Mama menghela napas saat membaca isi raport ku. Terlebih peringkat kelas yang terpampang nyata di sana. 23 dari 35 siswa. Ini bukan pertama kalinya aku melihat ekspresi kecewa Mama. Semester kemarin juga seperti ini. Hanya saja di semester dua ini aku naik satu peringkat. Tapi demi apapun, aku kecewa dengan diriku sendiri. Mama mungkin lebih kecewa daripada aku.
"Nggak papa, Ca. Besok-besok belajar yang lebih giat lagi, ya" ucap Mama membelai rambutku. Mama beranjak dari kamarku. Meninggalkan kekecewaan yang begitu mendalam. Kali ini, Mama gagal menyembunyikan bentuk kekecewaan itu.
Aku akui, memang setiap sore aku selalu belajar dengan Dareel. Tapi, aku tidak benar-benar memperhatikan apa yang disampaikan olehnya. Semuanya terasa sia-sia. Tenaga, waktu, pikiran. Terlebih lagi Dareel. Aku sudah banyak menyita waktunya untukku yang tidak sungguh-sungguh.
Dareel jangan ditanya lagi. Makhluk planet itu mendapat peringkat paralel pertama di kelas sepuluh. Sama seperti semester kemarin. Jika seperti ini, aku yakin, tidak akan pernah bisa menyainginya.
Pupus sudah harapanku. Apa ini kode dari semesta? Si bodoh dan si pintar tidak bisa menyatu?
Langkah awal dari seleksi pertukaran pelajar ke Kanada adalah nilai raport harus 80 ke atas untuk semua mata pelajaran. Sudah pasti aku sudah gagal di tahap awal seleksi. Karena nilaiku hanya beberapa yang 80. Dareel sudah melewati tahapan ini dengan lancar jaya. Tinggal wawancara dengan penyelenggara pertukaran pelajar.
"Kamu bodoh, Ca" ucapku pada diriku sendiri.
"Gitu aja nggak pecus, udah berapa kali kamu ngecewain orang di sekitarmu" lanjutku.
"Seharusnya Dareel bisa jadi motivasi mu untuk maju, Ca. Bukan jalan di tempat kayak gini. Harusnya Dareel bisa jadi pecut buatmu, Caaaa" makiku geram.
Aku menangis tanpa suara. Di balik jendela, sambil memandangi langit yang begitu cerah. Begini saja menyakitkan untukku. Baik tentang kekecewaan, maupun menahan tangis.
"Dasar langit nggak peka! Harusnya kamu mendung. Nggak cerah kayak gini. Kamu juga ikut merasakan kesedihanku juga!" makiku pada langit yang sama sekali tidak ada hubungannya denganku.
Seseorang mungkin mempunyai titik terendahnya masing-masing. Dan kali ini giliranku. Membuat Mama terus menerus kecewa adalah hal yang paling menyedihkan.
Aku rasa, papa di atas sana juga kecewa dengan apa yang terjadi saat ini.
"Pa," ucapku sambil menengadah ke arah langit. Sinar matahari menghalau pandanganku.
"Maafin Micca," aku berkata lirih.
"Kenapa Micca selalu buat Mama kecewa, Pa? Papa juga kecewa ya sama Micca? Micca tau, papa selalu ngawasin Micca dari atas sana. Iya, kan?" aku mulai berceloteh.
"Paa, Micca harus gimana?" aku meringkuk. Menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku.
Mau sampai kapan seperti ini terus? bening terus saja turun. Tidak mau dikendalikan. Biarlah, untuk kali ini aku membiarkannya lolos. Tapi janji, ini bakal menjadi yang terakhir.
****
Seharian ini, aku hanya bergulung di kasur. Cuaca juga mendukungku. Gerimis dari subuh tadi belum reda sama sekali. Wajar saja, bulan ini memang sudah memasuki musim hujan. Masih ada waktu satu Minggu untuk merenung. Sebelum kembali ke dunia sekolah.
Aku menghembuskan napas dengan kasar. Raut muka kecewa Mama masih sangat jelas diingatan. Bagaimana nasibku? Bagaimana tentang kisahku dengan Dareel? Apa iya harus terhenti sekarang? Dareel pasti sudah tidak akan mau bertemu denganku lagi.
Aku memukul-mukul kepalaku sendiri. Semua terasa berat jika terus dipikirkan.
Knop pintu kamar memutar. Aku memang tidak pernah mengunci kamarku. Mama selalu khawatir jika pintu kamar terkunci. Takut terjadi apa-apa. Lagian, penghuni rumah ini perempuan semua, termasuk Molly. Si kucing gembul. Jadi, siapapun bebas masuk.
"Ca," suara Mocca terdengar.
"Hm" aku menggumam pelan.
"Makan dulu" ucapnya mengingatkan.
"Belom laper, Mo" ucapku lirih.
Mocca berdecak. "Dari pagi belum makan lho."
Aku diam tidak menjawab. Sebenarnya cacing di perutku sudah meminta jatahnya. Tapi malas sekali untuk mengunyah makanan.
"Males ngunyah, Mo" ucapku tidak bersemangat.
Mocca menjitak kepalaku.
"Sini gue kunyahin, Lo tinggal telen" ucapnya enteng.
Aku yang membayangkannya tiba-tiba langsung mual.
"Iuuhhh, jorok amat sih, Mo" ucapku menyingkap selimut. Lalu berlari ke kamar mandi.
Mocca tertawa. "Lagian Lo aneh-aneh aja, Ca."
"Gue tunggu di meja makan! Awas kalo tidur lagi, gue kunyahin beneran. Gue paksa sekalian buat lo telen bekas kunyahan gue!" ancamnya.
"MOO, UDAAAHHHH IHH, JIJIKKK" teriakku dari kamar mandi.
Terdengar suara cekikikan dari luar kamar mandi. Siapa lagi kalau bukan Mocca?
Aku menyunggingkan senyumku. Duniaku belum sepenuhnya runtuh. Hanya retak di beberapa bagian. Aku pasti bisa memperbaikinya.
AKU PASTI BISA.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
MICCA [END]
Ficção AdolescenteMicca Lotenna, Gadis mungil yang memiliki kepribadian yang luar biasa. periang, usil, dan ceroboh. Awal masuk SMA, wajar jika ia bertemu dengan teman baru. Yang menarik perhatiannya adalah pria yang selalu memakai hoodie berwarna pink. Dia pendiam...
![MICCA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230271123-64-k804077.jpg)