"Kadang cinta diuji di ambang kehilangan. Tapi saat cinta itu tulus, satu detak saja bisa menghidupkan harapan yang nyaris padam." 🕊️
~
Di rumah keluarga Durga Prasad.
“Nah, akhirnya Pak Penghulu datang,” ucap Sujata dengan lega.
“Maaf saya telat,” kata penghulu dengan sedikit membungkuk sopan.
“Tak apa. Ayo, kita mulai saja,” sahut Ram singkat.
Penghulu duduk di depan Sanskar dan Tina, bersiap memulai prosesi akad.
“Ayo, Sanskar,” ujar Sujata sambil menyentuh bahu putranya.
Namun, sejak tadi Sanskar hanya diam dan melamun. Tatapannya kosong, pikirannya melayang entah ke mana.
“Ada apa dengan Sanskar?” bisik Annapurna cemas.
“Aku juga tidak tahu,” Sujata membalas pelan, memandang anaknya dengan curiga.
“Sanskar, ayo,” Tina mencoba menyemangati, menggenggam tangan calon suaminya.
Sanskar tersentak pelan, lalu buru-buru berkata, “A-aku... i-izin ke kamar mandi dulu, ya. Sebentar saja.”
Sujata dan Tina saling pandang, namun mengangguk. “Baiklah, jangan lama-lama ya,” kata Sujata.
Sanskar berjalan cepat menuju kamar mandi. Sesampainya di sana, ia berdiri di depan wastafel, menatap pantulan dirinya di cermin.
“Ada apa ini? Kenapa aku merasa... ragu seperti ini?” gumamnya lirih, wajahnya penuh kebimbangan.
Ingatan akan pertemuannya dengan Swara kemarin kembali menguasai pikirannya.
“Apa Swara baik-baik saja sekarang?” ucapnya dalam hati, penuh kekhawatiran.
Namun, ia mencoba menepis perasaannya. “Swara pasti baik-baik saja. Bukankah... Laksh, orang yang ia cintai, ada di sisinya?”
Tapi entah kenapa, kata-kata itu justru semakin mengoyak hatinya sendiri.
---
Sementara itu, di rumah keluarga Shekar.
“Shekar, kau di mana? Akad pernikahannya mau dimulai!” suara Parvati terdengar panik di ujung telepon.
“Iya, Bu. Sebentar lagi aku berangkat,” jawab Shekar, yang sedang bersiap-siap di kamar.
“Dari mana saja kau ini? Kenapa bisa telat?” tegur Parvati.
“Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan dulu, Bu.”
“Yasudah, cepat berangkat!” Parvati memutus panggilan tanpa menunggu jawaban.
Shekar menghela napas, lalu menatap ke sekeliling kamar. “Cincinnya di mana ya?” gumamnya sambil mencari-cari.
Ia masuk ke ruang tamu dan membuka salah satu laci meja.
“Nah, ini dia,” katanya lega, mengambil cincin itu dan memakainya. Namun, matanya tertumbuk pada sebuah amplop putih dari rumah sakit yang terselip di dalam laci.
“Ini surat apa?” tanyanya penasaran. Ia membuka amplop tersebut dan membaca isi surat yang tertulis di dalamnya.
“Hasil tes DNA...?”
Semakin dibaca, semakin lemas tubuh Shekar. Tangannya bergetar.
“Ja-jadi benar... Swara hamil anak Sanskar?”
KAMU SEDANG MEMBACA
PERJODOHAN💔
FanfictionBagaimana rasanya jika setelah satu tahun menjalin hubungan, orang yang kita cintai justru menikah dengan orang lain? Sakit, bukan? Bagaimana rasanya merayakan hari jadi yang pertama, lalu mendengar bahwa pasangan kita akan dijodohkan dengan orang l...
