Part 9 - Challenge

51 4 10
                                        

Jangan lupa like and comment!

Salam luplup dari Micca 💋


"Hai" ucapku menyapanya.

Sedangkan ia hanya memandangku sejenak, tanpa kata. Sepertinya untuk mengeluarkan suara, Dareel membutuhkan tenaga yang sangat besar. Heran deh.

"Reel, jangan gini dong" ucapku entah mempunyai keberanian dari mana.

Dareel menaikkan satu alisnya. Ahh, waktu di kantin aja dia peka. Masa ini enggak sih. Dasar makhluk planet.

"Jangan gini Reel, kamu itu sumpah ya. Ngeseliiinnnnn tingkat dewa. Nyadar ga sih?"

"Reel, jangan diem ajaa donggg" ucapku meninju-ninju lengannya dari samping.

Dareel tetep diam. Sepertinya ia sangat-sangat tidak tertarik untuk membuka mulutnnya. Barang untuk menguap sekalipun. Sesekali tangannya menepis tanganku terus meninju lengannya. Aneh banget ni cowok. Kaku banget kayak kanebo kering. Masak iya, cewek cantik di sebelahnya di cuekin seperti ini.

Aku lebih baik ia mengucapkan sepatah kata seperti biasanya. Dari pada di kacangin kayak gini.

"Dareel ihh, ngomong dong!!! Sariawan? Apa gimanaaa daah?" Ucapku geram.

Pintu lift terbuka. Tanpa ba bi bu, Dareel keluar. Meninggalkanku yang masih tidak percaya dengan apa yang ku alami sekarang ini. Tidak bisa di biarkan. "Awas aja ya Reel, kamuu habis di aku" ucapku menggerutu.

Aku mengikuti langkahnya dari belakang. Terserah mau risih kek, mau apa kek.

"Dareel, kamu mau kemana?" Ucapku dari belakang. Ini bukan rute keluar dari SMA Razarda.

Menoleh saja tidak, apalagi berniat untuk menjawab pertanyaanku. Tunggu, kepalaku mulai panass. Daan sekarang ia mengeluarkan asap.

"DASAR MAKHLUK PLANETT, MAKHLUK URANUS NYASAARRR," Ucapku meledak-ledak. Tidak perduli lagi dengan beberapa pasang mata yang langsung menatap tajam ke arahku. Tak terkecuali Dareel.

Ya, Dareel sepertinya memang harus diginiin. Supaya ia sadar kalau ada manusia lain yang ada di sekitarnya.

Tuh kan, seperti terkena sihir Dareel langsung berjalan kearahku. Mencekal pergelangan tanganku dan membawaku untuk ikut dengannya.

"Mau kemana Reel?" Tanyaku memandangi tangannya yang menggandeng tanganku. Fenomena langka. Kapan lagi di gandeng sama makhluk planet.

"Diem Lo" ucapnya dingin.

Ternyata Dareel membawaku ke rooftop sekolah. Ini pertama kalinya aku kesini.

"Mau Lo apa? Bilang sama gue sekarang" ucapnya melepas pergelangan tanganku.

Ini pertama kalinya juga, Dareel bicara sambil menatap mataku. Sedekat ini. Aduhh, jantung kuuu. Pliss, jangan berulah.

"Kalo aku bilang apa mauku, kamu yakin bisa memenuhi nya?" Ucapku santai.

"Ya, selama itu bisa ngebuat Lo nggak ganggu gue bakal gue penuhi" ucapnya sarkas.

"Okke, kamu mau tau mauku apa?"

Dareel menganggukan kepalanya.

"Aku mau temenan sama kamu." Ucapku. Sebenarnya aku mau terus terang saja kalau aku suka sama Dareel dan jadian dengannya. Tapi, aku nggak mau Dareel makin ilfeel sama aku.

"Impossible."

"Kenapa?"

"Lo mau temenan sama gue?"

"Heumm, seperti yang aku bilang tadi."

"Oke, sebelum itu. Gue mau kita bersaing."

"Apa?"

"Lo dan gue bersaing untuk bisa lolos seleksi pertukaran pelajar ke Kanada tahun depan. Kalo elo yang lolos, gue ngalah. Tapi kalo gue yang lolos, jangan harap Lo  bisa temenan sama gue."

Aku menelan ludah. Mau temenan aja syaratnya sesusah ini, apalagi kalau mau jadi pacar.

"Kalo ga lolos dua-duanya?" Tanyaku.

"Kita liat nanti," ucapnya seraya pergi meninggalkanku yang masih terpaku ditempat.

Dareel lama-lama minta digeprek juga ya. Dia pasti udah tau kemampuan akademik ku jika dilihat dari penempatan kelas. Tapi kenapa dia ngasih syarat yang gak mungkin bisa aku penuhin? Dareel udah membangun tembok raksasa sejak awal. Dan aku nggak mungkin bisa menembusnya dengan cara apapun. Kecuali, kalau dia sendiri yang meruntuhkan temboknya.

"Oke, tantangan diterima." Ucapku. "Aku pasti bisa ngalahin kamu, Reel." Sambungku.

"Tapi, jangan harap habis ini aku bakal ngejauh dari kamu yaa" ucapku tak tau diri. Ahh, memag harga diriku sudah jatuh di depan makhluk planet itu.

Aku melirik form pendaftaran eksul. "Ahh, iyaaa. Lupaaaaa."

"Mana udah lecek beginii."

Aku segera turun dari rooftop. Berjalan cepat menuju ruang ekskul jurnalistik. Semoga masih ada orang disana.

"Ahhh, udah tutup. Yaudahlahh, besok pagi aja" ucapku lesu. Gara-gara makhluk planet itu, aku jadi terlambat menyerahkan form nya.

***

"Mollyyyyyy, Mama muu manaaa nakkkk" ucapku menggendongnya. Sepertinya Mocca belum pulang dari sekolah. Tapi tadi di sekolah, sama sekali aku tidak melihat batang hidungnya.

"Kamu laper yaaa, bentar yaaa. Aku ambilin makan duluu." Ucapku berjalan ke dapur.

Aku menuangkan makanan Molly ke wadahnya.

"Tuhhh, makan yang banyak yaaa, biar tambah gunduttsss."

Molly langsung melahapnya. Sedangkan aku mengamatinya makan, sesekali menggelitik perutnya yang membesar. Selesai makan, aku menggendongnya ke kamar. Lumayan, bermain dengan Molly bisa sedikit melupakan tantangan dari Dareel.

Tak lama, Mocca datang. Langsung mengambil tempat di sebelahku dan Molly.

Ia miris, melihat kucing yang notabene miliknya lebih nyaman dipangkuanku. Sesekali aku menggelitik perutnya yang menggembung. Gemes banget sihh.

"Molly makan banyak Lho Mo tadi" ucapku memberi tahu alasan perut molly menggendut hari ini. Aku beralih menggendongnya, melirik Molly yang sudah tertidur.

"Abis makan tidur, hidup jadi Molly enak yaa" ucapku sembari merebahkan diriku di kasur. Molly tampak bangun, lalu tidur lagi.  Mengingat persyaratan dari Dareel, membuatku frustasi.

"Yaa jadi kucing aja sana" sahut Mocca.

Aku menyemburkan tawa, begitupun dengan Mocca. Ahh, si Moccacinoo satu ini ada-ada aja.

****

Hallooo guys, assalamualaikum. Makasih udah mampir. Jangan lupa vote dan komennya yaa😘
Ps: maapkan typo yang mengganggu penglihatan kalian. Harap maklum.

MICCA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang