaya drama ini berjalan lancar tanpa hambatan.
"oh itu... iya, gue udah jadian sama Novel" Jawab Alleta bohong.
Wajah Fazriel tampak biasa saja, hanya ada wajah galau yang sedikit terlihat. Wajar saja jika Fazriel cemburu. Seluruh siswa sekolah ini tau jika Fazriel pernah menyukai Alleta tapi Alleta hanya menganggap Fazriel hanya sahabatnya.
Dan semua kaum Adam di sekolah ini juga mempunyai perasaan yang sama terhadap Alleta. Gadis itu baik dan manis membuat banyak yang menykai dirinya dan sifatnya.
"selamat ya. Semoga hubungan kalian baik baik aja sampe kapan pun" Ucap Fazriel dengan senyum yang sedikit ia paksakan.
"iya makasih" Ucap Alleta dengan mudah.
Nggak akan baik selamanya dan sampe kapan pun. Gue sama Novel hanya pacaran pura pura kali zriel. Ucap Alleta dalam batinan nya.
Alleta harus apa lagi sekarang, hanya meneruskan drama ini supaya Sandi mengerti. Alleta memang tak masalah jika Sandi menyukainya atau mencintainya, karna itu hak dia. Tapi Alleta tidak suka jika Sandi terus mendekati Alleta.
Alleta tidak mau bahagia dengan orang yang sudah menghancurkan hidupnya itu. Papa dan mamanya bercerai bahkan sekarang mereka tidak menemui Alleta walau hanya satu detik saja. Membuat Alleta tak bisa melihat kakaknya lagi.
Tak lama Alleta sampai di ruangan Pak Agus. Dia masuk dan Fazriel pergi untuk ke ruang osis. Jam pertama dan kedua akan diadakan rapat osis dan jam ketiga di gunakan untuk bimbingan wali kelas mengenai hasil rapat osis dan guru pembimbing itu.
"permisi, ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Alleta.
"Iya. Tolong nanti kamu sampaikan ini di rapat. Saya akan sedikit terlambat di rapat karna saya mau mengantar istri saya ke rumah sakit dulu" Ucap Pak Agus sambil memberikan selembar kertas berisi beberapa paragraf tulisan.
"baik pak. Semoga istri Pak Agus lekas sembuh" Ucap Alleta.
Pak Agus mengernyitkan dahinya. Ia tak mengerti dengan ucapan Alleta, apa arti lekas sembuh karena istrinya tidak sakit.
"istri saya tidak sakit. Saya mau ngantar istri saya ke rumah sakit karna istri saya mau jenguk temenya yang sakit" Ucap Pak Agus.
Alleta mengunci bibirnya, dia malu karna salah kata dan arti. "Maaf pak. Emm semoga temen istri Pak Agus cepat sembuh" Ucap Alleta gelisah menahan malu.
Pak Agus tersenyum melihat ekspresi Alleta saat ini. "Iya makasih Alleta" Ucap Pak Agus.
Alleta menganggukan kepalanya pelan. "Emm saya permisi dulu pak" Ucap Alleta.
"iya iya silahkan. Terima kasih Alleta" Ucap Pak Agus dan dibalas anggukan manis oleh Alleta.
Alleta melangkahkan kakinya menuju pintu dan membukanya. Gadis itu keluar dari ruangan kepala sekolah dan berjalan di koridor untuk menuju ruang osis.
Alleta membaca sedikit tulisan di kertas yang ia bawa itu. Semuanya tentang tata tertib dan peraturan sekolah. Di bawahnya terdapat hukuman yang di berikan apa bila ada pelanggaran.
•••Novelleta#23•••
Jejak Vote ya
Feedback boleh kok:) dm aja
•14 MEI 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
NOVELLETA | Novel is my Life [END]
Ficção AdolescenteNovelleta [COMPLETED] Typo bertebaran [Belum direvisi] start : 21 APRIL 2020 finish : 20 MEI 2020 •Alleta Sastra Maharani •Raka Brama Noveltino Bagaimana jika seseorang di dalam kehidupan skenario hadir di dalam hidup kita. Bagaimana jika sikap bu...
![NOVELLETA | Novel is my Life [END]](https://img.wattpad.com/cover/221707920-64-k961695.jpg)