"Tolong tinggalin aku" Chaerin terisak. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Haruskah dia meninggalkan Nathan? Atau bertahan?
Nathan beranjak, kemudian duduk di sebelah Chaerin dan memeluknya
"Aku mohon, tolong jangan pergi. Aku janji bakal berubah Chae"
"KAMU JUGA BILANG GITU WAKTU ITU, TAPI KAMU TERUS ULANGI KESALAHAN KAMU" Chaerin mendorong tubuh Nathan. Membuat dia menatap air mata yang turun dari mata Nathan
Tangannya terulur untuk menghapus air matanya, "jangan nangis kaya gini kalau kamu masih sering ulangin kesalahan kamu. Air mata kamu nggak berguna. Apa dengan air mata kamu, semua kesalahan kamu hilang?" Chaerin menggeleng, "nggak, Nat"
Nathan memegang tangan Chaerin, menciumnya lembut
"Aku benar-benar minta maaf. Tolong, aku mohon sama kamu jangan pergi. Aku janji bakal berubah" Nathan berlutut, memohon pada Chaerin
"Kamu pilih Renjun atau aku?"
"Kamu! Kamu, Seo Chaerin. Cuma kamu yang aku butuhin" Nathan memeluk kaki Chaerin
Chaerin menatap Nathan. Kemudian mengusap rambutnya perlahan
"Aku udah capek, Nat. Aku udah nahan semua ini. Aku butuh orang buat bersandar. Tapi sandaran aku kayanya nggak bisa melakukan tugasnya dengan baik. Aku terima kamu balik bukan semata-mata karena aku butuh orang tua buat anak ini. Aku terima kamu karena aku yakin, kamu tempat berbagi beban. Tapi mungkin aku salah" Chaerin menangkup kedua pipi Nathan
"Kalau kamu memang benar dengan semua ucapan kamu, buktiin Nat. Buktiin kalau kamu pantas aku pertahanin" Chaerin mengusap lembut air mata Nathan
"Aku kasih kamu kesempatan selama ini bukan karena aku pemaaf. Aku cuma nggak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya, tapi nyatanya kamu terlalu memandang aku rendah. Aku benar-benar kehilangan rasa percaya aku buat kamu" Nathan memeluk Chaerin. Selama ini yang dia pikir jika Chaerin memberinya maaf karena itu masalah sepele, tapi ternyata tidak
Yang dia lakukan benar-benar menyakiti Chaerin. Semua perbuatannya menyakiti Chaerin
Dia memang tak pantas untuk Chaerin
"While seeing you like that. I'm not fine, I'm afraid this will end suddenly"
Nathan menatap Chaerin
"Aku takut ini berakhir tiba-tiba. Aku takut kehilangan kamu. Aku takut kamu pergi, Chae" Nathan kembali terisak. Dia takut, sangat takut
"Kamu tahu seberapa hancurnya aku waktu kamu bilang kamu cuma mainin aku?" tanya Chaerin
"Itu hari dimana aku tahu kalau aku hamil. Dan aku mau ngasih tahu kamu. Tapi, lihat raut wajah kamu, aku tahu ada yang nggak beres dengan kita. Kita nggak baik-baik aja" Chaerin tersenyum miris
"Dan dunia aku seketika hancur. Aku cuma mau bilang, nggak masalah kalau kamu nggak mau tanggung jawab, tapi tolong jangan tinggalin aku sendirian. Aku punya ayah, tapi dia sibuk dengan pekerjaannya. Aku punya ibu dan adik, tapi mereka nggak peduli sama aku. Kak Yohan, Haru dan Han nggak selamanya ada buat aku" Chaerin menarik nafasnya
"Aku cuma punya kamu saat itu. Aku cuma mau anak ini nggak ngerasain apa yang aku rasain, tumbuh tanpa orang tua yang sama sayang kita itu nggak enak. Aku cuma mau dia bahagia" lanjut Chaerin. Nathan diam, dia tidak tahu ternyata itu maksud Chaerin memanggilnya waktu itu
"Kamu tendang dia, Nat. Dengan seenaknya kamu tendang perut aku. Aku udah peringatin kamu, kamu malah lanjutin kegiatan kamu itu. Aku tahu mungkin kamu nggak sadar" Chaerin beralih menatap Nathan. Ditatapnya pemuda yang sedang memohon kepadanya
Chaerin bukan tipe orang yang haus permintaan maaf. Tapi sekalinya dia dikecewakan, dia pasti susah memaafkan
"Aku maafin kamu, Nat. Karena aku terlalu cinta sama kamu. Kalau kamu lakuin kesalahan lagi, jangan salahin aku kalau aku pergi" Chaerin memegang lengan Nathan, menyuruhnya untuk bangun
"Aku nggak bakal kasih kesempatan untuk selanjutnya, aku mohon jangan sia-siain kesempatan terakhir kamu" Chaerin memeluk Nathan. Membuat Nathan menangis dan membawa Chaerin kepelukannya
Nathan berjanji, dia tidak akan menyakiti Chaerin lagi
Tugasnya membahagiakan Chaerin, bukan menyakitinya
~tbc~
PUAS LO SEMWA?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.