18. Trauma

127 37 137
                                    

Lupain karena hari itu udah lewat.
Lo boleh sedih, lo boleh nangis tapi jangan pernah menyerah. Menyerah berarti lo kalah sama keadaan
.
.
.

Happy Reading, jangan lupa vote dulu sebelum baca dan terima kasih😘

Pagi telah tiba, hari yang melelahkan telah Sisi lalui kemarin entah bagaimana dengan hari ini. Sisi telah siap sedari tadi dengan seragamnya, sudah menjadi kebiasaan ia berangkat pagi ke sekolahnya.

Setelah sarapan ia berjalan keluar dari rumahnya, namun belum sampai di pintu ia sudah melihat Deni.

"Berangkat sama gue atau sama supir?" Tanya Deni saat Sisi melewatinya.

"Sama Aland." Jawab Sisi singkat dan jelas.

Deni menghela napas mendengar jawaban Sisi. "Itu gak ada di pilihan yang gue ajuin."

Sisi tak menghiraukan ucapan Deni ia terus berjalan ke luar dari rumah, apalagi saat melihat motor Aland di depan rumahnya. Sisi segera menaiki motor Aland lalu motor itu melaju dengan kecepatan sedang menjauh dari rumah Sisi.

Di perjalanan tidak ada percakapan apapun dari keduanya hingga sampai di sekolah. Sisi berjalan berdampingan bersama Aland.

"Gue masuk kelas dulu Land." Pamit Sisi karena letak kelas Aland sedikit jauh dari kelas Sisi.

Setelah memasuki kelasnya yang masih kosong Sisi memilih untuk membaca novel yang baru ia beli. Ditengah fokusnya membaca novel Sisi terkejut dengan kedatangan seseorang yang tiba - tiba memeluknya.

"Sisi lo kemaren kemana?" Tanya Tasya setelah melepas pelukannya.

Sisi menaikkan sebelah alisnya. "Maksud lo?"

"Sisi." Teriak seseorang dari pintu kelas.

"Sisi kemaren lo kemana, kakak lo nyariin sampe ke rumah gue." Ujar Siska.

"Hah?"

"Iya dia juga ke rumah gue kemaren." Ujar Dewi

"Jadi kak Deni ke rumah kalian?" Tanya Sisi yang dibalas anggukan dari mereka bertiga.

"Apa kak Deni nyariin gue kemarin?," batin Sisi.

"Lo kemana kemaren, dia khawatir gitu katanya lo gak pulang dari hari sabtu lo tidur dimana?" Tanya Siska.

"Tanyanya satu satu dong, gue sama Aland kalian tenang aja." Jawab Sisi tersenyum meyakinkan.

Jawaban Sisi membuat mereka terkejut hingga berteriak memenuhi ruang kelas. "APA?"

"Gak usah teriak kali, btw kak Deni tanya apa aja sama kalian terus dapet alamat kalian dari mana?" Kini Sisi yang bertanya pada mereka.

"Katanya dia dapet alamat gue dari adik temennya karena sering liat gue bareng sama lo, terus gue kasi tahu alamat Dewi siapa tahu lo ada di rumah dia." Ujar Siska menjelaskan.

Sisi menganggukkan kepalanya mengerti. "Ya karena lo emang gak ada di rumah gue ya gue kasi tahu alamat Tasya mungkin aja kan lo ke sana." Dewi melanjutkan penjelasan Siska.

"Kita khawatir tahu gak, lagian kenapa lo gak bisa dihubungin?" Tanya Tasya membuat Sisi tak bisa menjawab.

"Terus kak Deni lo lempar kemana Sya?" Tanya Sisi mengalihkan pertanyaan Tasya.

"Lempar lo kira apaan." Sahut Dewi terkekeh.

"Gue cuma kasi tahu kalo Aland deket sama lo, tapi karena gue gak punya alamatnya mungkin dia langsung pulang."

"Lo gak di apa - apain kan sama Aland, kok sampe gak pulang sih lo. Tadi juga gue tanya kenapa gak bisa di hubungi lo gak jawab." Perkataan Tasya membuat Sisi terdiam.

Happiness SeekersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang