EKSTRA PART

52 3 0
                                        

Matahari merubah warna langit yang semula biru, menjadi jingga saat kami sampai. Waktu yang pas. Sambil menunggu matahari terbenam, aku dan Dareel duduk di bibir pantai. Damai sekali rasanya, mendengar suara ombak yang bergulung. Kicauan burung yang bersiap menuju sarangnya. Aku memandang makhluk planet di sampingku. Aku masih tidak menyangka, bahwa dia benar-benar jadi milikku.

"Reel," panggilku pelan. Dareel yang fokus melihat ombak menolehkan pandangannya ke arahku. Tatapan tajamnya dulu, berubah menjadi tatapan yang meneduhkan.

"Apa?"

"Kamu jangan kaya senja itu ya" tunjukku pada matahari yang tinggal separo.

"Kenapa emang?"

"Pergi saat aku menatapnya. Kalau senja nya pergi, langit pasti juga berubah, Reel. Yang tadinya warna jingga, jadi warna hitam."

"Dan akhirnya, aku kecewa" sambungku.

Dareel tersenyum. "Senja pergi bukan karena ia ingin, Ca."

Aku menggumam. "Terus?" tanyaku kemudian.

"Ya, senja merasa, kewajibannya untuk hari itu selesai," terangnya memandang senja yang mulai turun.

"Aku suka senja. Tapi nggak suka kalau dia pergi."

"Itu hak Lo, Ca. Mau suka, ataupun nggak suka."

"Janji, ya, Reel. Kamu nggak akan ninggalin aku kayak senja itu. Kalaupun nanti kamu capek, bilang ya. Biar aku coba buat ngilangin rasa capek itu" ucapku lalu menyandarkan kepalaku di pundaknya.

Aku kembali memandang senja yang kian menghilang. Menenggelamkan dirinya. Sayang, keindahan ini hanya sesaat.

"Ca, gue mau ngasih sesuatu" ucapnya sembari merogoh sesuatu di dalam tasnya.

"Apaaa?" tanyaku girang.

"Nih" Dareel menyodorkan sebuah kotak berwarna hitam. Tidak terlalu besar.

"Ini apa?"

"Buka aja."

Perlahan aku membuka kotak itu. Mataku membulat saat melihat isi di dalamnya. Sebuah bingkai berukuran 3x4 R berisi daun maple berwarna orange dan juga kotak kecil berwarna merah maroon.

Aku mengangkat bingkai itu, menelisiknya lebih dalam. Ini apa?

"Kenapa? Nggak suka?" tanya Dareel saat melihat kebingungan ku.

Aku memukul lengannya pelan. "Jangan su'udzon ngapa deh" rajukku.

"Daun maple?" tanyaku.

"Iya."

"Kenapa daun maple?"

"Pas gue lagi jalan di taman, daun maple itu jatuh pas di hadapan gue. Gue tangkap gitu aja. Tau nggak filosofinya?"

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.

"Lo bakal jatuh cinta dan setia sama orang yang jalan sama Lo saat Lo nangkep daun itu."

Aku mengernyitkan dahi. "Jangan muter-muter. Aku nggak paham."

"Pas gue nangkep, yang ada di pikiran gue cuman Elo, Ca. Ya, gue anggap aja, kalo Lo lagi jalan sama gue waktu itu."

"Trus daunya gue bawa pulang ke dorm. Gue simpen."

Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku. Mengembang begitu saja. Tolong, siapa yang ngajari Dareel jadi se-sweet ini? Aku sangat-sangat berterimakasih.

"Reel, aku nggak bisa berkata-kata" ucapku dramatis. Mataku beralih ke kotak yang ada di samping bingkai daun maple.

"Terus ini apa?" sambungku menatap kotak kecil berwarna merah maroon.

"Buka aja" titahnya.

Dengan jantung berdebar, aku membuka kotak itu. Mataku membulat sempurna. Sebuah kalung perak, dengan liontin DAUN GANJA!

"Reel, kamu ngasih aku kalung daun ganja?" ucapku tidak percaya. Karena memang, kalung dengan liontin daun itu sangat mirip dengan daun ganja.

Dareel mendengus kesal. Tatapan tajam itu mengarah lagi ke arahku.

"Ya kali, Ca. Gue jauh-jauh dari benua Amerika bawain kalung ganja. Itu daun maple. Coba bandingin sama daun yang di bingkai" jelasnya kesal.

"Eh, iya" ucapku kemudian nyengir memamerkan gigi putihku.

"Sini, gue pakein" tawarnya.

Aku mematung. Tidak percaya dengan ucapan Dareel. Ahh, kenapa jadi manis seperti ini?

Tanpa persetujuanku, Dareel mengambil kalung itu, dan memasangkannya di leherku.

"Cantik" pujinya.

"Aku apa kalungnya?"

"Pacar gue" ucapnya kemudian mengusap rambutku. Aku tersenyum. Tidak mau berhenti. Mataku memanas, mengingat awal dulu bertemu dengannya. Sikapnya yang seperti suhu di planet Uranus. Sekarang dia benar-benar mencair.

"Pulang yuk, gue capek" ucapnya.

"Makasih hadiahnya" ucapku tulus.

Dareel menatapku hangat, kemudian menganggukan kepalanya.

"Makasih juga Lo udah mau nunggu, dan percaya sama gue."

Dareel berdiri, kemudian mengulurkan tangannya ke arahku. Aku menerima uluran itu, dan berdiri. Melangkah bersama. Beriringan. Menjauh dari senja yang sudah sepenuhnya tenggelam.

"Besok jam berapa?"

"Jam 5 pagi. Lo nggak usah nganter gue."

Aku mengerucutkan bibirku. "Kenapa nggak boleh?" rajukku.

"Iya nggak boleh."

"Kenapa aku bilang?" Ucapku sedikit berteriak.

"Nanti Lo pulangnya sendirian" ucapnya datar.

"Gapapa" ucapku tak kalah datarnya.

Satu Minggu waktu yang sangat singkat. Perasaan baru kemarin Dareel pulang, dan besok dia harus balik lagi ke Kanada. Dia terpilih lagi untuk melanjutkan study nya di sana. Bukan lagi sebagai siswa, melainkan sebagai mahasiswa. Bangga. Sudah pasti iya. Sedih. Bukan main.

Baiklah, aku akan menunggu lagi. Setidaknya 4 tahun paling lama. Tapi, tidak apa. Dia pergi, bukan karena ingin. Tapi ada kewajiban yang harus dipenuhi. Bertanggung jawab dengan apa yang ia pilih.

Kisahku belum usai. Belum jauh dari kata start. Dan semoga, saat sudah berada di dekat kata finish, kita masih melangkah bersama.

*****

Hallo guys, assalamualaikum. Nggak kerasa Micca udah end aja. Terimakasih untuk BWP yang sudah memberikan kesempatan untuk aku berkarya.

Terimakasih juga untuk para readers yang sudah mau baca cerita ini dan stay sampai akhir. Aku yakin masih banyak kekurangan. Tapi, semoga untuk kedepannya bisa lebih baik lagi.

So, guys. Finallyyyyyy Micca End sampe disini. Huhuuu.. sad.

See you In another story. Babayyyy.

MICCA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang