Part 2

467 18 2
                                        

🍁 Dilain tempat 🍁

Tepatnya, di kota besar Benua Eropa. Telah terjadi pertempuran besar, dari sesama Kelompok MAFIA. 

Suara tembakan terdengar dimana-mana, namun tidak ada yang mau berhenti sebelum ada pemenangnya.

Lima belas menit kemudian, Kelompok MAFIA BLACK WINGS. Memenangkan pertempuran itu, dengan munculnya Ketua dari mereka.

Sosok itu begitu tampan, namun terlihat kejam serta sadis. Dia tidak pernah memberi ampun, bagi siapa saja yang mengusik ketenangannya, Maupun miliknya. Sosok itu mulai berjalan meninggalkan, tempat pertempuran tersebut dengan gaya arogannya.

Dengan pandangan datar dan dingin, terlihat di wajah tampannya sama sekali tidak pernah adanya senyuman. Dia juga selalu menginginkan, dan memenangkan setiap pertempuran saat melawan para musuh-musuhnya.

Dia adalah Juan Alexander, dia selalu bersemangat saat berperang, bahkan sifat Arogan serta sadis-nya sudah terkenal dalam dunia bawah tanah.

Saat dalam perjalanannya, dia selalu di kawal oleh banyaknya bodyguard yang tidak lain adalah anak buahnya. Bodyguar-bodygurd itu sudah sangat terlatih, baik dalam segi bela diri maupun menembak.

Sebelum dia, masuk kedalam mobil lamborgini super mewahnya. Dia berbicara pada tangan kanannya, Robert yang tidak lain adalah orang kepercayaannya.

"Persiapkan, keberangkatanku!" titah juan dingin.

"Baik, Tuan." Jawab Robert, sambil membungkuk hormat.

Juan pun mulai memasuki mobilnya, dia duduk dengan bak seorang raja. Setelah memastikan tuannya telah duduk dengan nyaman, Robert menutup pintu lalu membuka pintu samping kiri mobil dan duduk disebelah supir.

Supir pun melihat dengan hati-hati, setelah memastikan tuannya sudah siap supir pun mulai melajukan mobil yang dikendarainya.

Juan Alexander, adalah anak tunggal dari pasangan, Max Alexander dan Julia Alexander.

Mereka adalah seorang Billioner, yang sangat kaya raya. Mereka sangat menyanyangi putra tunggalnya, apalagi saat keduanya dikaruniai seorang bayi laki-laki keduanya sangat bahagia.

Namun kedua orang tuan Juan, sudah meninggal. Karena dibunuh oleh pembunuh bayaran, yang menginginkan hartanya disaat Juan masih kecil.

Mulai kecil, orang tua Juan. Selalu memenuhi apa yang di inginkan oleh putranya. Apapun yang diinginkan harus Juan dapatkan, maka disaat Juan dewasa seperti sekarang  ini.

Juan menjadi sosok laki-laki yang arogan sekaligus sadis, tidak mengenal ampun bagi yang mengusik miliknya, atau kesenangannya.

Juan Alexander juga, adalah laki-laki yang suka berfoya-foya. Dan suka main perempuan. Namun dibalik itu semua dia tidak pernah merasakan namanya jatuh cinta, pada seseorang pun hingga saat ini.

Ya, meskipun sekarang Juan sudah punya kekasih. Yang sangat cantik, dan dipuja banyak laki-laki. Tetapi dia tidak pernah merasakan jatuh cinta, meskipun pada kekasihnya sendiri.

Juan memperlakukan kekasihnya bagai seorang ratu, dia selalu menuruti semua kemauan kekasihnya. Walaupun sesungguhnya, yang melakukan itu semua adalah para bodyguardnya.

Bukan Juan sendiri, walaupun dia menuruti kemauan kekasihnya, apa pun itu kecuali saat kekasihnya mengajak bercinta. Setiap kekasihnya meminta untuk bercinta dengannya, dia tidak akan pernah mau menurutinya.

Tapi lain halnya saat diluar sana, Juan dengan senang hati bergonta-ganti wanita. Tentunya yang masih virgin, dan itu untuk memenuhi hasratnya. Juan melakukan itu setiap hari dengan wanita yang berbeda.

Karena banyaknya wanita, yang mau melakukan tanpa Juan minta. Para wanita cantik itu, melemparkan dirinya dengan senang hati. Hanya untuk mendapatkan perhatian dan hati dari sang Juan Alexander, yang tampan dan kaya raya siapa yang tidak mau.

***

🍁 Rumah Rani 🍁

Rani tetap memaksakan berangkat bekerja, ia tidak mau bolos kerja meski hujan masih terlihat lebat. Sebab ia ingin, bila saat gajian nanti. Gajinya tetap utuh, itu yang  selalu ada dalam pikiran Rani.

Sebelum berangkat kerja, Rani menyempatkan  sarapan sama Ibunya. Dengan makanan yang  sederhana, namun baginya itu lebih dari cukup.

"Ibu, Rani berangkat kerja dulu, ya? Ibu hati-hati di rumah....Assalamualaikum" Pamit Rani mengingatkan, sambil mencium pipi Ibunya.

"Waalaikum salam... Iya, kamu juga hati-hati, ya. Jangan lupa pakai jaket yang tebal, biar kamu tidak kedinginan, Sayang," nasehat bu Asih, sambil membetulkan letak jaket yang putrinya pakai.

"Iyaaa.... Ibuku, Sayang," jawab Rani, sambil bergegas keluar rumah, dengan menggunakan payung yang lumayan besar. Ia menerobos hujan, menuju halte yang tidak jauh dari rumahnya.

Setiap hari, Rani selalu berjalan kaki menuju halte terdekat. Untuk menunggu kendaraan umum, meskipun kadang ia sedih. Bila setiap ia naik kendaraan umum, selalu banyak orang yang menatapnya dengan pandangan menghina. Ada juga, yang tiba-tiba menyindir karena membuat sesak mobil saja.

Namun Rani tetap diam, ia selalu membesarkan hatinya agar tidak tersulut emosi. Karena mau bagaimana lagi jika tidak naik kendaraan umum, ia harus menggunakan taxi. Ia tidak mau naik taxi, karena pengeluaran uangnya akan banyak dibandingkan naik angkutan umum yang sedikit lebih murah.

Saat Rani tengah asik menunggu kendaraan umum sambil melamun,tanpa sadar ia dikagetkan, dengan suara klapson mobil angkutan umum buru-buru ia naik.

Sesampai ditempat kerja, tepatnya di restoran mewah. Rani langsung berganti baju, lalu memulai aktifitasnya seperti biasa. Walaupun ia gendut, namun ia cukup cekatan, dalam melayani pengunjung restoran.
Setiap Rani melayani pengunjung restoran, ia selalu tersenyum. Karena ia tidak mau, saat orang yang bertemu dengannya dan melihatnya. Akan tambah jelek mengingat ia, yang sangat gendut dan sedikit jerawatan.

Saat jam istirahat kerja, teman sekaligus sahabatnya. Yang bekerja ditempat di tempat yang sama dengannya. Tiba-tiba menelfon, meminta tolong menggantikan sift kerjanya lewat ponsel jadulnya.

'Derrttt!'
📲Talita

"Hallo! Assalamualaikum, Ta. Kenapa menetelfon?" Rani menjawab, telfon sahabatnya

"Waalaikum salam... Maaf mengganggu kamu, Ran. Boleh tidak aku minta sama kamu?? " Talita bicara, ingin meminta tolong.

"Ohh... Iya boleh, ada apa ya? Kenapa kamu, kok tidak masuk kerja," tanya Rani.

"Hmmm... Aku lagi nggak enak badan, nih. Lemes banget, jadi minta izin kerja tadi sama Manager," jawab Talita, dengan suara seraknya.

"Gitu, ya. Bisa kok aku gantiin sif kamu, semoga lekas sehat,ya. Hem,  udahan dulu ya, soalnya mau lanjut kerja lagi, nih," ujar Rani.

"Iya! Maksih, ya," jawab Talita.

Setelah mematikan ponselnya, Rani mulai melakukan pekerjaannya kembali. Dengan cekatan ia bekerja, ia begitu semangat. Apalagi hari ini, ia akan melakukan pekerjaannya, hingga sampai malam.

Ya, hari ini ia akan menggantikan sift sahabatnya yang lagi sakit. Ia pun akan bekerja lebih semangat lagi, dan entah mengapa ia merasa sangat bahagia.

Bagaimana tidak bahagia karena ia berpikir, kalau nanti gajian uangnya akan bertambah. Dengan uang itu ia bisa memenuhi kebutuhannya, serta kebutuhan Ibunya, dan sisa uangnya akan ia tabung.

Bersambung

MAFIA FALL IN LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang