Part 3 - Dia makhluk planet

90 14 6
                                        

Jangan lupa tinggalkan jejak guyss. :v


"Nah ketemu," desisku.

Duduk di pojok ruangan, matanya terfokus pada satu titik. Proyektor di depan ruangan yang menunjukkan tempat di setiap sudut SMA Razarda.

Entah dorongan dari mana, kakiku tergerak untuk nyamperin si Hoodie pink. Ada satu hal yang harus ku sampaikan kepadanya. Ucapan terimakasih. Karena ia sudah rela menggendong tubuh mungilku ini ke ruang UKS. Rasa sebalku padanya menguap, ketika Mocca memberitahu bahwa si hoodie pink yang membantuku.

Karena anak baru yang di-Mos duduk di lantai alias lesehan padahal kursi bejibun, dengan susah payah aku mengendap-endap jalan jongkok supaya tidak ketahuan.

"Dikit lagi dikit lagi" kataku. Pegel ternyata jalan seperti ini. Gilaa..

"Hehh, Lo yang di belakang?" Suara dari depan mengagetkanku.

Tanganku secara otomatis menepuk jidat. "Akhh, sial."

"Ngapain hahh?" Ucapnya lagi. Otakku nge-blank untuk cari alasan.

"M--mm, mau ke sana Kak" ucapku menunjuk si hoodie pink.

"Balik ke tempat semula!!" ucapnya tegas. Dengan berat hati, aku melangkahkan kaki ke tempat dimana aku duduk tadinya.

"Oyy, pakek jalan jongkok kayak tadi. Enak aja Lo" sambung seorang anak osis lainnya. Sontak semua yang ada di ruangan menyemburkan tawa mereka.

Aku membulatkan mata sempurna.

"Astagaaaaaa," aku menggerutu. Kesialan menimpaku di hari pertama aku sekolah.

****

"Caaaa, Lo malu-maluin gueee" teriak Mocca begitu sampe dirumah.

"Aneh-aneh aja kelakuan Lo. Baru juga hari pertama" sambungnya lagi.

"Iyaa gimana ya Mo, aku tadi ituuuu mau nyamperin si hoodie pink. Tapi malah ketahuan. Padahal aku tadi udah ngendep-ngendep. Kok bisa ketahuan gitu yaa."

"Astagaaaaaa Micca, kok bisa Lo se bego itu yaa. "

"Lahh aku emang begooo, ga pinter kaya kamoo."

"Nyaut aja Lo. Daahhlaahh, besok jangan cari-cari guee ataupun negur guee. Jangan ngeluarin satu kata punn sampe Mos selesai. Paham ga lo."

" Dihh, jahat banget Moooo, tegaaaaaaa."

"Biarinnn."

***

Matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya. 2 buah jam alarm berbunyi bersamaan. Sengaja semalam sebelum tidur ku setel pengaturannya agar kejadian kemarin tidak terulang.  Gak akan ku biarkan si ketua osis songong itu memaki ku lagi.

Pagi-pagi sekali ku tancapkan motor kesayanganku. Untuk menghemat waktu dan biaya. Aku lebih suka berkendara sendiri dari pada harus naik bus atau taksi.
Mocca? Dia sudah pasti berangkat lebih dulu, tanpa membangunkanku. Kesal sekali aku padanya.

Pandanganku sedikit terhalang oleh kabut pagi. Ehh, Hoodie pink. Itu si Hoodie pink yang kemarin. Terlihat dia berjalan di trotoar jalan. Tidak akan ku lewatkan kesempatan ini. Ku gas motor matic ku tipis untuk mensejajarkan langkahnya.

"Hay" ucapku mencuri pandang kepadanya. Karena aku harus fokus jika tidak ingin mencium aspal dingin ini.

Tidak ada jawaban. Ia terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun kearahku.

"Helloooooo" ucapku sedikit berteriak.

Ia berhenti. Aku pun menghentikan motorku.

"Apa?" Ucapnya dingin. Sedingin udara di pagi hari.

"Mau ke SMA Razarda kan?" Tanyaku.

"Iya" singkat, padat, jelas.

Aku menghela napas pelan. "Sabar Caa, sabar." Aku menyemangati diriku sendiri.

"Mau bareng nggakk? Lagian kita juga searah. Yaaa itung-itung sebagai ucapan terimakasih karena sudah nolongin aku kemarin."

"Ga perlu" ucapnya seraya memasukkan kedua tangannya ke saku Hoodie. Lalu melanjutkan langkah kakinya.

"Aku Micca, kamu?" Ucapku seraya memutar gas pelan.
Hening. Lagi-lagi tidak ada jawaban. Atau mungkin dia alergi ngomong? Apa telinganya yang bermasalah?

"Nama kamu siapa?" Aku kembali mengencangkan suaraku.

Dia menghentikan langkahnya.

"Jangan ganggu gue" matanya langsung menatap tajam ke arahku. Setajam silet.

"LO KENAPA SIHH HAH?" ucapku ngegas. Percuma ku tahan-tahan emosi ku dari tadi kalo ujungnya bakal keluar juga.

"GUE CUMAN MAU BALAS BUDI KARENA LO UDAHH NOLONGIN GUE KEMARIN" sambungku.

"Kalau mau balas budi, stop ganggu gue."

"Gue ganggu? Menawarkan kebaikan Lo bilang ganggu? Sakit Lo."

"Terserah" ucapnya penuh penekanan.

"Heeehh, makhluk uranusss. Tunggu duluu."

"Apalagi?"

"Oke, ini penawaran terakhir. Lo mau ikut gue apa engga?"

"Ga."

Aku menghela napas pelan.

"Oke. Terakhir. Kasih tau nama lo atau nggak Lo bakal gue panggil makhluk uranus. Lo tau? Kalo Uranus adalah planet paling dingin di tata Surya. Sama kaya Lo!! Lo adalaahh cowo teeerrrrdingin yang pernah gue temui. Paham?"

"Terserahh!! Gue ga perduli."

"Hobby banget ngomong terseraahh. Dahlaaahh, capek ngomong sama manusia beku. Sekarangg aku lagi sebell sama kamuu. Tunggu nanti ya, kalo udah ga sebel aku samperin dehhh buat minta maaf yang soal tadi."

"Kamu nanti juga wajib minta maaf sama aku. Titiikk. Ga ada alasan. Ga boleh jawab terserah, ga peduli, atau apalah ituu."

Setelah ngomong panjang kali lebar, aku pergi meninggalkannya. Ku arahkan kaca sepion kepadanya. Meski samar, tapi dia tampak membuat lengkungan di bibirnya.

APAAA?? DIA TERSENYUMMM????

*****

MICCA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang