Kavya mematut dirinya di depan cermin, tampak cantik dengan setelan lehenga merah muda dengan motif bunga.
Hari ini Kavya merasa sangat bahagia, tentu saja, Ananya akan bertunangan dengan Abhi. Jika saja tidak ada acara perjodohan, mungkin dirinya yang akan ada disana-bersanding dengan Abhi. Ah tidak, Kavya menepis jauh-jauh fikiran itu. Abhi bukan untuknya. Dia sendiri juga sudah bahagia, bahkan sangat bahagia dengan hidupnya bersama Veer, dan calon anak mereka.
"Ka---vya," panggil Veer-yang malah terhenti dan terpaku di ambang pintu. Melihat betapa cantik istrinya malam ini.
Kavya menoleh,
"Apa?" detik selanjutnya berbalik lagi menatap cermin.
Dengan tatapan masih fukus pada cermin-tepatnya pada Kavya- Veer berjalan perlahan mendekat kesana, lalu memeluk Kavya dari belakang dan membenamkan wajahnya diantara rambut dan leher Kavya.
"Veer, lepas,"
Veer menggeleng, malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Tetap seperti ini," gumamnya.
"Tetap seperti ini apanya? Aku sudah berdandan selama 3 jam, jangan merusaknya," Kavya mendelik sebal pada Veer yang tetap tidak mau bergerak dari posisinya.
"Hanya 5 menit, ku mohon.."
"Lakukan apapun semaumu setelah kita kembali nanti, sekarang lepaskan aku, biarkan aku bersiap sebentar, dan ayo kita berangkat,"
Tapi Veer tidak mempedulikan ucapan Kavya, ia terus memeluk Kavya tanpa mau melepasnya.
"Baiklah, akan ku pasang alarm. Saat alarmnya berbunyi, itu artinya kau harus keluar dari sini," Kavya mengambil ponselnya yang tergeletak di meja rias dan menyetel alarm.
Veer sampai melongo melihatnya, kenapa Kavya jadi aneh begini, haruskah dipasang alarm?
"Sudah," ucap Kavya sambil menaruh lagi ponselnya dimeja rias.
"Ayo mulai!" titahnya.
Veer geleng-geleng kepala dengan aksi Kavya, detik selanjutnya mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Kavya, tepatnya pada bibir mereka,
"Tidak!" teriak Kavya sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
"Kenapa?" tanya Veer bingung.
"Nanti lipstiknya berantakan," kata Kavya menahan tawanya dengan mengeluarkan senyuman manis namun tampak menyebalkan dimata Veer.
"Ya Tuhan," Veer menepuk dahinya.
Veer langsung memeluk Kavya lagi, ya, sebelum waktu 5 menit itu berlalu.
*Kehte hain humko pyaar se India waale*
"Astaga, " Veer terkejut dan melepas pelukannya secara spontan. Dia terkejut dengan nada dering alarm yang disetel Kavya. Lagu India waale!
"Kau bisa keluar, Tuan Veer." kata Kavya ramah sambil tetap tersenyum manis.
Dengan dagunya Kavya mengisyaratkan Veer untuk keluar. Dan Veer menurut walau dengan bibir mengerucut-merajuk.
"Mau ku pukul atau ku cubit bibirmu itu? Cepat keluar, 2 menit lagi aku menyusul!" omel Kavya.
"Maunya kau cium," gumam Veer yang langsung mendapat sisir terbang mendarat tepat ditangannya—dari Kavya.
"Cium saja sisir itu!" balas Kavya sengit.
Veer sampai di depan pintu, tapi segera kembali lagi. Berdiri di dekat Kavya, "Kavya," panggilnya.
Kavya menggeram kesal, lalu berbalik, "ap--"
Bersamaan dengan Kavya menoleh, Veer sengaja menunduk sedikit di dekat Kavya, yang menyebabkan wajah mereka bertabrakan. Lebih tepatnya dibibir, membuat mereka tak sengaja berciuman.
KAMU SEDANG MEMBACA
MUSHKIL PYAAR (End)
Romance----- Sungguh aku tidak percaya, bagaimana aku bisa menikah dengan pria lain jika aku sendiri sudah punya seorang kekasih? Sepenuh hati dan jiwaku hanya untuknya, lalu kenapa hal konyol bernama 'perjodohan' harus datang menghampiriku lalu mengganggu...
